Hunian Hotel di Kalsel Meningkat, BPS Ungkap Data Selama Mei 2026
M.Risman Noor July 12, 2026 09:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID– Sektor pariwisata Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan tren positif. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel mencatat tingkat hunian hotel mengalami peningkatan, seiring bertambahnya jumlah perjalanan wisatawan nusantara menuju banua Lambung Mangkurat.

Kepala BPS Kalsel, Muhammad Mukhanif, mengungkapkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 49,95 persen, naik 0,35 persen, dibandingkan April 2026 yang sebesar 49,60 persen.

"Secara tahunan angka tersebut masih lebih rendah 2,74 persen dibandingkan Mei 2025," ujarnya.

Sementara itu, jelas Mukhanif, hotel nonbintang dan akomodasi lainnya juga mencatat kinerja yang lebih baik. 

Tingkat hunian mencapai 22,65 persen, meningkat 0,88 oersen, dibandingkan April 2026 yang sebesar 21,77 persen.

Secara tahunan, capaian ini juga mengalami kenaikan 0,66 persen. dibandingkan Mei tahun lalu.

Rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel berbintang sedikit mengalami penurunan. Pada Mei 2026, wisatawan rata-rata menginap selama 1,41 malam, turun dari 1,44 malam pada April 2026.

Baca juga: Tanam Padi Bersama Kementrian Pertanian, Bupati HSS Tegaskan Komitmen Perkuat Ketahanan Pangan

Baca juga: Tugu Nol Kilometer Kalsel Bakal Dikelola Dispar, Serah Terima Aset Masih Proses

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, lama menginap masih meningkat tipis sebesar 0,02 persen.

Aktivitas wisatawan nusantara juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup menggembirakan.

BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan yang berasal dari Kalsel mencapai 1.675.141 perjalanan pada Mei 2026.

Angka ini meningkat 5,31 persen dibandingkan April 2026 yang sebanyak 1.590.651 perjalanan.

Sementara itu, diungkapkan Mukhanif, jumlah perjalanan wisatawan nusantara dengan tujuan Kalsel tercatat sebanyak 1.592.938 perjalanan, atau naik 8,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1.471.987 perjalanan.

Peningkatan tingkat hunian hotel dan mobilitas wisatawan ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor pariwisata Kalsel. 
Meski rata-rata lama menginap sedikit menurun, meningkatnya jumlah perjalanan wisatawan menunjukkan aktivitas pariwisata di daerah ini terus bergerak dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. 

Di sisi lain, pemadaman listrik PLN yang terjadi secara bergiliran berdampak bagi dunia usaha perhotelan, yakni peningkatan biaya operasional dalam hal bahan bakar minyak untuk genset.

Pemadaman listrik, contohnya giliran pemadaman listrik di Martapura pukul 09.00-14.00 Wita, pemadaman di jam kerja ini membuat pelaku usaha harus menghidupkan genset sebagai ganti aliran energi listrik.

Dibenarkan Marketing Communication Grand Qin Hotel Banjarbaru, Yudha, tentu ada dampaknya. Selama terjadi pemadaman, operasional hotel harus beralih menggunakan genset agar seluruh layanan kepada tamu tetap berjalan dengan baik.

"Selain itu, terdapat jeda beberapa detik saat proses perpindahan dari listrik PLN ke genset sebelum sistem kembali normal," jelasnya.

Baca juga: Lowongan Kerja PT Sinergi Multi Usaha Penempatan di Site Antang Gunung Meratus Kalsel

Dari sisi operasional, penggunaan genset menyebabkan peningkatan biaya energi karena hotel harus menyediakan dan menggunakan bahan bakar solar.

"Di sisi pelayanan, perpindahan sumber listrik tersebut juga dapat memengaruhi kenyamanan tamu, khususnya tamu yang sedang mengadakan meeting atau aktivitas yang membutuhkan pasokan listrik tanpa jeda," papar Yudha.

Harapan ke depan, pasokan listrik untuk kawasan hotel dapat menjadi salah satu prioritas sehingga pemadaman dapat diminimalkan.

"Dengan pasokan listrik yang lebih stabil, operasional hotel dapat berjalan optimal dan kenyamanan tamu tetap terjaga," katanya. (banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.