TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Bagi banyak mahasiswa, semester akhir identik dengan penyusunan skripsi, menyelesaikan studi, dan mulai menyusun rencana karier. Namun, bagi Halimah Tussadiah, masa-masa itu justru menjadi awal dari perjalanan hidup yang mengubah arah masa depannya.
Perempuan kelahiran Mempawah tersebut memilih mengambil jalan yang berbeda. Di tengah rutinitas perkuliahan yang mulai terasa monoton pada 2018, ia memutuskan keluar dari zona nyaman dan bergabung sebagai relawan di Rumah Zakat Pontianak, Kalimantan Barat.
Keputusan yang awalnya hanya dilandasi rasa ingin mencoba lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai profesi serta latar belakang usia, ternyata menjadi titik awal lahirnya sebuah panggilan hidup.
Delapan tahun berselang, Halimah tidak lagi sekadar menjadi relawan yang membantu di lapangan. Kini ia dipercaya mengemban amanah sebagai Program Leader Rumah Zakat Pontianak, memimpin berbagai program pemberdayaan masyarakat yang menyentuh ribuan penerima manfaat di Kalimantan Barat.
• H-1 Tahun Ajaran Baru, Orang Tua Pilih Belanja Langsung Perlengkapan Sekolah daripada Online
Saat pertama kali bergabung, Halimah mengaku belum memahami secara mendalam dunia filantropi maupun pengelolaan zakat. Berbekal kecintaannya terhadap fotografi yang telah ditekuninya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia mendapat tugas mendokumentasikan berbagai kegiatan sosial Rumah Zakat.
Melalui lensa kameranya, ia merekam proses penyaluran bantuan, aktivitas pemberdayaan masyarakat, hingga berbagai kisah perjuangan para penerima manfaat.
Namun sebuah pengalaman pada awal 2019 mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Kala itu, Halimah mendampingi proses penyaluran bantuan kesehatan di RSUD Soedarso Pontianak kepada seorang pasien tetanus yang dirawat di ruang ICU. Pasien tersebut bekerja sebagai pengumpul sampah dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
"Di siang hari yang terik itu, saudara pasien mengadu kepada kami sambil menangis. Ia menceritakan bahwa anak sang pasien belum makan seharian dan tidak punya susu sama sekali," kenang Halimah.
Momen tersebut menjadi pengalaman emosional yang tak pernah ia lupakan.
"Hati saya tersentuh dan runtuh seketika. Rasanya tak percaya, di sekitar kita masih ada orang yang harus menahan lapar hanya karena tidak memegang uang sepeser pun. Kami langsung bergerak memberikan uang makan untuk keluarga mereka. Di saat itulah, saya berazam di dalam hati untuk terus menjadi bagian dari kebaikan ini, dari sisi manapun saya bisa berkontribusi," ujarnya.
Bertransformasi Menjadi Penggerak Program Sosial
Pengalaman itu menjadi titik balik perjalanan pengabdiannya. Halimah kemudian berkembang dari seorang relawan menjadi amil profesional yang bertanggung jawab merancang, melaksanakan, hingga mengevaluasi berbagai program Rumah Zakat Pontianak.
Sebagai Program Leader, ia mengoordinasikan beragam program di bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, hingga respons kebencanaan. Pengalaman bertahun-tahun berada langsung di lapangan membuatnya memahami kebutuhan masyarakat sekaligus pentingnya perencanaan program yang tepat sasaran.
Menurut Halimah, pengalaman sebagai relawan memberinya bekal yang sangat berharga. Selain memahami proses pelaksanaan program secara menyeluruh, ia juga berhasil membangun jejaring yang kuat bersama pemerintah daerah, komunitas, lembaga pendidikan, relawan, hingga berbagai mitra kolaborasi lainnya.
Ia pun memastikan regenerasi relawan terus berjalan agar semangat berbagi tidak berhenti pada satu generasi.
"Dalam setiap program yang saya pimpin hari ini, saya selalu melibatkan relawan Rumah Zakat Pontianak. Mengapa? Karena regenerasi itu penting. Kami ingin memastikan estafet kebaikan ini tetap terjaga, sekaligus menjadi ladang bagi generasi muda untuk menabung kebaikan bersama," jelasnya.
Menjadikan Perbedaan sebagai Ruang Belajar
Beraktivitas di berbagai wilayah Kalimantan Barat membuat Halimah bertemu dengan masyarakat dari latar belakang budaya, adat, dan karakter yang beragam. Baginya, keberagaman bukanlah tantangan yang harus dihindari, melainkan kesempatan untuk terus belajar memahami manusia.
"Awalnya saya sempat khawatir dengan perbedaan di lapangan. Namun seiring berjalannya waktu, perbedaan justru mengajarkan saya tentang indahnya toleransi dan bagaimana memahami kekhasan dari setiap komunitas," ungkapnya.
Menurutnya, tantangan terbesar di lapangan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga bagaimana menyampaikan kepada masyarakat ketika kuota bantuan yang tersedia terbatas. Dalam kondisi tersebut, ia selalu mengutamakan transparansi, komunikasi yang terbuka, serta koordinasi bersama RT, RW, tokoh masyarakat, dan perangkat wilayah agar bantuan benar-benar diterima oleh mereka yang paling membutuhkan.
• Menikmati Senja di Taman Merdeka Ketapang, Ruang Publik dengan Panorama Sungai Pawan
Menjaga Keseimbangan di Tengah Kesibukan
Hampir satu dekade berkecimpung di dunia sosial tentu membutuhkan ketahanan fisik maupun mental. Halimah menyadari bahwa pekerjaannya tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga emosi. Karena itu, ia memiliki cara tersendiri untuk menjaga keseimbangan hidup agar tetap produktif tanpa mengalami kelelahan berkepanjangan.
Ia menyebutnya sebagai manajemen hati dan waktu.
"Saya menyeimbangkan waktu keluarga dengan memaksimalkan waktu malam yang singkat dan hari Minggu untuk di rumah atau keluar bersama mengunjungi keluarga agar rasa kekeluargaan tetap terjaga. Senin hingga Kamis digunakan untuk pekerjaan di dalam kota, sedangkan jika ada penyaluran luar kota maka akan saya gunakan hari Jumat atau Sabtu. Kunci agar saya tidak mengalami burnout adalah memanajemen hati bahwa keluar dan bertemu banyak orang akan memberi dampak yang baik untuk diri saya dan teman seperjalanan. Poinnya adalah empat hari saya bekerja, dua hari saya me-recharge social life dan satu hari untuk kehangatan bersama keluarga. Alhamdulillah sampai hari ini saya menikmati ritme tersebut dengan harapan sampai ke tujuan akhir yang bahagia," tuturnya.
Bagi Halimah, ukuran keberhasilan lembaga zakat bukanlah besarnya nilai bantuan yang disalurkan, melainkan keberhasilan penerima manfaat untuk bangkit dan mandiri.
Salah satu kisah yang paling membekas baginya adalah perjuangan seorang ibu tunggal di Pontianak yang selama bertahun-tahun berusaha memenuhi kebutuhan dua anaknya melalui sistem bagi hasil dari usaha milik orang lain. Kondisi ekonomi yang sulit membuat penghasilannya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun biaya pendidikan anak-anaknya.
Melalui program pemberdayaan Rumah Zakat, perempuan tersebut memperoleh bantuan modal usaha sekaligus pendampingan secara berkelanjutan.
Perlahan usahanya berkembang, pendapatan meningkat, dan kondisi ekonomi keluarga membaik. Bahkan, anak sulungnya berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dan bersiap melanjutkan ke perguruan tinggi.
"Hasilnya luar biasa. Usaha mikro mandirinya berkembang pesat, pendapatannya membaik, dan kebutuhan keluarga serta sekolah anaknya terpenuhi. Yang paling membuat saya terharu, tahun ini anak pertamanya lulus sekolah dan bersiap masuk perguruan tinggi. Lebih dari itu, status sang ibu kini telah berubah dari mustahik menjadi munfik," kisah Halimah.
Ke depan, Halimah memiliki visi agar Rumah Zakat Pontianak semakin berkembang sebagai mitra kolaboratif lintas sektor dengan melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mengukur dampak program secara lebih efektif.
Di akhir perbincangan, perempuan berusia 30 tahun tersebut menyampaikan pesan kepada generasi muda, khususnya perempuan di Kalimantan Barat, agar tidak ragu mengambil peran dalam menciptakan perubahan sosial.
"Perubahan sosial yang besar selalu dimulai dari kepedulian yang sederhana. Jangan pernah meremehkan potensi diri kita sebagai perempuan. Kita memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi penggerak perubahan, mulai dari keluarga hingga komunitas."
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak menunggu memiliki jabatan atau sumber daya besar sebelum mulai berbuat bagi sesama.
"Tidak perlu menunggu memiliki jabatan tinggi atau sumber daya yang besar untuk mulai berkontribusi. Mulailah dari lingkungan terdekat, peduli pada isu sosial di sekitar, berani mengambil inisiatif, dan jangan pernah berhenti belajar. Kalimantan Barat sangat membutuhkan generasi muda yang tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga memiliki semangat untuk menghadirkan manfaat dan kemandirian bagi sesama," pungkasnya penuh optimisme.
(*)