TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah Kecamatan Mariso menetapkan kebijakan pelaporan kinerja RT/RW menggunakan aplikasi SIMLURAH (Sistem Informasi Manajemen Kelurahan).
Sejumlah RT/RW menilai perubahan sistem tersebut sangat memudahkan mereka.
Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan laporan juga menjadi lebih hemat.
Ketua RT 006 RW 005 Kelurahan Panambungan, Nadiyah Widiyani, mengatakan pelaporan melalui aplikasi tersebut membuatnya lebih cepat menyampaikan informasi kegiatan di lingkungan.
"Lebih mudah dan terorganisir, karena sudah ada item-item indikator kinerja yang kita isi di dalam aplikasi, lalu langsung diunggah di situ," jelasnya kepada Tribun, Minggu (12/7/2026).
Nadiyah telah menggunakan aplikasi SIMLURAH untuk pelaporan kinerja selama Juni.
Menurutnya, sistem pelaporan sebelumnya memakan banyak proses, tenaga, dan biaya.
Dengan sistem berbasis aplikasi, pekerjaan RT/RW menjadi lebih efisien.
"Jadi nda ribet mi lagi buat laporan bulanan print out," ucap arsitek muda tersebut.
Namun, menurut Nadiyah, beberapa RT/RW masih mengalami kesulitan menggunakan aplikasi ini, terutama mereka yang sudah lanjut usia dan belum terbiasa menggunakan gawai.
RT/RW yang mengalami kendala tersebut mendapat pendampingan dari pihak kelurahan saat melakukan pelaporan.
"Ada plus minusnya," ujarnya.
Meski begitu, Nadiyah menilai secara keseluruhan penerapan sistem ini jauh lebih baik dibandingkan pelaporan manual menggunakan dokumen fisik.
"Hanya butuh perbaikan dan penyesuaian saja," katanya.
Sementara itu, Ketua RT 003 RW 002 Kelurahan Kunjung Mae, Rosnah Banda, mengatakan penggunaan aplikasi SIMLURAH jauh lebih hemat dibandingkan membuat laporan dalam bentuk cetak.
Menurutnya, SIMLURAH hanya membutuhkan kuota internet yang relatif kecil, sedangkan laporan fisik harus dicetak dengan biaya yang tidak sedikit.
"Cuma kalau SIMLURAH pakai data, kalau fisik diprint bayar Rp50. Menurutku lebih murah SIMLURAH," ucapnya.
Ia berharap penggunaan sistem SIMLURAH dapat terus dilanjutkan.
Menurutnya, sosialisasi secara berkelanjutan tetap perlu dilakukan agar seluruh RT/RW dapat menggunakannya dengan baik.
"Siapa tahu ada RT/RW yang belum tahu tapi malu-malu bertanya," ucapnya.
Laporan Kinerja
Terdapat persentase capaian kinerja.
"Ada scoring kinerja dalam aplikasi yang menjadi dasar penilaian para lurah untuk diteruskan ke kami dalam penentuan insentif," ujar Andi Syahrir.
Andi Syahrir berharap dengan penerapan laporan berbasis aplikasi ini, laporan kinerja RT/RW dapat lebih cepat dikumpulkan dan lebih cepat pula diproses oleh kelurahan.
Selama ini, pencairan insentif sering terkendala keterlambatan pengumpulan LPJ dan proses di kelurahan yang juga membutuhkan banyak waktu.
Dengan aplikasi ini, pengurus lingkungan tinggal mengunggah dokumentasi kegiatannya melalui ponsel masing-masing.
Mereka dapat memperbarui kinerjanya kapan saja dan di mana saja.
"Kami harapkan kinerja RT/RW tetap dipertahankan dan mencapai predikat baik, karena itu semua terdokumentasi dengan baik melalui aplikasi," ucapnya.
Selain itu, kata Andi Syahrir, penggunaan aplikasi ini juga mengurangi penggunaan kertas dan lebih hemat bagi RT/RW.
Selama ini pelaporan membutuhkan berjilid-jilid berkas dan biaya untuk mencetak dokumen. Kini hal itu tidak diperlukan lagi.
"Mengurangi sampah, sangat efisien," ucapnya.
Andi Syahrir mengungkapkan, pada awal penerapan ini mungkin masih terdapat kendala dalam proses adaptasi terhadap perubahan cara pelaporan.
Namun, ia menilai perubahan ke sistem digital ini jauh lebih memudahkan RT/RW dibandingkan penggunaan sistem pelaporan manual.
"Mau tidak mau kita harus berubah, apalagi ini lebih baik dan memudahkan," ucapnya.
Kecamatan Mariso memiliki 218 RT dan 47 RW, yang tersebar di 9 kelurahan.
Yaitu Kelurahan Bontorannu, Kampung Buyang, Kunjung Mae, Lette, Mario, Mariso, Mattoangin, Panambungan, dan Tamarunang.(*)