Disdikbud Bengkulu Siapkan Retret untuk Siswa Baru SMA dan SMK, Direncanakan 2 Gelombang
Ricky Jenihansen July 12, 2026 10:40 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Bengkulu tengah menyiapkan program retret pelajar bagi siswa baru kelas X SMA dan SMK.

Program yang direncanakan sebagai bagian dari pembentukan karakter tersebut kemungkinan akan dilaksanakan dalam dua gelombang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Zulhendri, mengatakan program retret direncanakan khusus bagi peserta didik baru kelas X.

Saat ini, Disdikbud Provinsi Bengkulu masih menyiapkan konsep pelaksanaan program tersebut.

“Insyaallah akan dilaksanakan khusus untuk siswa kelas X. Saat ini kami sedang menyiapkan konsepnya,” kata Zulhendri saat diwawancarai, Selasa (7/7/2026).

Direncanakan Dua Gelombang

Zulhendri menyebutkan jumlah siswa baru SMA dan SMK di Kota Bengkulu mencapai sekitar 9.000 orang.

Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 5.400 siswa SMA dan sekitar 4.000 siswa SMK.

Karena jumlah peserta cukup banyak, Disdikbud Provinsi Bengkulu masih mengkaji lokasi yang akan digunakan untuk pelaksanaan retret.

Pelaksanaan program tersebut kemungkinan akan dibagi menjadi dua gelombang.

“Kami masih menata tempat pelaksanaannya. Kemungkinan dilaksanakan dalam dua gelombang. Beberapa lokasi masih kami pertimbangkan,” ujar Zulhendri.

Hingga saat ini, lokasi pelaksanaan retret pelajar tersebut masih dalam tahap pertimbangan.

Disdikbud Provinsi Bengkulu juga masih menyiapkan konsep program sebelum pelaksanaannya dilakukan terhadap siswa baru kelas X SMA dan SMK.

MPLS 2026 Usung Konsep Ramah

Selain menyiapkan program retret pelajar, Disdikbud Provinsi Bengkulu memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 mengusung konsep MPLS Ramah.

Konsep tersebut sejalan dengan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Ramah.

Zulhendri menegaskan pelaksanaan MPLS tahun ini tidak lagi membenarkan adanya praktik perpeloncoan maupun tindakan yang mengarah pada kekerasan terhadap peserta didik baru.

“Pelaksanaan MPLS sama dengan SPMB, yaitu mengusung konsep MPLS Ramah. Jadi kami mengarahkan agar tidak ada lagi tindakan kekerasan. MPLS harus ramah terhadap lingkungan, ramah kepada sesama, dan membangun hubungan yang baik antarsiswa,” kata Zulhendri.

Menurutnya, tujuan utama MPLS adalah membantu peserta didik baru saling mengenal dengan teman, guru, maupun lingkungan sekolah sehingga tercipta suasana belajar yang nyaman sejak hari pertama.

Ia juga memastikan kebiasaan meminta siswa baru membawa atribut atau perlengkapan yang tidak relevan, seperti kalung maupun benda-benda unik yang identik dengan perpeloncoan, tidak lagi diterapkan pada tahun ini.

“Untuk tahun ini kemungkinan tidak ada lagi. Hari ini kami akan menggelar rapat untuk menegaskan bahwa MPLS lebih mengarah kepada pendekatan yang humanis. Jangan lagi ada atribut yang membuat siswa terlihat tidak pantas. Semua harus lebih manusiawi,” ujarnya.

Zulhendri mengatakan hasil rapat tersebut nantinya akan disampaikan kepada Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat provinsi untuk diteruskan kepada MKKS kabupaten dan kota agar menjadi pedoman pelaksanaan MPLS di seluruh sekolah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.