Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Ada sebuah ironi yang selalu muncul setiap kali Piala Dunia digelar. Di satu sisi, turnamen sepak bola terbesar di dunia ini menjadi perayaan kemanusiaan yang menghadirkan nilai nilai positif seperti kerja keras, persatuan, sportivitas, dan perjuangan tanpa mengenal batas negara.
Namun, di sisi lain, bersamaan dengan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola, muncul pula fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu berkembangnya budaya judi bola yang mengubah semangat olahraga menjadi ajang mempertaruhkan uang.
Piala Dunia sejatinya bukan hanya tentang 22 pemain yang bertanding di lapangan hijau. Ia merupakan panggung global yang mampu menyatukan jutaan manusia dari berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan bangsa.
Setiap pertandingan menghadirkan kisah perjuangan, strategi, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah.
Akan tetapi, di balik kemeriahan stadion, sorak-sorai pendukung, dan popularitas para pemain, terdapat industri perjudian yang ikut berkembang dengan nilai ekonomi yang sangat besar.
Taruhan olahraga telah menjadi fenomena global yang tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga membawa persoalan sosial.
Ketika pertandingan sepak bola dipandang semata-mata sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan finansial secara cepat, makna olahraga mulai bergeser.
Sepak bola yang seharusnya mengajarkan sportivitas dan penghargaan terhadap proses justru berisiko berubah menjadi sarana mengejar keuntungan instan.
Di Indonesia, perkembangan teknologi digital membuat praktik judi bola semakin mudah ditemukan.
Jika dahulu perjudian lebih sering dilakukan secara tersembunyi dan terbatas pada lingkungan tertentu, kini berbagai bentuk taruhan dapat muncul melalui platform online yang mudah diakses.
Dengan hanya menggunakan telepon pintar dan jaringan internet, seseorang dapat masuk ke dalam dunia perjudian yang menawarkan iming-iming kemenangan besar dalam waktu singkat.
Kemudahan akses inilah yang menjadi tantangan besar bagi masyarakat modern.
Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia meningkatkan kualitas hidup, memperluas pengetahuan, dan membuka berbagai peluang positif.
Namun, tanpa pengendalian diri dan pemahaman yang baik, teknologi juga dapat menjadi jalan masuk menuju perilaku yang merugikan.
Judi sering kali dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil. Sebagian orang mencobanya karena rasa penasaran, mengikuti ajakan teman, atau sekadar ingin merasakan sensasi kemenangan.
Ada pula yang menganggap taruhan sebagai bentuk hiburan ketika menyaksikan pertandingan sepak bola.
Namun, persoalan muncul ketika aktivitas tersebut berubah menjadi kebiasaan dan seseorang mulai bergantung pada harapan mendapatkan keuntungan dari perjudian.
Baca juga: Demam Piala Dunia di Polman: Pesona "Kampung Bola" Pambusuang yang Penuh Warna
Pada kondisi tertentu, perjudian dapat membuat seseorang kehilangan kendali dalam mengambil keputusan.
Ketika mengalami kekalahan, muncul dorongan untuk terus mencoba dengan harapan dapat mengembalikan uang yang hilang.
Siklus inilah yang sering membuat seseorang semakin terjebak. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis, hubungan keluarga, dan kehidupan sosial.
Banyak kasus menunjukkan bahwa dampak perjudian tidak berhenti pada pelaku.
Keluarga dapat menjadi pihak yang ikut menanggung akibat ketika keuangan terganggu, tanggung jawab diabaikan, atau hubungan antaranggota keluarga mengalami konflik.
Karena itu, persoalan judi bukan hanya masalah individu, melainkan juga persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
Dalam perspektif agama Islam, perjudian merupakan perbuatan yang harus dijauhi karena mengandung unsur yang dapat merusak kehidupan manusia.
Islam mengajarkan umatnya untuk memperoleh rezeki melalui usaha yang halal, kerja keras, dan cara cara yang memberikan manfaat serta keberkahan.
Larangan terhadap perjudian bukan hanya berkaitan dengan aturan agama, tetapi juga merupakan bentuk perlindungan agar manusia tidak terjerumus dalam tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Namun, penyampaian pesan tentang bahaya perjudian perlu dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana. Mengingatkan seseorang bukan berarti merendahkan atau menghakimi.
Mengajak berubah bukan berarti memberikan label buruk kepada seseorang. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, dan nasihat yang disampaikan dengan kelembutan akan lebih mudah diterima dibandingkan dengan sikap yang penuh kecaman.
Dalam masyarakat Indonesia yang beragam, upaya menjauhi perjudian juga dapat dipahami sebagai nilai bersama.
Perbedaan agama, budaya, dan latar belakang tidak mengubah kenyataan bahwa perilaku yang merusak keluarga, menghilangkan tanggung jawab, serta merugikan orang lain perlu dihindari.
Membangun masyarakat yang sehat membutuhkan kesadaran bahwa kesejahteraan tidak dapat diperoleh melalui jalan pintas yang penuh risiko.
Momentum Piala Dunia seharusnya menjadi kesempatan untuk mengembalikan makna sejati olahraga. Sepak bola bukan sekadar tentang kemenangan atau kekalahan.
Lebih dari itu, sepak bola mengajarkan disiplin, kerja sama, ketekunan, strategi, dan penghormatan terhadap lawan. Nilai nilai tersebut jauh lebih berharga dibandingkan keuntungan sesaat yang diperoleh melalui taruhan.
Keluarga memiliki peran penting dalam membangun ketahanan moral, khususnya bagi generasi muda yang sangat dekat dengan dunia digital.
Orang tua perlu memberikan pemahaman bahwa tidak semua hal yang tersedia di internet membawa manfaat.
Pendidikan literasi digital harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Selain keluarga, lingkungan sosial juga memiliki tanggung jawab dalam membangun budaya yang sehat. Jangan sampai perjudian dianggap sebagai sesuatu yang biasa hanya karena banyak orang melakukannya.
Normalisasi terhadap judi dapat membuka peluang semakin banyak orang terjebak dalam perilaku yang berisiko.
Baca juga: MPU Sabang Ingatkan Potensi Pelanggaran Syariat Saat Nonton Piala Dunia
Pemerintah dan berbagai pihak terkait juga perlu memperkuat langkah pencegahan terhadap perjudian online. Penegakan hukum memang penting, tetapi edukasi masyarakat tidak kalah penting.
Memberantas judi bukan hanya tentang menutup akses terhadap platform perjudian, melainkan juga membangun kesadaran bahwa perjudian bukan jalan untuk mencapai kesejahteraan.
Pada akhirnya, pilihan berada di tangan setiap individu. Kita dapat menikmati sepak bola sebagai hiburan yang sehat dan penuh inspirasi, atau menjadikannya pintu masuk menuju kebiasaan yang berbahaya.
Piala Dunia seharusnya meninggalkan kenangan tentang pertandingan luar biasa, perjuangan para atlet, dan semangat persatuan, bukan kisah tentang kerugian akibat taruhan.
Mari menjadikan olahraga sebagai sumber inspirasi, bukan alasan untuk terjebak dalam perjudian. Saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Dengan sikap santun, penuh hikmah, dan saling menghargai, kita dapat bersama sama membangun masyarakat yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan bermartabat.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta