Mengintip Ruang Dakwah di Semifinal Piala Dunia 2026, Antara Peluang dan Harapan
Saifullah July 13, 2026 12:03 AM

Oleh: Tgk Mustafa Husen Woyla*)

PIALA Dunia 2026 kini telah memasuki babak semifinal. Tentunya ada sejumlah fakta menarik dari empat negara yang lolos ke partai semifinal itu.

Di antaranya, empat semifinalis Piala Dunia 2026 ini merupakan penghuni peringkat 1-4 FIFA, yaitu Prancis (1.948 poin), Argentina (1.943), Spanyol (1.934), dan Inggris (1.889). 

Fakta lainnya, semua semifinalis pernah juara dunia hingga final, sehingga final nanti pasti mempertemukan mantan juara.

Tapi, sebagai seorang Muslim, ada hal lain yang patut kita dicermati dari perhelatan olahraga terbesar empat tahunan ini.

Bahwa, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga, tapi juga ruang interaksi budaya dan nilai.

Semifinal yang menyedot perhatian miliaran orang bisa menjadi ruang dakwah Islam bila dimaknai dengan bijak.

Ah masak iya? Tanya anak-anak muda. Masak sih, Piala Dunia bisa menjadi ruang dakwah dan syiar Islam? 

Baca juga: Ketika Piala Dunia Menjadi Ladang Taruhan: Menjaga Semangat Sepak Bola dari Jerat Judi Online

Untuk menjawab itu, mari kita bahas pelan-pelan. Jangan lupa siapkan kopi hitam, agar kepala terasa lebih ringan.

Syiar Identitas Islam

Ada teman yang bertanya kepada saya, dari empat semifinalis Piala Dunia 2026 ini, siapa yang Teungku jagokan jadi juara dunia?

Saya jawab bahwa saya tidak menjagokan siapa pun, karena saya tidak terlalu mengerti tentang sepakbola. 

Tapi jika ditanya, siapa yang Anda harapkan menang dan menjadi Juara Dunia 2026?

Maka saya akan menjawab: Di urutan pertama yang saya harapkan adalah Perancis, kedua Spanyol, dan ketiga Inggris.

Bagaimana dengan Argentina? Maka saya akan tanya balik. Apa manfaatnya mendukung Argentina?

Pasti saya akan ditanya balik, apa manfaat mengharapkan Perancis, Spanyol, atau paling minimal Inggris menjadi juara dunia?

Saya akan menjawab, karena di keempat negara ini ada ruang dakwah dan syiar identitas Islam, melalui para pemain di timnas negara-negara itu.

Tak bisa kita pungkiri bahwa, liputan global di ajang Piala Dunia, memberi peluang bagi pemain maupun suporter untuk menyampaikan nilai Islam melalui wawancara, komentar, atau aksi sosial.

Baca juga: Presiden Persiraja Dukung Prancis di Final Piala Dunia 2022: Banyak Pemain Muslim

Pemain Muslim yang tetap menjaga shalat, doa, atau sujud syukur setelah mencetak gol menjadi teladan nyata, dan kerap memengaruhi fansnya hingga ke luar lapangan.

Contoh nyata; pemain seperti Mohamed Salah sering dianggap “dai tanpa mimbar” karena sikap rendah hati dan konsistensi ibadahnya.

Pelatih Mesir juga memakai momentum besar ini dipakai untuk kampanye kemanusiaan, seperti bantuan untuk Palestina atau isu kemiskinan, dengan membawa pesan Islam.

Sayangnya, Mohamed Salah bersama Timnas Mesir harus pulang lebih awal setelah kekalahan kontroversial dari Argentina. 

Lalu, aksi sujud syukur para pemain Maroko setelah mencetak gol, juga menjadi bahan pembicaraan dan menarik perhatian masyarakat dunia.

Banyak dari mereka penasaran dan mencari tahu lebih dalam tentang Islam.

Dari Osman Dembele, Lamine Yamal, hingga Djed Spence

Setelah Mesir dan Maroko, dua negara muslim yang saya harapkan bisa menembus semifinal, gagal di tengah jalan, kini saya berharap ruang dakwah Islam itu, ada pada Timnas Prancis dan Spanyol. 

Prancis, berada di urutan pertama negara Eropa yang paling banyak menyertakan Muslim dalam tim nasionalnya.

Di tengah kerasnya persaingan, para pemain Muslim Prancis tetap membawa identitas dan keyakinannya dengan penuh kebanggaan.

Mereka menunjukkan bahwa profesionalisme di lapangan dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai keimanan.

Setidaknya, ada 7 pilar utama Timnas Prancis yang secara terang-terangan menunjukkan identitasnya sebagai Muslim.

Yakni, Ousmane Dembélé (Bintang PSG yang berposisi sebagai penyerang), Ibrahima Konaté (bek tengah untuk klub La Liga Real Madrid), N'Golo Kanté (mantan bintang Chelsea yang kini bermain untuk Klub Ettihad), William Saliba (bek tengah Arsenal), dan Rayan Cherki (Gelandang serang Manchester City). 

Lalu ada Dayot Upamecano, bek tengah yang menjadi pilar Bayern München ini juga dikenal sebagai muslim yang taat.

Masih dari Bayern Munchen, Michael Olise yang berposisi sebagai penyerang juga dikenal sebagai muslim yang taat.

Dia merupakan warga negara Prancis keturunan Nigeria-Aljazair.

Di luar itu, bintang utama Prancis, Kylian Mbappé yang merupakan keturunan Kamerun-Aljazair, juga kerap dikaitkan dengan Islam, karena ibunya yang berasal dari Aljazair.

Praktis, Timnas Prancis didominasi oleh pemain Muslim, sehingga sangat layak diharapkan menjadi media dakwah Islam di panggung sepakbola dunia.

Mereka bukan hanya menjadi andalan Les Bleus, tetapi juga inspirasi bagi jutaan muslim di seluruh dunia untuk tetap teguh memegang agama di mana pun berada.

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Semoga Allah senantiasa menjaga keimanan mereka, memberikan keberkahan dalam kariernya, dan menjadikan mereka teladan dalam akhlak maupun prestasi.

Sementara di Timnas Spanyol, bintang yang sedang terang-terangnya, yakni Lamine Yamal, tentu menjadi harapan jutaan muslim untuk bisa ikut mengangkat trophy Piala Dunia 2026.

Penyerang muda milik Barcelona ini, bahkan secara terang-terangan menyatakan dukungannya untuk kemerdekaan Palestina. 

Yamal juga secara terbuka menyatakan dirinya seorang Muslim, mewarisi keyakinan dan akar budaya dari ayahnya yang berdarah Maroko.

Sikap yang ditunjukkan Yamal, memberi pengaruh besar bagi para anak muda Spanyol yang kini juga memberikan dukungan besar untuk kemerdekaan Palestina. 

Lalu di Timnas Inggris, Djed Spence yang bermain sebagai bek Tottenham Hotspur, mencatatkan namanya di lembaran sejarah Islam. 

Ia menjadi pemain Muslim pertama yang memperkuat Timnas Inggris di ajang Piala Dunia.

Nama lengkapnya adalah Diop Tehuti Djed-Hotep Spence.

Ia lahir dari ibu yang memiliki keturunan Kenya sedangkan ayahnya berasal dari Jamaika.

Pemain kelahiran Kensington, 9 Agustus 2000 ini mengawali langkahnya di sepak bola dari Akademi Fulham pada 2016 sebelum menembus tim utama Middlesbrough di 2018.

Debut Piala Dunianya dimulai pada laga pembuka Inggris vs Kroasia, Juni 2026.

Ia masuk sebagai pemain pengganti dan hampir mencetak gol. 

Tahun lalu, tepatnya pada 9 September 2025, Djed Spence masuk starting line-up dalam kemenangan Inggris atas Serbia, 5-0, di laga Kualafikasi Piala Dunia 2026 yang digelar di Belgrade.

Itu menjadi momen bersejarah bagi Djed Spence setelah sebelumnya hanya bermain di level timnas U-21.

"Ini berkah dari Allah untuk saya, ini luar biasa. Saya memang pernah membayangkan bahwa saya akan menjadi pemain Muslim pertama yang mewakili di Timnas Inggris," ucapnya kala itu.

"Saya terkejut, sungguh, ini yang pertama kalinya. Ini luar biasa. Saya tidak punya kata-kata untuk mengungkapkannya," kata Djed Spence saat itu.

“Tentu saja, bermain di Timnas Inggris sesuatu yang besar. Pelatih membuat saya nyaman dan semua orang di sini membuat saya nyaman. Saya bangga menjadi pemain Muslim pertama yang bermain di Timnas Inggris," tutur dia.

Sebagai pemeluk Islam yang taat, Djed Spence pun menjalankan kewajibannya seperti berpuasa Ramadhan.

Ange Postecoglou, yang pernah menjadi pelatihnya di Tottenham Hotspur, pernah memberikan pujian kepada Djed Spence karena tetap berpuasa tapi tetap bermain dan berlatih seperti biasanya.

Lalu, bagaimana dengan Argentina?

Bagi saya, Argentina bisa saja akan mencetak sejarah untuk mempertahankan Piala Dunia yang mereka raih pada tahun 2022 di Qatar.

Saat itu, mereka mengalahkan Prancis lewat adu penalti 4–2 setelah skor imbang 3–3 hingga perpanjangan waktu.

Lionel Messi tampil sebagai pemain terbaik dan akhirnya mengangkat trofi yang menjadi gelar ketiga Argentina setelah 1978 dan 1986.

Namun, pertanyaannya, apa untungnya bagi saya selaku seorang Muslim Indonesia mengharapkan Argentina menjadi juara dunia 2026?

Tentu tidak ada hubungan sama sekali.

Kecuali, ada pemain muslim yang bisa menjadi teladan dan media dakwah Islam di Timnas Argentina, maka tentu saya juga akan ikut mendukung Argentina. 

Tapi, selama Argentina belum memiliki pemain muslim, maka belum layak saya harapkan mereka menjadi juara.

Apalagi mengharapkan mereka mengalahkan negara-negara Islam, atau negara-negara yang dihuni pemain muslim, yang bisa menjadi corong syiar Islam. 

Bagi penulis, ruang dakwah di Piala Dunia bukan berarti ceramah di stadion.

Dakwah hadir melalui perilaku, simbol, dan aksi nyata yang menginspirasi jutaan orang.

Dari sujud syukur hingga sikap rendah hati, dari dukungan terhadap Palestina hingga konsistensi ibadah, semua itu adalah syiar Islam yang hidup di tengah gegap gempita sepakbola dunia.

Semoga Allah menjaga keimanan para pemain muslim, memberikan keberkahan dalam karir mereka, dan menjadikan mereka teladan dalam akhlak maupun prestasi.

Akhir kata, mari kita nikmati pesta bola dunia ini dengan gembira.

Tentunya akan lebih baik, jika bisa kita sisipi dengan harapan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

Wallahuaklam bissawab.(*)

*) PENULIS adalah Ketua Umum DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.