Produksi Drone Naik Tiga Kali Lipat, Iran: Kami Telah Hitung dan Pantau Akurat Kelemahan Musuh
Hasiolan Eko P Gultom July 13, 2026 12:38 AM

Produksi Drone Naik Tiga Kali Lipat, Iran: Kami Telah Hitung dan Pantau Cermat Kelemahan Musuh

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran menyatakan kemampuan industri pertahanannya tetap meningkat di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Majid bin Reza, mengatakan produksi rudal dan pesawat nirawak (drone) terus berjalan tanpa henti, bahkan mengalami peningkatan selama masa perang.

Baca juga: IRGC Bombardir Pangkalan Militer AS di Bahrain dan Kuwait Usai AS Gempur 90 Target Militer

Dalam pertemuan bersama Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, bin Reza mengatakan kapasitas produksi drone meningkat hingga tiga kali lipat selama konflik.

"Kelemahan musuh dihitung dan dipantau secara akurat. Kami mengetahui kapan, bagaimana, dan sejauh mana tekanan harus diberikan kepada mereka," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Iran terus meningkatkan kemampuan produksi persenjataan sembari mengevaluasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.

Klaim Soal Teknologi dan Perang

Bin Reza menyinggung dua konflik yang disebutnya sebagai "perang 12 hari" dan "Perang Ramadan".

Menurutnya, dalam dua konflik tersebut Iran menghadapi teknologi militer, sistem informasi, dan operasi perang psikologis yang sangat maju.

Ia mengklaim hasil investigasi Kementerian Pertahanan Iran menunjukkan lebih dari 150 perusahaan teknologi global memberikan dukungan kepada Amerika Serikat dan Israel selama konflik berlangsung.

Pejabat Iran itu juga mengatakan musuh memasuki perang dengan keyakinan dapat menggulingkan Republik Iran, namun upaya tersebut gagal.

Menurutnya, meski sejumlah komandan militer gugur, angkatan bersenjata Iran tetap mampu mempertahankan koordinasi operasi melalui kecepatan pengambilan keputusan, fleksibilitas taktis, dan pemanfaatan teknologi.

Ia menambahkan, konflik justru menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan teknologi pertahanan nasional.

Karena itu, pemerintah Iran menilai peningkatan anggaran pertahanan, pengembangan teknologi strategis, pemanfaatan tenaga ahli, serta percepatan transfer teknologi harus menjadi prioritas.

Selat Hormuz Masih Ditutup

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut tidak ada kapal yang diizinkan melintas selama apa yang mereka sebut sebagai "campur tangan Amerika" di kawasan masih berlangsung.

Garda Revolusi juga memperingatkan akan memberikan respons "keras dan tegas" terhadap setiap serangan baru, termasuk mengancam akan menargetkan pangkalan-pangkalan yang dianggap sebagai milik musuh apabila terjadi eskalasi lanjutan.

IRGC juga mengonfirmasi telah melepaskan tembakan peringatan ke arah sebuah kapal yang disebut menonaktifkan sistem navigasi dan dinilai membahayakan keamanan maritim sebelum akhirnya dihentikan.

Pernyataan tersebut sejalan dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat sebelumnya melancarkan gelombang serangan udara terhadap target-target militer Iran sebagai respons atas insiden terhadap kapal dagang di jalur pelayaran tersebut.

Bantah Laporan Pembukaan Jalur Pelayaran

Sementara itu, sumber resmi Iran membantah laporan media Amerika Serikat, Axios, yang menyebut Teheran dan Oman tengah membahas pengumuman bersama untuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memang telah tiba di Muscat, Oman, dan bertemu Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi.

Media pemerintah Iran menyebut pertemuan tersebut membahas perkembangan terbaru di Selat Hormuz, termasuk pengaturan yang berkaitan dengan keselamatan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Oman selama ini berperan sebagai mediator dalam berbagai komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Laporan Pembicaraan dengan AS Belum Terverifikasi

CBS News dan BBC melaporkan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Utusan Khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner diperkirakan akan memimpin pembicaraan dengan Abbas Araqchi.

Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Reuters juga menyatakan belum memperoleh konfirmasi mengenai waktu maupun mekanisme pertemuan tersebut, termasuk apakah dilakukan secara langsung di Oman atau melalui sambungan virtual.

 

(oln/khbr/fars/axios/*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.