TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum membawa lonjakan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Semarang.
Kunjungan turis asing ke Semarang memang sedikit mengalami kenaikan, tapi hal itu bukan merupakan dampak langsung pelemahan rupiah.
Pelaku walking tour Semarang dari Bersukaria, Fauzan Kautsar mengatakan, hingga pertengahan 2026 pihaknya memang mencatat kenaikan wisatawan asing yang mengikuti tur di Semarang dibanding tahun lalu.
Namun, peningkatan itu dinilai lebih dipengaruhi perluasan pemasaran melalui online travel agent (OTA) internasional, bukan karena rupiah yang melemah.
"Kalau di Semarang memang ada sedikit kenaikan dibanding tahun lalu. Tapi itu kemungkinan karena sejak akhir tahun lalu kami mulai masuk ke OTA internasional sehingga pasar luar negeri mulai terbuka," ujar Fauzan kepada Tribun Jateng, beberapa hari lalu.
Meski demikian, secara keseluruhan jumlah wisatawan asing yang menggunakan layanan Bersukaria di berbagai kota justru menunjukkan tren menurun dibanding tahun sebelumnya.
Fauzan mencontohkan, pada musim liburan Eropa, yang biasanya berlangsung Juli hingga Agustus, jadwal tur tahun-tahun sebelumnya hampir selalu penuh.
Tahun ini justru masih banyak hari yang kosong.
"Kalau tahun-tahun sebelumnya Juli-Agustus hampir enggak ada hari libur karena order terus. Tahun ini masih kelihatan bolong-bolong," katanya.
Menurut Fauzan, pelemahan rupiah juga belum menjadi alasan utama wisatawan asing memilih berlibur ke Indonesia.
Selama mendampingi turis mancanegara, ia mengaku belum pernah mendengar komentar bahwa mereka datang ke Indonesia karena biaya wisata menjadi lebih murah akibat kurs rupiah.
"Belum ada tamu yang bilang datang ke Indonesia karena rupiah lagi melemah sehingga semuanya murah. Belum pernah ada komentar seperti itu," ucapnya.
Ia menilai, wisatawan asing justru lebih sering kebingungan menghitung nilai mata uang rupiah yang memiliki nominal besar.
Fauzan bahkan pernah membantu seorang wisatawan asing yang tanpa sengaja memberikan uang Rp 2.000 kepada porter di stasiun karena mengira nominal tersebut sudah besar.
"Mereka sering bingung karena nolnya banyak. Buat mereka Rp 2.000 terlihat besar, padahal nilainya kecil, saya coba bantu konversikan ke kurs mereka dan mereka kaget," ujarnya.
Belanja wisatawan
Fauzan juga menilai, pelemahan rupiah belum mendorong wisatawan asing berbelanja oleh-oleh dalam jumlah besar di Semarang.
Menurutnya, sebagian besar turis mancanegara hanya membeli makanan atau mencicipi kuliner khas, bukan memborong buah tangan.
"Kalau dibilang jor-joran belanja, saya rasa belum. Mereka memang senang mencoba lumpia, bandeng, atau wingko, tetapi tidak membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang," katanya.
Menurut Fauzan, salah satu penyebabnya adalah sebagian besar oleh-oleh khas Semarang berupa makanan yang tidak tahan lama.
Sementara posisi Semarang dalam perjalanan wisata turis asing umumnya berada di tengah rangkaian destinasi, sehingga mereka khawatir makanan akan rusak sebelum tiba di negara asal.
"Mereka biasanya dari Jakarta lanjut ke Semarang, lalu ke Bromo atau Bali, atau sebaliknya. Kalau beli lumpia atau wingko di Semarang, saat pulang ke negaranya sudah tidak layak. Jadi jarang ada yang beli oleh-oleh makanan dalam jumlah besar. Paling sesekali ada yang membeli batik, tapi itu juga tidak banyak," jelasnya.
Selain faktor nilai tukar, Fauzan menyebut konflik di Timur Tengah justru lebih terasa dampaknya terhadap sektor pariwisata.
Beberapa wisatawan asal Eropa membatalkan perjalanan ke Indonesia karena maskapai membatalkan penerbangan transit melalui kawasan Timur Tengah.
"Ada beberapa tamu yang batal datang karena penerbangannya dibatalkan maskapai. Mereka transit di kawasan Timur Tengah, jadi ikut terdampak," katanya.
Di Bersukaria Tour Semarang, kata Fauzan, tiga negara penyumbang wisatawan terbanyak saat ini berasal dari Belanda, Spanyol, dan Malaysia.
Peluang
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi peluang bagi sektor pariwisata untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Momentum tersebut juga dimanfaatkan Manon Boutique Hotel Semarang untuk memperkuat tingkat okupansi melalui pasar wisatawan asing yang berkunjung ke kawasan Kota Lama.
General Manager Manon Hotel, Lia Retno S mengatakan, Manon sejak awal memang dirancang sebagai hotel butik yang menyasar wisatawan, berbeda dari Mahima Hotel yang lebih berfokus pada tamu korporasi.
Berlokasi di kawasan Kota Lama Semarang, Manon tidak menyediakan fasilitas ruang pertemuan, melainkan mengedepankan pengalaman menginap bagi wisatawan yang ingin menikmati kawasan cagar budaya tersebut.
"Manon memang kami konsep sebagai hotel butik. Fokus kami mengakomodasi wisatawan yang datang ke Kota Lama dengan pengalaman menginap yang berbeda," kata Lia.
Menurutnya, pelemahan rupiah dapat menjadi momentum positif untuk memperkuat okupansi hotel karena biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan asing.
Meski demikian, hingga saat ini pihaknya belum melihat lonjakan signifikan jumlah tamu mancanegara akibat pelemahan kurs rupiah.
"Kalau jumlah tamu asing masih relatif stabil, belum ada kenaikan yang signifikan karena pelemahan rupiah," ujarnya.
Lia mengatakan, daya tarik utama Manon justru berasal dari konsep hotel yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan mancanegara.
Selain berada di jantung kawasan Kota Lama, hotel tersebut juga menyediakan pilihan menu bergaya Barat sehingga lebih nyaman bagi tamu asing.
"Di Manon kami menyediakan menu-menu Western. Itu yang membuat tamu asing merasa lebih nyaman saat menginap," katanya.
Meski belum terjadi lonjakan wisatawan mancanegara, performa Manon tetap melampaui target perusahaan.
Hingga semester pertama 2026, tingkat okupansi hotel telah mencapai sekitar 85 persen, melampaui target awal sebesar 70 persen.
Lia optimistis, apabila tren kunjungan wisatawan ke Kota Lama terus meningkat, ditambah nilai tukar rupiah yang masih kompetitif bagi wisatawan asing, maka peluang peningkatan okupansi dari pasar mancanegara masih terbuka pada semester kedua 2026.
"Target kami tetap menjaga okupansi dengan memperkuat pasar wisata, baik domestik maupun mancanegara. Kota Lama masih menjadi salah satu magnet wisata di Semarang," imbuhnya. (Rezanda Akbar D)