Kata BMKG soal Video Viral Kawasan Ciwidey Bandung yang Berubah Jadi Salju, Sudah Lazim Terjadi?
Tiffany Marantika Dewi July 13, 2026 01:39 PM

TRIBUNWOW.COM – Viral video yang memperlihatkan kawasan perbukitan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, berubah putih bak diselimuti salju viral di media sosial.

Video tersebut diunggah melalui akun Instagram @iyanpauzi pada Sabtu (11/7/2026).

Fenomena itu membuat banyak warganet mengira salju benar-benar turun di wilayah Bandung.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan lapisan putih yang terlihat bukanlah salju.

Lapisan putih tersebut melainkan embun upas atau frost, fenomena alam yang umum terjadi di kawasan dataran tinggi saat puncak musim kemarau.

Dikutip oleh Tribunwow.com melalui TribunStyle.com, Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo, menjelaskan bahwa embun upas muncul ketika suhu udara turun drastis.

"Pada puncak musim kemarau (biasanya periode Juli–Agustus), suhu udara di dataran tinggi Bandung dapat turun drastis hingga mencapai belasan. Udara bahkan bisa mendekati 0°C pada malam hingga dini hari," ujar Edi, pada Minggu (12/7/2026).

Baca juga: Viral Lahan Pribadi sejak 1999 Milik Warga Blora Mendadak Rata, Diduga Jadi Area Tambang

Menurut Edi, embun upas terbentuk ketika embun atau uap air yang menempel di permukaan rumput atau tanah membeku menjadi kristal es tipis akibat suhu yang sangat rendah.

Fenomena tersebut berbeda dengan salju yang terbentuk dari uap air di dalam awan sebelum kemudian jatuh ke permukaan bumi.

Dilansir oleh Kompas.com pada Senin (13/7/2026), menurut BMKG, embun upas merupakan fenomena yang lazim terjadi di kawasan dataran tinggi selama musim kemarau.

"Fenomena ini lazim pada saat musim kemarau seperti sekarang, terutama di dataran tinggi seperti di Ciwidey. Ini juga bisa terjadi di daerah lain, seperti pernah terjadi di Pangalengan," kata Edi.

Selain menjelaskan mengenai embun upas, BMKG juga mengungkap penyebab suhu udara di wilayah Bandung Raya terasa lebih dingin selama musim kemarau.

Menurut Edi, minimnya tutupan awan menjadi faktor utama.

Baca juga: Viral Balap Liar di JLNT Antasari, Ahmad Sahroni: Agar Kapok, Sita Motornya, Penjarakan Pelaku

Pada siang hari, langit yang cerah membuat permukaan bumi menerima radiasi matahari secara maksimal.

Namun saat malam tiba, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas kembali ke atmosfer karena tidak tertahan oleh awan.

Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara turun drastis hingga memicu terbentuknya embun upas.

Selain itu, suhu dingin juga dipengaruhi oleh musim dingin yang sedang berlangsung di Australia.

"Penyebab tambahan mengapa suhu udara menjadi dingin pada musim kemarau adalah karena adanya musim dingin di wilayah Australia," jelas Edi.

Ia menerangkan, tekanan udara tinggi di Australia mendorong massa udara dingin bergerak menuju Indonesia melalui angin monsun Australia.

Menurut BMKG, suhu dingin yang memicu kemunculan embun upas ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus 2026.

Karena itu, masyarakat diminta tidak panik apabila kembali menjumpai fenomena serupa di kawasan dataran tinggi.

Hal tersebut merupakan fenomena yang wajar terjadi terutama untuk wilayah Indonesia di selatan Khatulistiwa.

(TribunWow.com/Peserta Magang Universitas Sebelas Maret/Meyra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.