Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Di ruang guru yang sederhana di SMPN 26 Bengkulu Tengah, Muhammad Yuda tampak serius menulis di selembar kertas saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7/2026).
Tidak ada puluhan teman baru yang duduk di sampingnya. Tahun ajaran 2026/2027, Yuda menjadi satu-satunya siswa baru yang diterima sekolah tersebut.
Meski begitu, ia tidak menjalani hari pertamanya seorang diri. Enam kakak kelas IX dan dua siswa kelas VIII serta satu teman kelas VII yang tinggal kelas, ikut mendampinginya mengikuti setiap rangkaian MPLS.
Para guru pun tetap memberikan materi seperti biasanya, seolah menyambut satu rombongan belajar penuh.
Suasana sekolah memang terasa lebih lengang dibandingkan sekolah lain. Namun semangat para guru dan siswa tidak ikut surut.
Kepala SMPN 26 Bengkulu Tengah, Sosnaidi S.Pd, mengaku kondisi tersebut menjadi kenyataan yang harus diterima setelah seluruh upaya mencari peserta didik baru belum membuahkan hasil.
"Memang tahun ini kami hanya mendapatkan satu orang siswa. Sebenarnya miris sekali, tapi kami sudah berusaha bagaimana bisa mencari siswa," kata Sosnaidi saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Senin (13/7/2026).
Berbagai cara telah ditempuh. Sekolah mendatangi SD terdekat untuk melakukan sosialisasi, menawarkan program seragam sekolah gratis hingga mendatangi rumah calon siswa satu per satu.
"Kami sudah sosialisasi ke SDN 59 yang dekat dengan sekolah. Kami juga membuat program menggratiskan pakaian seragam, bahkan door to door ke rumah anak-anak kelas VI supaya mau masuk ke sini. Cuma hasilnya seperti ini," ujarnya.
Ironisnya, sekitar 20 lulusan SDN 59 yang berada tak jauh dari SMPN 26 tidak satu pun memilih melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.
Satu-satunya siswa baru justru berasal dari luar daerah. Muhammad Yuda merupakan lulusan MI di Lubuk Linggau yang masuk melalui jalur mutasi.
"Kalau bukan anak dari MI Lubuk Linggau masuk ke sini, ya kami tidak dapat murid sama sekali," kata Sosnaidi.
Saat ini SMPN 26 memiliki 10 guru dan tujuh gedung, meski sebagian ruang kelas dipakai sementara oleh SDN 59 Bengkulu Tengah.
Total siswa aktif hanya 10 orang, terdiri dari enam siswa kelas IX, dua siswa kelas VIII, serta dua siswa kelas VII, termasuk satu siswa yang tinggal kelas.
Bagi Sosnaidi, jumlah murid yang minim bukan alasan untuk mengurangi kualitas pembelajaran.
"Walaupun siswa sedikit, pembelajaran setiap hari tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Kami tetap bertahan dan tetap memberikan pelayanan pendidikan," ujarnya.
Di balik semangat itu, tersimpan kegelisahan lain. Ia mengaku khawatir apabila suatu saat Yuda memutuskan pindah sekolah.
"Yang kami cemaskan nanti kalau satu siswa ini berubah pikiran, mengundurkan diri atau pindah sekolah. Itu yang menjadi kekhawatiran kami," tuturnya.
Sosnaidi berharap pelaksanaan SPMB ke depan benar-benar menerapkan aturan jalur domisili secara konsisten sehingga sekolah-sekolah yang berada di wilayahnya tetap memperoleh peserta didik sesuai ketentuan.