TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Pagi itu, Senin (13/7/2026), halaman SDN 5 Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus bukan lagi sekadar tempat upacara bendera.
Ia berubah menjadi panggung dan guru-guru yang biasa berdiri di depan papan tulis kini berdiri di bawah rimbun pohon mangga, wajah mereka disaput bedak putih, bibir merah menyala, mahkota emas bertengger di kepala.
Ada pula guru yang wajahnya disaput bedak hitam gelam dan tubuhnya dipenuhai rumbai-rumbai sampai benar-benar tertutup.
Riasan para guru itu menyamarkan siapa mereka sehari-hari. Dengan penuh energi, para guru itu tampil memukau di hadapan muridnya sendiri.
Mereka tengah mempersembahkan dirinya sepenuhnya demi satu pagi yang tak akan pernah dilupakan anak didiknya.
Di hari pertama masuk sekolah ketika biasanya ketakutan dan air mata mengiringi perpisahan dengan orangtua, sekolah ini memilih jalan lain: menyambut murid baru dengan penampilan wayang orang dengan kisah Petruk Kembar.
Kisah ini menggambarkan Petruk sebagai bagian dari Punakawan ada dua sosok. Yang satu merupakan sosok Petruk palsu.
Sedangkan satunya lagi Petruk yang asli. Di sebuah negeri bernama Eskama (untuk mengganti Amarta), kehidupan di sana sangatlah sejahtera dan mulia. Namun hadirnya sosok Petruk palsu membuat Eskama berantakan. Negeri itu hancur lebur gara-gara ulah Petruk palsu.
Baca juga: Profesi Mentereng Kelakuan Minus, Dokter Dilaporkan Istri ke Polres Blora Gegara Pesan Gadis Michat
“Negeri Eskama ini untuk mengganti Amarta. Eskama ini singkatan dari SD Karangbener lima,” kata Plt Kepala SDN 5 Karangbener, Ninik Hartati, seusai pentas.
Petruk palsu ini pun akhirnya tumbang dengan hadirnya sosok Petruk yang asli. Petruk palsu dikalahkan.
Kekuatannya tak mampu mengimbangi kekuatan sang Petruk asli. Eskama yang semula berantakan, seketika berubah menjadi negeri yang aman damai dan jauh dari malapetaka.
Dalam pementasan tersebut, para guru tidak menggunakan bahasa Jawa kuna antawacana.
Melainkan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Semua demi memudahkan para muridnya memahami jalan cerita berikut makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Di antara siswa baru kelas I yang tampak antusias saat menyaksikan para gurunya pentas yaitu Florensha Elzavir Caliana Arshan.
Tidak sekadar wayang orang yang hanya menjalankan isi cerita, di dalam pementasan para guru juga berimprovisasi dengan mengajak para murid berkomunikasi.
Selain itu, polah dan tingkah para guru ini juga sengaja dibuat lucu. Dengan begitu tawa para murid pecah.
“Seru, lucu, saya suka,” kata Florensha.
Hari pertama masuk SD sama sekali tidak membuat Florensha takut.
Dia merasakan bahwa sekolah ada sesuatu yang menyenangkan. Apalagi dengan adanya pentas wayang orang yang membuatnya gembira. Ditambah, hari pertama masuk dia telah berbaur dengan teman barunya.
“Sudah dapat teman baru,” ujar anak yang kelak bercita-cita sebagai Youtuber gim.
Respons positif pentas wayang orang ini tidak hanya datang dari siswa baru.
Para wali murid yang menunggu anaknya masuk hari pertama juga menilai pementasan tersebut seru dan membuat anak gembira di hari pertama sekolah.
Satu di antara wali murid yaitu Aris Suryawan. Dia menilai pementasan wayang orang dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak merupakan bagian dari edukasi perihal budaya dan kearifan lokal.
Dia yang mengantar anaknya untuk masuk SD di hari pertama merasa sangat terhibur.
“Awalnya saya deg-degan kalau anak rewel, tapi setelah ada pentas wayang anak jadi cair. Dia menikmati pementasan itu. Bisa bergaul bersama teman,” kata Aris.
Pementasan wayang orang di SDN 5 Karangbener ini bukanlah hal yang baru. Menurut Plt Kepala SDN 5 Karangbener, Ninik Hartati, pada tahun-tahun sebelumnya juga pernah digelar pentas serupa.
Pentas wayang orang ini berawal karena sebelumnya para guru di SD ini merupakan seorang niyaga atau penabuh gamelan.
Ditambah salah seorang komite sekolah sebelumnya merupakan seorang dalang.
“Dulu pernah ada ketoprak kecil di SD ini sampai pentas di kabupaten,” kata Ninik.
Pementasan wayang ini bukan sekadar menjalankan isi cerita.
Di dalamnya, kata Ninik, juga disampaikan pesan-pesan untuk menjaga kebersihan, tidak melakukan perundungan, dan disiplin dalam belajar.
Pesan-pesan itu disampaikan menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh siswa. Terutama siswa baru yang jumlahnya ada 25 anak. (Goz)