TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Senyum tak pernah lepas dari wajah Ina Prihati Nur Islami (21) saat menyambut setiap pengunjung yang datang ke Ruang Temoe di Rest Area KM 456 Tol Semarang - Solo, Minggu (12/7/2026).
Bagi difabel asal Ambarawa, Kabupaten Semarang itu, pekerjaannya sebagai pramuniaga bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjadi kesempatan emas yang selama ini sulit ia gapai.
Baca juga: Perangkat Desa di Kendal Divonis 12 Tahun Penjara, Terbukti Bersalah Cabuli Difabel Hingga Hamil
Ina menuturkan, penyandang disabilitas memang masih menghadapi tantangan besar untuk memperoleh pekerjaan.
Karena itu, ia merasa bersyukur dapat bergabung di Ruang Temoe yang memberinya ruang untuk berkarya sekaligus membuktikan bahwa difabel mampu bekerja serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Saya senang Ruang Temoe memberikan peluang besar bagi difabel. Kami bisa membangun kreativitas dan merasa ada kesetaraan. Saya bangga bisa bekerja di sini," ujarnya usai acara peluncuran gerai UMKM Ruang Temoe.
Sehari-hari, Ina bertugas menyambut pengunjung, memperkenalkan berbagai produk UMKM yang dipajang, menjelaskan keunggulan produk, hingga membantu proses penjualan.
Kesempatan ini membuatnya semakin percaya diri dalam menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.
Menurutnya, kehadiran Ruang Temoe bukan hanya menjadi tempat memasarkan produk UMKM, tetapi juga membuka harapan baru bagi rekan-rekan disabilitas lainnya.
"Semoga dengan adanya Ruang Temoe ini saya dan teman-teman difabel bisa lebih diterima masyarakat. Ini ajang bagi kami untuk bekerja dan berkarya seperti orang lain. Semoga ke depan semakin banyak teman-teman difabel yang dibimbing, dibina, dan diberi kesempatan bekerja agar kami bisa setara dan berdaya," tutur Ina penuh harap.
Division Head Sustainability Management Astra Infra, Beny Priyatna Kusumah, mengatakan Ruang Temoe merupakan program implementasi dari Astra 2030 Sustainability Aspirations.
Inisiatif ini menjadi bagian dari program pemberdayaan kewirausahaan yang secara khusus melibatkan penyandang disabilitas dan neurodivergen.
Ruang ini diharapkan menjadi wadah memperkenalkan kreativitas dan kisah inspiratif para pelaku usaha.
"Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nilai tambah melalui berbagai inisiatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami percaya bahwa pemberdayaan masyarakat yang inklusif merupakan bagian penting dalam mewujudkan operasional bisnis yang berkelanjutan," ujar Beny.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang, Istichomah, mengapresiasi kehadiran Ruang Temoe di Rest Area KM 456 yang membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk memasarkan produk sekaligus berkarya.
Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan penyandang disabilitas yang setara dan berdaya.
Berdasarkan data Dinas Sosial, terdapat 4.383 penyandang disabilitas di Kabupaten Semarang. Pihaknya terus mendorong agar para penyandang disabilitas memiliki keterampilan sehingga mandiri secara ekonomi.
"Kami berupaya agar mereka setara dengan yang lain dan memiliki keterampilan sehingga bisa berdaya. Dengan adanya Ruang Temoe, produk-produk hasil karya mereka memiliki tempat untuk dipasarkan. Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Astra Infra," ujarnya.