5 Contoh Cerpen Tentang Libur Sekolah yang Berkesan, Cocok untuk Referensi Tugas dari Guru
Weni Wahyuny July 13, 2026 02:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM -- Mengawal tahun ajaran baru, siswa umumnya akan diminta untuk menyelesaikan tugas berupa menulis Cerita Pendek (Cerpen) dari masa libur sekolah mereka.

Tak perlu memikirkan rangkaian kata agar mendapatkan cerpen terbaik untuk dikumpulkan pada Ibu/Baak Guru, karena Anda bisa menggunakan referensinya di bawah ini.

Kumpulan Cerita Pendek (Cerpen) Moment Libur Sekolah

1. Sahabat Baru dan Sepatu Baru

Hari pertama masuk sekolah selalu terasa mendebarkan, terutama bagiku yang sering merasa cemas di lingkungan baru. Pagi ini, aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil memandangi sepatu hitamku yang masih sangat mengilap. 

Sepatu itu adalah hadiah dari Ayah karena selama liburan semester kemarin, aku rajin membantunya mengecat rumah dan membersihkan halaman tetangga. Sambil menarik napas dalam-dalam, aku mulai melangkah menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki yang berlari terburu-buru tersandung undakan lantai dan jatuh tepat di depanku. Buku-buku dari tasnya yang terbuka berserakan di lantai koridor. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlutut dan membantunya mengumpulkan buku-buku tersebut.

"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku sambil mengulurkan sebuah buku tulis bersampul biru.Anak itu mendongak, meringis kesakitan sambil membersihkan debu di celananya. 

"Ah, aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak ya. Aku takut terlambat di hari pertama ini," jawabnya sambil tersenyum lega.Kami pun berjalan bersama mencari papan pengumuman kelas. 

Betapa terkejutnya kami saat melihat nama kami berdua tertera di daftar kelas yang sama, yaitu Kelas 7-B. Kami pun memutuskan untuk duduk di bangku yang sama di barisan tengah. 

Hari pertama sekolah yang awalnya kutakuti, berubah menjadi hari yang sangat istimewa karena aku berhasil mendapatkan seorang sahabat baru berkat aksi tolong-menolong yang sederhana.

2. Cerita dari Kampung Halaman

Liburan dua minggu kemarin kuhabiskan di rumah Nenek yang terletak di sebuah desa kaki gunung. Udara di sana sangat sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota tempat tinggalku. 

Di desa, aku tidak hanya bersantai, melainkan ikut aktif dalam kegiatan sehari-hari masyarakat setempat. 

Setiap pagi buta, aku diajak sepupuku pergi ke peternakan untuk belajar memerah susu sapi langsung dari peternaknya. Siangnya, kami pergi ke ladang untuk memanen sayuran segar seperti wortel dan kubis. 

Pengalaman langsung bersentuhan dengan alam itu sungguh luar biasa dan tidak akan pernah kulupakan.Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang tersebut. 

Suasana kelas langsung riuh saat Ibu Guru memasuki ruangan dan meminta kami untuk membagikan pengalaman liburan secara bergantian di depan kelas. Beberapa teman bercerita tentang pergi ke mall, bermain game, atau berlibur ke pantai. 

Ketika giliran namaku dipanggil, aku maju ke depan kelas dengan langkah mantap dan penuh percaya diri."Selamat pagi teman-teman, liburan kemarin aku belajar memerah susu sapi di rumah Nenek," ujarku memulai cerita.

Aku menceritakan setiap detail petualanganku di desa dengan penuh semangat, mulai dari dinginnya air gunung hingga keseruan mencabut wortel dari tanah. 

Seluruh teman sekelas mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa ada yang mengobrol. Begitu aku selesai bercerita, ruangan kelas langsung dipenuhi riuh tepuk tangan dari teman-teman dan Ibu Guru. 

Mereka semua tampak takjub dan penasaran, bahkan beberapa di antaranya langsung bertanya bagaimana rasanya memerah susu sapi secara langsung. Aku merasa sangat bangga bisa membagikan cerita yang edukatif ini.

3. Liburan Produktif Membuat Kerajinan

Saat teman-teman lain sibuk merencanakan perjalanan ke luar kota, aku memilih untuk tinggal di rumah selama liburan semester lalu. Namun, aku bertekad agar liburanku tidak terbuang sia-sia hanya dengan rebahan atau bermain ponsel. 

Bersama Kakak, aku mengumpulkan berbagai barang bekas yang ada di gudang rumah, seperti kaleng susu kosong, botol plastik, dan kardus-kardus bekas yang sudah tidak terpakai lagi. 

Kami berdua berniat mengubah barang-barang yang awalnya dianggap sampah tersebut menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Kami membersihkan kaleng-kaleng tersebut, mengecatnya dengan warna-warni yang cerah, lalu melukis motif bunga dan karakter kartun yang lucu di atasnya. Kaleng-kaleng bekas itu pun berubah menjadi pot tanaman unik dan tempat pensil yang sangat cantik. 

Kakak kemudian membantuku memotret hasil karya kami dan mengunggahnya ke toko online. Di luar dugaan, dalam waktu satu minggu, kerajinan tangan buatan kami habis terjual dibeli oleh orang-orang.

Hari ini, saat duduk kembali di bangku kelasku, aku tersenyum sendiri mengingat kesibukan liburan kemarin. Aku membuka dompetku dan melihat lembaran uang hasil penjualanku sendiri yang tertata rapi.

Ketika teman sebangkuku bertanya tentang liburanku, aku dengan bangga menunjukkan foto-foto pot kaleng buatan kami. Aku merasa sangat puas karena hari pertama sekolah ini kumulai dengan perasaan bangga atas produktivitas yang menghasilkan uang jajan tambahan sendiri.

4. Semangat Kelas Baru dan Tantangan Baru

Memasuki gerbang sekolah di hari pertama semester baru ini memicu perasaan yang bercampur aduk di dalam dadaku. 

Ada rasa cemas yang menggelayut karena tahun ini aku resmi naik ke kelas yang lebih tinggi, yang artinya materi pelajaran akan menjadi jauh lebih sulit. 

Selain itu, pembagian kelas acak membuatku harus berpisah dengan teman-teman dekatku dari kelas sebelumnya. Aku berjalan menuju ruang kelas baru dengan langkah yang terasa agak berat dan canggung.

Saat melangkah masuk ke dalam kelas, suasana terasa asing karena sebagian besar murid di ruangan itu adalah wajah-wajah baru yang belum pernah kukenal dekat. 

Aku memilih duduk di pojok belakang dan hanya diam memperhatikan suasana sekitar. 

Namun, aku sadar bahwa aku tidak boleh terus-menerus terkurung dalam rasa canggung ini jika ingin mendapatkan kenyamanan belajar di kelas yang baru.

Saat bel istirahat berbunyi, aku menguatkan hati dan memberanikan diri berjalan menuju meja beberapa teman di barisan tengah. 

"Halo, boleh aku ikut bergabung mengobrol?" tanyaku dengan ramah sambil tersenyum.

Ternyata, sambutan mereka sangat hangat di luar perkiraanku. 

"Eh tentu saja boleh, duduklah di sini!" jawab salah satu dari mereka dengan antusias.
 
Kami pun mulai mengobrol tentang banyak hal, mulai dari tugas-tugas sekolah hingga hobi masing-masing. 

Lewat obrolan singkat di kantin itu, kecemasan yang kurasakan sejak pagi langsung sirna tanpa berbekas, berganti dengan rasa semangat yang membara untuk menghadapi tantangan belajar di kelas baru ini.

5. Menikmati Liburan di Rumah Saja

Bagi sebagian orang, liburan di rumah saja mungkin terdengar sangat membosankan, namun tidak bagiku. 

Selama liburan semester kemarin, orang tuaku sibuk bekerja sehingga kami tidak bisa pergi berlibur ke luar kota seperti keluarga lainnya. 

Meski begitu, aku memutuskan untuk membuat liburanku di rumah tetap seru dan bermakna. Setiap pagi, aku bangun awal untuk membantu Ibu memasak di dapur, belajar memotong sayuran, dan memahami takaran bumbu masakan yang pas. 

Setelah itu, kami bersama-sama merawat tanaman bunga anggrek koleksi Ibu di halaman rumah.Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah, dan suasana kelas langsung dipenuhi dengan cerita pamer liburan. 

Di sudut kelas, sekelompok teman sedang asyik menceritakan keseruan mereka saat pergi berwisata ke wahana permainan air yang besar di kota tetangga. 

Mendengar itu, aku sama sekali tidak merasa minder atau berkecil hati dengan ceritaku yang sederhana.

Saat tiba giliran makan siang bersama di kelas, aku membuka kotak bekalku yang berisi nasi goreng pete buatan sendiri hasil resep dari Ibu selama liburan. 

Aroma harum masakan langsung menyebar ke sekeliling meja."Wah, bekalmu kelihatan enak sekali! Beli di mana?" tanya seorang teman penasaran."Ini buatanku sendiri bersama Ibu selama liburan kemarin," jawabku bangga sembari menawarkan mereka untuk mencicipinya. 

Teman-temanku mencobanya dan memuji rasanya yang sangat lezat. Momen itu membuatku sadar bahwa kebahagiaan liburan tidak diukur dari seberapa jauh kita pergi, melainkan dari kedekatan dan keterampilan baru yang berhasil kita dapatkan.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.