Robot Richie ITS Juara KRAI 2026, Wakili Indonesia ke Hong Kong
Titis Jati Permata July 13, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id, JEMBER – Robot Richie milik Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tampil dominan di laga puncak Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) 2026, setelah lawannya Maestro Evo dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengalami kendala sejak awal pertandingan.

Dalam final yang digelar di Auditorium Universitas Jember, Minggu (12/7/2026) malam, Richie menang telak dengan skor 160-20, sekaligus mengantarkan ITS mempertahankan gelar juara nasional.

Keberhasilan itu membuat ITS kembali membawa pulang piala bergilir Sambhawana Pratimacala, setelah tahun lalu juga menjadi kampiun KRAI.

Berhak Wakili Indonesia

Dengan status juara nasional, ITS berhak mewakili Indonesia pada ajang ABU Robocon Internasional 2026 yang akan berlangsung di Hong Kong pada Agustus mendatang.

Sementara itu, posisi juara kedua diraih tim Maestro Evo dari Universitas Negeri Yogyakarta, sedangkan tuan rumah Universitas Jember melalui tim Lahbako-san finis di posisi ketiga.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Beny Bandanadjaja, berharap tim ITS mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.

"Juara pertama akan mengemban amanah untuk membawa nama Indonesia di Hong Kong. Semoga perjuangan berikutnya mampu membuat Merah Putih berkibar di panggung internasional," ujar Beny.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berhasil lolos ke tingkat nasional. 
Sebanyak 28 tim dari berbagai perguruan tinggi tampil bersaing di Universitas Jember.

Selain itu, Beny mengapresiasi Universitas Jember sebagai tuan rumah penyelenggara KRAI 2026.

Perkembangan Inovasi Robotika

Menurutnya, keberhasilan kompetisi nasional ini menjadi bukti kolaborasi antarlembaga, perguruan tinggi, dan panitia mampu menghadirkan ajang yang bukan hanya melahirkan juara, tetapi juga mempersiapkan generasi yang siap bersaing di level dunia.

Kompetisi KRAI 2026, lanjutnya, kembali menunjukkan perkembangan inovasi robotika Indonesia melalui kreativitas, kolaborasi, dan semangat pantang menyerah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Rektor Universitas Jember Iwan Taruna juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan dedikasi selama mengikuti kompetisi.

Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga karakter para mahasiswa yang menciptakannya.

"Karena yang paling mengesankan bukan robotnya, melainkan orang-orang di balik robot tersebut. Ketekunan, kolaborasi, dan keberanian untuk terus mencoba ketika orang lain memilih berhenti adalah nilai yang sesungguhnya," tuturnya.

Ia menegaskan, KRAI bukan sekadar panggung kompetisi teknologi, melainkan ruang untuk menempa talenta terbaik bangsa.

Menurutnya, seluruh peserta memang datang membawa nama perguruan tinggi masing-masing, tetapi pada akhirnya memiliki satu identitas yang sama, yakni Indonesia.

Keseruan Suporter Lomba

Sejak pagi hingga malam hari, KRAI 2026 berlangsung dalam atmosfer layaknya pertandingan olahraga bergengsi.

Sebanyak 28 tim dari perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia menjalani babak penyisihan, 16 besar, perempat final, semifinal, hingga final.

Masing-masing tim datang bersama suporter yang memenuhi auditorium dengan yel-yel penyemangat. 

Suasana semakin hidup berkat komentator yang memandu jalannya pertandingan dengan gaya khas pertandingan olahraga, bahkan sesekali menyelipkan celetukan mengenai Piala Dunia yang tengah berlangsung.

Operasikan Dua Robot

Mengusung tema "Kung Fu Quest", setiap tim mengoperasikan dua robot, yakni robot manual dan robot otomatis.

Robot manual bertugas memasang tongkat beserta mata tombak untuk mengumpulkan poin awal. 

Setelah itu robot harus memindahkan kotak ke rak bertingkat, di mana semakin tinggi susunan kotak, semakin besar poin yang diperoleh.

Untuk mencapai rak tertinggi dibutuhkan kerja sama kedua robot. 

Robot manual harus mengangkat robot otomatis agar mampu menempatkan kotak di posisi paling atas. 

Dalam waktu yang sama, robot lawan juga dapat menjatuhkan susunan kotak menggunakan tombak yang dibawanya sehingga pertandingan berlangsung dinamis.

Babak final semula diprediksi menjadi duel paling ketat. Selama fase penyisihan hingga semifinal, Maestro Evo UNY tampil impresif dengan menyingkirkan para pesaingnya. 

Di sisi lain, Richie ITS juga melaju mulus tanpa banyak hambatan.

Namun skenario berbeda terjadi saat partai puncak. Robot otomatis Maestro Evo mengalami kendala sejak awal laga sehingga gagal menampilkan performa terbaiknya. 

Kesempatan itu dimanfaatkan Richie ITS untuk mendominasi pertandingan hingga akhirnya memastikan kemenangan telak 160-20.

Kemenangan tersebut bukan hanya mengukuhkan ITS sebagai raja robotika nasional untuk dua tahun beruntun, tetapi juga membuka jalan bagi mereka untuk membawa harapan Indonesia pada ajang ABU Robocon Internasional 2026 di Hong Kong.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.