Kuliner Nasi Sinaworai Khas Minahasa, Cocok Buat Bekal Masuk ke Hutan
GH News July 13, 2026 07:09 PM
Minahasa Tenggara -

Traveler yang hobi menjelajah alam atau trekking masuk ke hutan, di saat bekal makanan sudah menipis, kuliner khas Minahasa Tenggara ini bisa menjadi solusi.

Kuliner tradisional ini dinamakan sinaworai, terbuat dari bahan beras, daun pandan, janur kelapa, daun nasi, daun woka dan daun seho (aren). Daun-daun ini berfungsi sebagai pelapis bagian dalam bambu, sekaligus sebagai pemberi aroma pada nasi.

Sinaworai sepintas mirip dengan nasi jaha, sama-sama dimasak dalam ruas bambu, yang membedakannya adalah kalau nasi jaha menggunakan beras ketan, santan, bawang merah dan jahe. Sedangkan sinoworai tidak.

Ruas bambu berisi bahan nasi jaha biasanya dibakar dengan nyala api terus dijaga, ruas bambu sering diputar selama dibakar agar kematangan merata.

Sinaworai dibuat hanya dengan bahan beras, tanpa bahan campuran lainnya. Beras dimasak dalam ruas bambu, dengan air penuh dan ruas bambu dibakar langsung dekat bara api, tanpa sering diputar.

Bambu berisi beras kemudian dibakar sekitar satu jam hingga aroma harum masakan tercium keluar dari bambu. Api dihasilkan dari pembakaran kayu bakar dan gonofu (sabut kelapa).

Oleh masyarakat Desa Wawali Pasan, Kecamatan Ratahan, sinaworai biasanya dimasak saat beraktivitas di kebun. Kuliner ini sangat praktis, bahan mudah didapat di lingkungan sekitar, hanya garam, beras yang dibawa dari rumah.

Nasi sinaworai paling enak disajikan saat masih hangat, seusai dibakar, disajikan dengan sayur pakis dan sambal dabu-dabu iris. Sayur pakis beserta rempah-rempah daun dimasak dalam bambu.

Sinaworai yang dimasak dalam bambu, dibungkus dalam daun kelapa muda memiliki aroma khas yang harum dan menggugah selera. Perebusan ini membuat sari pati dan getah daun kelapa muda meresap, sehingga memberikan cita rasa gurih yang unik serta tekstur yang lebih pulen pada nasi.

Memasak dengan bambu bukan sekadar tradisi, tetapi saat dipanaskan di atas bara, bambu menjaga kelembaban, menyebarkan panas secara perlahan, dan melindungi makanan dari api langsung.

Hasilnya, makanan matang lebih merata, tetap juicy, dan menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru oleh peralatan modern. Daun kelapa muda mengeluarkan aroma wangi dedaunan segar saat direbus dalam waktu lama.

Getah dari daun kelapa muda menghasilkan sedikit rasa gurih alami yang menyatu sempurna dengan bahan makanan di dalamnya. Daun kelapa muda memberikan rona kehijauan tipis pada permukaan makanan dan membantu makanan menjadi lebih awet secara alami.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.