Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Fenomena kekurangan murid di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah tidak hanya terjadi pada jenjang sekolah dasar.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali mencatat sebanyak 32 dari 52 sekolah menengah pertama (SMP) masih belum mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Menurut Dwi, kondisi kekurangan peserta didik kini menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh jenjang pendidikan di Kabupaten Boyolali.
"Untuk tingkat SD, jumlah yang tidak terpenuhi kuotanya jauh lebih banyak lagi. Bahkan sekolah-sekolah yang dicap sebagai SD favorit dengan daya tampung 28 siswa per rombongan belajar pun, sangat sedikit yang jumlah muridnya benar-benar penuh," ungkap Kepala Disdikbud Boyolali, Dwi Hari Kuncoro.
Disdikbud Boyolali mencatat hanya 20 SMP yang berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa baru.
Sementara itu, 32 SMP lainnya masih memiliki kursi kosong.
Fenomena tersebut menunjukkan penurunan jumlah peserta didik baru tidak lagi hanya dirasakan sekolah dasar, tetapi mulai merambah sekolah menengah pertama.
Kondisi ini menjadi perhatian karena jumlah sekolah yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Selain SMP, banyak sekolah dasar negeri di Boyolali juga mengalami kesulitan mendapatkan peserta didik baru.
Salah satu contoh terjadi di SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, yang hanya memperoleh satu siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
"Kalau se-Kabupaten Boyolali, untuk Sekolah Dasar yang mendapatkan siswa 'unik' atau sangat sedikit memang ada beberapa, termasuk di Sawit. Di SD Negeri Cepokosawit itu tadi memang hanya dapat satu murid," ujar Kuncoro.
Menurut dia, fenomena tersebut tidak hanya dialami sekolah kecil.
Sejumlah SD yang selama ini dikenal sebagai sekolah favorit juga belum mampu memenuhi daya tampung siswa baru.
Baca juga: Krisis Murid SD Negeri Boyolali Kian Meluas, Disdik : Sekolah Favorit Juga Banyak Tak Penuhi Kuota
Dwi menjelaskan, minimnya peserta didik baru dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya menurunnya jumlah lulusan taman kanak-kanak (TK) yang melanjutkan ke sekolah dasar.
"Jumlah sekolah masih cukup banyak, sementara lulusan TK yang masuk ke SD jumlahnya lebih sedikit," katanya.
Selain itu, faktor demografi juga turut memengaruhi kondisi tersebut.
Kecamatan Sawit menjadi salah satu wilayah dengan jumlah lulusan TK ke SD maupun lulusan SD ke SMP paling sedikit dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Boyolali.
(*)