Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengatakan bahwa misi Indonesia Emas 2045 bisa tercapai hanya jika negara membuat pemerataan terkait akses permodalan atau pembiayaan bagi berbagai pelaku usaha.

Menurut dia, jangan sampai permodalan yang diselenggarakan oleh negara hanya dinikmati oleh pelaku-pelaku usaha yang selama ini sering mendapatkan modal-modal besar. Sedangkan para pelaku usaha yang membutuhkan justru tidak pernah mendapatkan, dan bahkan semakin sulit untuk mendapatkan modal.

"Kalau permodalan dan pembiayaannya tidak jalan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, dan ini telah dinyanyikan oleh Rhoma Irama tahun '70 sampai tahun '80. Jadi bukan sesuatu yang baru Bapak Ibu," kata Saleh saat rapat Panja Akses Pembiayaan dan Permodalan bersama Kementerian UMKM di kompleks parlemen, Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto mempunyai target untuk bisa membuka akses yang seluas-luasnya kepada permodalan. Kini, menurut dia, arah ekonomi bangsa tengah diputar dari ekonomi liberal menuju Ekonomi Pancasila.

"Tidak tertutup kemungkinan kalau memang Ekonomi Pancasila ini bergerak dengan baik maka tentu itu akan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat kita," kata dia.

Menurut dia, banyak pelaku usaha yang mengadu ke DPR RI karena susah mendapatkan permodalan, kemudian baru bisa mendapatkan karena dibantu oleh DPR. Artinya, kata dia, ada beberapa hal yang belum dilaksanakan oleh kementerian terkait untuk benar-benar menyalurkan permodalan.

Untuk itu, dia mengatakan pemerintah pun perlu menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi dalam penyaluran modal, baik dari segi regulasi, kondisi pemberi modal, atau kondisi pelaku-pelaku usaha yang meminjam modal.

"Karena setiap modal itu harus bisa memberikan dampak luas bagi masyarakat," katanya.

Dia pun meminta kepada Kementerian UMKM untuk mendata jumlah anggaran yang dibutuhkan oleh para pelaku usaha. Menurut dia, sasaran penyaluran modal pun perlu diperluas agar cakupan penerima pinjaman modal pun semakin banyak.

"Kalau misalnya semuanya dipinjamkan Rp500 juta semua cepat juga habis. Kalau semuanya dipinjamkan cuman Rp20 juta misalnya, itu banyak. Jadi target sasarannya lebih banyak," kata dia.