Unik dan Spektakuler, Sedekah Bumi di Surabaya Hadirkan Kolaborasi 10 Dalang dalam Satu Panggung
Sudarma Adi July 14, 2026 12:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Bobby Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Riuh rendah suara tabuhan gamelan bertalu-talu memecah keheningan malam di kawasan Surabaya Barat.

Ribuan pasang mata warga memadati Jalan Raya Kupang Baru, Kelurahan Sonokwijenan, Kecamatan Sukomanunggal, pada Minggu (12/7/2026) malam.

Mereka hadir demi menyaksikan pagelaran unik wayang kulit kolosal yang menyatukan 10 dalang lokal di atas satu panggung tunggal.

Pergelaran seni adiluhung yang digelar dalam rangka merayakan tradisi Sedekah Bumi Kelurahan Sonokwijenan ini merupakan hasil kerja sama taktis antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur dengan DPRD Jawa Timur.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Surabaya, Ki Madiro, mengungkapkan bahwa lakon yang diangkat malam itu adalah "Pendowo Syukur (Sesaji Rojo Suryo)". Kisah ini sengaja dipilih karena merefleksikan potret spiritualitas masyarakat setempat.

"Lakon ini adalah simbolisasi wujud rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di dalamnya tersirat pesan kuat tentang persatuan dan kebijaksanaan Pandawa yang bahu-membahu menumbangkan kejahatan, sehingga melahirkan tatanan kehidupan yang tenteram, adil, dan sejahtera," terang Ki Madiro.

Uniknya, format pakeliran didesain lebih panjang dan megah dari standar biasanya. Struktur panggung dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memungkinkan visualisasi dinamis berupa penampilan dua dalang yang mendalang secara bersamaan dalam satu runtutan cerita.

Sepuluh aset dalang lokal yang unjuk gigi bergantian malam itu adalah Ki Madiro, Ki Surono Gondo Taruno, Ki Denang Sagojo, Ki Daniel Nugroho, Ki Bayu Wiyah Wijaya, Ki Ridlohul Alam, Ki Sabdo Sutejo, Ki Ilham Kukuh Hadi Wibowo, Ki Nyu Warsono, dan Ki Doto Bawono.

Suasana malam sedekah bumi pun kian semarak dan gayeng berkat kehadiran bintang tamu campursari fenomenal Niken Salindri dan Lusi Brahman, serta banyolan segar dari komedian khas Jawa Timuran, Cak Komet dan Cak Sulendro.

IPTEK Boleh Maju, Jangan Sampai Kehilangan Identitas Bangsa

Apresiasi tinggi mengalir dari jajaran legislatif yang mengawal langsung jalannya acara. Anggota DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, mengucapkan terima kasih kepada Disbudpar Jatim yang konsisten menjaga marwah kebudayaan daerah agar tetap membumi di tengah arus modernisasi.

Menurut Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Jatim ini, esensi wayang bukan sekadar tontonan visual penutup malam, melainkan tuntunan hidup makro yang sarat nilai kepemimpinan, penghormatan moral, serta kecintaan ekologis.

"Kita tentu boleh dan harus adaptif mengikuti perkembangan teknologi serta infiltrasi budaya baru, namun jangan sekali-kali mencabut akar budaya sendiri. Bangsa yang besar bukan hanya dinilai dari kemegahan gedung pencakar langit atau pertumbuhan ekonomi, melainkan dari keteguhannya menjaga nilai budayanya. Wayang kulit adalah identitas bangsa kita," tegas legislator asal dapil Surabaya tersebut.

Dorong Multiplier Effect Bagi Pelaku Koperasi dan UMKM Surabaya

Senada dengan hal tersebut, Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), yang meninjau langsung ke lokasi acara, melihat ada dampak ekonomi berantai (multiplier effect) yang luar biasa dari manajemen festival budaya berbasis massa seperti ini.

"Langkah Disbudpar Jatim dan dewan hari ini sangat luar biasa. Selain sukses mengamankan kelestarian warisan budaya, kerumunan ribuan warga secara otomatis menghidupkan lapak-lapak UMKM baru dan menstimulus pendapatan pedagang kecil di sekitar Sukomanunggal. Ekonomi Kota Surabaya ikut bergerak positif," kata Anggota Komisi VII DPR RI tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Jatim, Sadari, mengingatkan masyarakat bahwa wayang kulit telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak tahun 2003 silam. Oleh karena itu, menjaga kelestariannya adalah mandat kultural bersama.

"Wayang ini asli milik Indonesia. Kehadiran dan antusiasme luar biasa dari ribuan warga Surabaya malam ini adalah bukti konkret bahwa masyarakat menjadi benteng terdepan dalam merawat agar warisan luhur ini tidak punah ditelan zaman," pungkas Sadari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.