Cuma 1 Siswa yang Mendaftar, SDN di Jombang Tetap Berkomitmen Memberikan yang Terbaik
Pipit Maulidya July 14, 2026 12:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 yang biasanya dipenuhi suasana meriah justru menghadirkan pemandangan berbeda di Kabupaten Jombang.

SDN Mojongapit 3 di Dusun Weru, Desa Mojongapit, hanya menerima satu siswa baru. Siswa tersebut adalah Yoga Pratama (6) yang menjalani hari pertama sekolah seorang diri di kelas I pada Senin (13/7/2026).

Kondisi ini menjadi perhatian karena SDN Mojongapit 3 berada sekitar tiga kilometer dari Kantor Bupati Jombang.

Sementara sekolah lain dipenuhi murid baru, Yoga menjadi satu-satunya peserta didik baru di sekolah tersebut.

Penyebab Jumlah Siswa Baru Menurun

Kepala SDN Mojongapit 3, Zumaroh Isadah, mengatakan sepinya peminat tidak terjadi secara mendadak.

Menurutnya, kepercayaan masyarakat sempat menurun karena sekolah pernah mengalami kekurangan tenaga pendidik.

"Dulu kami sempat hanya punya dua guru kelas. Akibatnya, guru mata pelajaran harus merangkap menjadi wali kelas, bahkan ada penggabungan kelas demi kelancaran KBM," terang Zumaroh.

Akibat keterbatasan guru, beberapa kelas harus digabung agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Kondisi itu membuat sebagian orang tua khawatir anak-anak mereka tidak memperoleh perhatian yang maksimal selama belajar.

Sekolah Berupaya Memulihkan Kepercayaan

Saat ini SDN Mojongapit 3 memiliki total 39 siswa dari kelas I hingga kelas VI.

Pihak sekolah  menyebut kondisi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu.

Menurut Zumaroh, jumlah guru dan layanan pendidikan telah ditingkatkan. Karena itu, pihak sekolah berharap masyarakat kembali memberikan kepercayaan kepada SDN Mojongapit 3.

"Kami ingin membuktikan bahwa kondisi sekolah sekarang sudah jauh lebih baik. Kami berkomitmen memberikan kenyamanan penuh bagi anak-anak yang menimba ilmu di sini," pungkasnya.

Fenomena Serupa Terjadi di Daerah Lain

Fenomena minimnya siswa baru juga terjadi di daerah lain, salah satunya di Yogyakarta.

SMP Gotong Royong Kemantren Tegalrejo, Yogyakarta, pada tahun ajaran 2026/2027 hanya menerima tiga siswa baru.

Kepala sekolah, Amelita Tarigan, mengatakan sekolahnya kerap dipandang bukan sebagai sekolah favorit. Meski demikian, sekolah tersebut tetap memiliki peran penting bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Banyak siswa yang akhirnya mutasi ke sini saat kelas 8 atau 9 karena alasan biaya di sekolah asal yang ketat. Kami tetap menerima mereka demi keberlangsungan pendidikan anak-anak dari keluarga pekerja serabutan," ungkap Amelita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.