TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Sejumlah timbangan tandan buah segar (TBS) sawit milik pengepul di Kabupaten Pasangkayu mulai kembali beroperasi setelah beberapa pekan terakhir kompak menutup aktivitas pembelian akibat panjangnya antrean di pabrik kelapa sawit.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, Selasa (14/7/2026), papan informasi yang sebelumnya bertuliskan "off" di sejumlah timbangan kini telah berganti dengan daftar harga pembelian TBS.
Harga yang ditawarkan pengepul saat ini berkisar antara Rp2.200 hingga Rp2.300 per kilogram.
Baca juga: Lowongan Kerja SKK Migas Ditutup Besok 14 Juli 2026, Simak Daftar Posisi, Syarat, dan Cara Daftarnya
Baca juga: Antrean TBS Belum Terurai, Petani Sawit Mamuju Tengah Mengaku Terus Merugi
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, ketika banyak timbangan memilih berhenti beroperasi karena tidak mampu menyalurkan buah ke pabrik.
Sementara itu, harga pembelian TBS di pabrik telah menyentuh Rp2.700 per kilogram, seiring mulai normalnya proses penerimaan buah.
Salah satu admin timbangan, Indra, yang ditemui di Kelurahan Martajaya, Kecamatan Pasangkayu, mengatakan pihaknya kembali membuka pembelian setelah kondisi antrean di pabrik mulai membaik.
Meski demikian, harga yang diberikan kepada petani masih berada di bawah harga pabrik karena pengepul harus menutupi kerugian yang dialami selama masa krisis antrean.
"Kami sengaja ambil keuntungan sedikit lebih besar. Selisih harga itu untuk mengembalikan kerugian yang kami alami beberapa waktu lalu," ujar Indra.
Menurutnya, saat antrean truk mengular di pabrik, para pengepul mengalami kerugian yang nilainya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Kerugian tersebut terjadi karena banyak buah sawit yang tidak lagi memenuhi standar kualitas saat tiba di pabrik.
Buah yang telah menunggu terlalu lama di atas truk mengalami penurunan kualitas, bahkan membusuk sehingga ditolak oleh pihak pabrik.
"Buah banyak yang ditolak karena sudah busuk akibat menunggu antrean berhari-hari. Ada yang sampai tidak bisa dijual lagi," katanya.
Indra menjelaskan, kondisi tersebut membuat sebagian besar pengepul memilih menghentikan sementara pembelian TBS dari petani.
Langkah itu dilakukan agar kerugian tidak semakin besar, mengingat buah yang dibeli berisiko tidak diterima pabrik.
Kini, situasi mulai berangsur pulih. Antrean kendaraan pengangkut TBS di sejumlah pabrik tidak lagi berlangsung selama empat hingga tujuh hari seperti sebelumnya.
Meski masih terdapat antrean, waktu tunggu sudah jauh lebih singkat sehingga distribusi buah kembali berjalan lebih lancar.
Kembalinya aktivitas timbangan disambut baik oleh para petani sawit di Pasangkayu. Selama penutupan timbangan, banyak petani kesulitan menjual hasil panen karena pilihan pembeli sangat terbatas.
Dengan mulai beroperasinya kembali para pengepul serta membaiknya kondisi di pabrik, petani berharap harga TBS dapat terus meningkat dan aktivitas jual beli sawit kembali normal sehingga roda perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan sawit dapat kembali bergerak. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan