TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Euforia Piala Dunia 2026 yang telah memasuki babak semifinal menjadi topik utama dalam podcast Tribun Kaltim Selebrasi Lokal 2026 yang dipandu Dwi Ardianto yang lebih akrab disapa Edo.
Menghadirkan mantan Walikota Balikpapan dua periode Rizal Effendi, Dirlantas Polda Kaltim Kombes Pol Ahmad Yanuari Insan, serta konten kreator sepak bola Sodrak, diskusi berlangsung santai namun penuh analisis mengenai peluang empat tim terbaik dunia.
Tempat podcast pun tak kalah menarik, kali ini di warung Bakso Solo dan Mie Ayam Mas Bento yang terletak di Jalan Beller depan kampus Stiepan, Senin (13/7/2026) malam. Tepat pukul 20.00 Wita podcast dimulai.
Empat negara yang berhasil menembus semifinal yakni Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris.
Menariknya, keempat tim tersebut juga menempati empat besar peringkat FIFA saat ini, dengan urutan Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris.
Membuka perbincangan, Dwi Ardianto menilai semifinal kali ini menjadi salah satu yang paling menarik karena mempertemukan tim-tim terbaik dunia.
Baca juga: Rumor Transfer: Borneo FC Dikaitkan dengan Eks Pemain Piala Dunia 2026, Pesut Etam Saingi Klub MLS
"Siapa yang paling siap melangkah ke final dan mengangkat trofi Piala Dunia? Itu yang akan kita bahas malam ini," ujarnya.
Saat ditanya mengenai tim favorit sejak awal turnamen, Sodrak mengaku tidak memiliki satu tim yang selalu didukung.
"Setiap Piala Dunia saya berganti-ganti. Tahun lalu saya dukung Argentina, tahun ini Portugal. Karena Portugal sudah tersingkir, sekarang saya mendukung Inggris," katanya.
Sementara itu, Ahmad Yanuari Insan datang mengenakan jersey Jerman sebagai bentuk komitmennya mendukung Der Panzer.
"Namanya komitmen dan konsekuensi. Saya tetap dukung Jerman walaupun sudah kalah. Tapi saya juga punya dukungan kedua, yaitu Inggris. Kalau melihat tradisi Piala Dunia, biasanya juaranya memang negara-negara besar," ujarnya.
Rizal Effendi datang dengan mengenakan jersey Inggris, pun mengaku sejak awal memilih Inggris sebagai tim favorit.
"Saya memang dari awal mendukung Inggris. Boleh dibilang karena banyak pemain yang saya sukai. Saya juga lebih mengidolakan Cristiano Ronaldo dibanding Lionel Messi sehingga tidak terlalu mendukung Argentina," ucapnya.
Pembahasan kemudian mengarah pada pelatih Inggris Thomas Tuchel yang sempat menuai kritik karena tidak memanggil sejumlah pemain bintang seperti Harry Maguire, Trent Alexander-Arnold, Luke Shaw hingga Cole Palmer.
Sodrak mengaku sempat pesimistis dengan keputusan tersebut.
"Saya sempat ragu dengan line up Tuchel. Banyak pemain yang tampil bagus justru tidak dipanggil," katanya.
Namun Rizal menilai keputusan itu terbukti tepat.
"Mungkin dia membutuhkan pemain yang lebih muda karena cuaca di Amerika cukup panas. Dia memilih pemain yang sedang benar-benar on fire musim ini, dan hasilnya Inggris bisa sampai semifinal," katanya.
Ahmad Yanuari Insan juga menilai performa Inggris terus meningkat sepanjang turnamen.
"Kalau melihat permainan sampai sekarang, saya rasa Tuchel berhasil. Memang ada keputusan yang terlihat aneh, tapi hasil akhirnya membuktikan Inggris tampil cukup bagus," ujarnya.
Membahas laga semifinal lainnya antara Prancis melawan Spanyol, seluruh narasumber sepakat pertandingan tersebut layak disebut sebagai final ideal.
Menurut Sodrak, duel kedua tim dipastikan berlangsung sengit.
"Ini semifinal yang luar biasa. Bahkan harusnya ini final. Sulit ditebak siapa yang menang, tetapi kalau melihat kekuatan di atas kertas saya masih memilih Prancis," katanya.
Ahmad Yanuari Insan berharap pertandingan berlangsung hingga adu penalti.
"Kalau sampai penalti berarti kedua tim benar-benar seimbang. Saya ingin melihat pertandingan yang benar-benar all out," ujarnya.
Ketiga narasumber sama-sama memprediksi final akan mempertemukan Inggris melawan Prancis.
Bahkan seluruhnya sepakat Inggris berpeluang mengakhiri penantian panjang menjadi juara dunia.
"Sudah 60 tahun Inggris menunggu sejak juara tahun 1966. Mungkin sekarang waktunya football is coming home," ujar Rizal.
Sodrak juga optimistis Inggris mampu mengalahkan Argentina pada semifinal.
"Saya prediksi Inggris menang 2-1 lewat perpanjangan waktu. Harry Kane menjadi penentu kemenangan dan assist dari Bellingham" katanya.
Ahmad Yanuari Insan memprediksi skor lebih meyakinkan.
"Kalau saya 2-0 untuk Inggris. Salah satu gol dicetak Jude Bellingham dan assist dari Bukayo Saka," ujarnya.
Sementara Dwi Ardianto juga memperkirakan Inggris menang dua gol tanpa balas.
"Saya yakin Argentina akan kesulitan menghadapi tekanan permainan cepat Inggris," katanya.
Selain membahas pertandingan, para narasumber juga menyoroti kepemimpinan wasit dan pentingnya profesionalisme penyelenggaraan Piala Dunia.
Sodrak berharap FIFA benar-benar menjaga fair play.
"Semoga Piala Dunia berikutnya semakin bersih, lebih transparan, dan benar-benar profesional," ujarnya.
Ahmad Yanuari Insan menambahkan bahwa sepak bola tetap harus menjunjung tinggi sportivitas.
"Siapa pun juaranya, bola itu bundar. Semua kemungkinan bisa terjadi. Yang penting pertandingan berlangsung fair," katanya.
Diskusi juga membahas masa depan sepak bola Indonesia.
Ahmad Yanuari Insan berharap Timnas Indonesia suatu saat mampu lolos ke putaran final Piala Dunia.
"Harapan terbesar tentu Indonesia bisa tampil di Piala Dunia berikutnya," ujarnya.
Sodrak menilai pembinaan usia muda harus menjadi prioritas.
"Sistem pembinaan harus dibangun dari bawah. Pemain harus dibentuk sejak dini supaya punya chemistry yang kuat," katanya.
Senada, Rizal Effendi menilai sekolah sepak bola dan akademi harus kembali diperkuat.
"Pemain-pemain hebat dunia lahir dari akademi. Indonesia juga harus membangun itu secara serius agar tidak hanya mengandalkan pemain naturalisasi," katanya.
Ia juga berharap Indonesia suatu saat memiliki wasit yang kembali dipercaya memimpin pertandingan Piala Dunia.
Menjelang laga final, Ahmad Yanuari Insan mengungkapkan pihaknya berencana menggelar nonton bareng bersama pemerintah daerah apabila memungkinkan.
"Kami ingin berkolaborasi mengadakan nobar final. Mudah-mudahan yang tampil nanti Inggris melawan Prancis," ujarnya.
Rizal Effendi mengatakan euforia nonton bareng di Balikpapan selalu luar biasa, terutama di kawasan Pasar Segar yang menjadi salah satu pusat berkumpulnya pencinta sepak bola.
Ia juga mengapresiasi siaran Piala Dunia tahun ini yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis sehingga kegiatan nonton bareng bisa berlangsung lebih leluasa.
Di penghujung podcast, pembahasan melebar ke sepak bola daerah.
Saat ditanya peluang Persiba Balikpapan kembali ke Liga 1, Rizal optimistis hal itu dapat terwujud asalkan organisasi klub dibenahi.
Baca juga: Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026 dan Titik Nobar Kaltim: Prancis vs Spanyol, Inggris vs Argentina
"Persiba harus memperbaiki organisasinya terlebih dahulu. Kalau itu bisa dilakukan, saya yakin Persiba mampu bangkit dan kembali ke Liga 1," ujarnya.
Ia juga berharap perusahaan-perusahaan besar di Kalimantan Timur ikut memberikan dukungan bagi perkembangan sepak bola daerah.
Podcast kemudian ditutup dengan seluruh narasumber kompak meneriakkan dukungan untuk Inggris sebagai calon juara Piala Dunia 2026 sebelum menikmati hidangan mie ayam bersama dalam suasana santai. (*)