TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Harga beras medium dan premium di Kota Semarang, Jawa Tengah, berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Meski begitu, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang memastikan, kondisi ini belum termasuk dalam kategori waspada.
Sebab, pasokan masih tetap aman.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Kota Semarang Endang Sarwiningsih mengatakan, tingginya harga beras saat ini dipengaruhi musim kemarau, kenaikan harga gabah di tingkat petani, hingga biaya distribusi.
"Ya, (harga beras) sedikit di atas HET, itu beras yang medium dan premium."
"Tapi, dari kemarin-kemarin itu ya memang harganya segitu. Stagnan, tapi melebihi harga eceran tertinggi," kata Endang, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Gudang di Mijen Semarang Jadi Laboratorium Narkoba, Hasilkan 1,1 Juta Butir Obat Keras dalam 4 Bulan
Berdasarkan data pemantauan harga milik Pemkot Semarang, rata-rata harga beras premium mencapai Rp15.057 per kilogram.
Sedangkan HET beras premium dipatok Rp14.900 per kilogram atau sekitar 1,05 persen di atas ketentuan.
Kemudian, harga beras medium tercatat di angka Rp14.064 per kilogram, lebih tinggi 4,18 persen dibanding HET, Rp13.500 per kilogram.
Meski demikian, Endang menyebut, harga komoditas pangan lain masih berada di bawah HET maupun Harga Acuan Penjualan (HAP).
"Masih aman, masih di bawah HET," ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab harga beras bertahan di atas HET adalah faktor musim kemarau yang memengaruhi produksi.
"Iya, karena ini kan musimnya kering, ya," ucapnya.
Selain itu, menurutnya, kenaikan biaya operasional juga ikut berpengaruh terhadap harga beras di pasaran.
"Kemudian juga, faktor kenaikan BBM ini kan juga pengaruh," katanya.
Endang menambahkan, harga gabah yang dibeli pelaku usaha juga lebih tinggi dibanding harga acuan pemerintah sehingga berdampak pada harga jual beras.
"Harga gabah (yang ditetapkan) pemerintah itu kan Rp6.500/Kg, tapi kan para pengusaha itu pengin sustain juga usahanya. Maka, dia berani menaikkan (harga) gabahnya itu lebih tinggi dari harga pemerintah."
"Nah, petani sih senang, tapi konsumennya yang sering agak cengut-cengut (pusing) karena dari swasta itu bisa naikkan harga gabahnya tidak Rp6.500, tetapi bisa Rp7.500, ada yang Rp8.000," tuturnya.
Di sisi lain, ia menyebut, stok beras di Kota Semarang masih mencukupi, bahkan dalam kondisi surplus.
Baca juga: Dosen UIN Semarang: Kekeringan di Jateng Menyangkut Keselamatan, Perlu Mitigasi Lewat Konservasi
Angka kecukupan beras, baik medium maupun premium di Kota Semarang, diperkirakan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 6 bulan 23 hari ke depan.
"Surplus. Jadi, intinya aman semua, masih aman," ungkapnya.
Pasokan beras ke Kota Semarang, kata Endang, berasal dari sejumlah daerah sentra misalnya Sragen, Purwodadi, Kendal, hingga Cilacap. (*)