Sembilan negara Eropa mendesak Uni Eropa menunda penerapan penuh Entry/Exit System (EES). Mereka khawatir sistem baru itu memicu antrean panjang dan mengganggu arus perjalanan di perbatasan.
Dilansir dari , Selasa (14/7/2026) Belgia, Prancis, Jerman, Yunani, Italia, Malta, Belanda, Portugal, dan Swiss yang mengajukan permintaan penundaan itu melalui surat bersama.
Semua negara itu meminta mekanisme darurat yang memungkinkan pemeriksaan sidik jari dan pemindaian wajah dihentikan sementara tetap berlaku setelah 6 September.
Dalam surat tersebut, kesembilan negara menyebut berakhirnya kebijakan pelonggaran itu menimbulkan kekhawatiran, tidak hanya bagi negara anggota, tetapi juga sektor transportasi.
"Berakhirnya mekanisme penangguhan sebagian pada 6 September menjadi sumber kekhawatiran yang serius dan beralasan. Kekhawatiran ini dirasakan tidak hanya oleh sejumlah negara anggota, terlepas dari tingkat kesiapannya, tetapi juga oleh seluruh sektor transportasi," pernyataan sembilan negara itu.
"Karena itu, kami menilai penting agar negara-negara anggota tetap memiliki kewenangan untuk menerapkan mekanisme tersebut setelah 6 September," lanjut isi surat itu.
Juru bicara Komisi Eropa, Markus Lammert, mengatakan pihaknya menyambut komitmen negara-negara anggota untuk menerapkan EES secara penuh. Namun, Komisi tetap berkoordinasi dengan beberapa negara yang masih mengalami kendala di sejumlah titik perbatasan.
Kritik juga datang dari industri penerbangan. Chief Executive easyJet, Kenton Jarvis, menilai antrean panjang akibat sistem EES sudah tidak bisa diterima.
"Otoritas perbatasan harus memanfaatkan seluruh fleksibilitas yang tersedia. Jika itu belum cukup efektif, sistem ini harus ditinjau kembali dan masa berlaku kebijakan pelonggaran perlu diperpanjang setelah September agar penumpang tidak terus mengalami gangguan," ujar Jarvis.
Sebelumnya, sejumlah bandara, maskapai, dan organisasi penerbangan Eropa juga telah memperingatkan bahwa antrean pemeriksaan perbatasan yang mencapai lima jam mulai mengganggu perjalanan penumpang, operasional penerbangan, hingga sektor pariwisata.
Keluhan serupa disampaikan Chief Executive Fraport Greece, Alexander Zinell, yang mengelola 14 bandara di Yunani. Menurutnya, sejumlah bandara bahkan harus memasang tenda untuk melindungi penumpang yang mengantre dari terik matahari.
"Kondisi ini sangat tidak nyaman bagi penumpang, bahkan bisa membahayakan," kata Zinell.
Ia menilai mekanisme penangguhan sementara hanya menjadi solusi jangka pendek.
"Ini hanya perbaikan sementara. Sistem ini perlu diperbarui dan dirancang ulang agar penumpang bisa melakukan registrasi sebelum berangkat ke bandara atau naik pesawat," pernyataan ditambahkan.





