Laporan Kontributor Tribunjabar.id M Rizal Jalaludin
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Suasana pagi di pinggiran Sungai Cimandiri, Kampung Leuwidinding, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tampak berbeda pada Senin (13/7/2026).
Di tengah hiruk-pikuk hari pertama tahun ajaran baru, puluhan anak sekolah berseragam rapi harus mengantre. Bukan untuk naik bus jemputan, melainkan bertaruh nyawa menaiki perahu karet demi bisa menuntut ilmu.
Bagi para siswa di wilayah tersebut, dimulainya tahun ajaran baru berkelindan erat dengan kembalinya rutinitas ekstrem yang menguji nyali.
Baca juga: Cium Bau Menyengat, Warga Sagaranten Sukabumi Temukan Kerangka Diduga Perempuan
Elsa (11) dan adiknya Fahri (10), siswa SDN Kebonjati, adalah contoh nyata. Bagi kakak-beradik ini, menyeberangi derasnya Sungai Cimandiri dengan perahu karet sudah menjadi "normal baru" yang terpaksa mereka jalani hingga dua kali sehari.
"Tidak takut, saya sama adik sudah biasa. Inginnya ada jembatan biar bisa berangkat sekolah enggak perlu naik perahu lagi," ungkap Elsa sembari menggandeng erat tangan adiknya di atas lambung perahu hitam bertuliskan "TNI AL" itu.
Alternatif lain sebenarnya ada, namun ongkosnya adalah waktu dan materi. Ai Nurhayati (16), siswi SMK Maarif NU Al-Fathonah, membeberkan bahwa jika ada kerabat yang bisa mengantar dengan sepeda motor, ia harus memutar jalan.
"Nambah waktu paling 30 menit kalau memutar," keluhnya.
Moda transportasi darurat ini bergerak mengandalkan bentangan tali tambang dan kabel sling yang melintang di atas sungai. Setiap hari, dua hingga empat warga lokal bergantian menjadi operator sukarela demi memastikan roda ekonomi dan pendidikan kampung mereka tidak lumpuh total.
Namun, beban moral yang dipikul para relawan ini tidak main-main. Agus Salim (45), salah seorang operator, menceritakan bagaimana pos penyeberangan ini kerap diselimuti suasana mencekam, terutama saat harus menyeberangkan warga yang sakit atau ibu hamil.
"Capek pikiran pas bantu bawa orang yang lagi sakit atau ibu hamil, itu suka waswas. Bahkan pernah ada orang sakit berangkat nyeberang, pulangnya sudah meninggal diseberangin juga di perahu karet," tutur Agus dengan nada lirih.
Baca juga: Pemprov Jabar Bakal Bantu Pembangunan Jalan Menuju Jembatan Sukamenak Tasikmalaya
Krisis aksesibilitas ini telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan. Tepatnya sejak 28 Desember 2025, saat jembatan gantung utama yang menjadi urat nadi aktivitas warga hancur total diterjang banjir bandang.
Sejak saat itu, perahu karet bantuan dari BPBD hingga kini digantikan oleh unit milik TNI AL menjadi satu-satunya penyambung asa warga. Penggunaan yang tanpa henti membuat fasilitas darurat ini kerap mengalami aus dan kerusakan.
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menegaskan bahwa pihak pemerintah desa telah berulang kali mengajukan perbaikan jembatan kepada pihak terkait, namun hingga kini lampu hijau belum juga menyala.
"Jembatan ini sangat vital. Kalau pakai jalan memutar jaraknya lebih dari enam kilometer. Ada juga akses jalan lain, tapi harus melewati area pertambangan yang cukup berisiko," jelas Dilah.
Ia menambahkan, saat ini secercah harapan muncul setelah pihak Koarmada TNI AL meninjau lokasi pekan lalu dan sedang mengupayakan pengajuan pembangunan. Warga Jampangtengah kini hanya bisa berharap, janji infrastruktur baru bisa segera terealisasi sebelum arus Cimandiri kembali mengamuk.*