TRIBUN-TIMUR.COM - Subhan Mappaturung membuka pertandingan menurut Semifinal Piala Dunia 2026 di Grup Geng Makassar, Selasa pagi, 14 Juli 2026.
Subhan mengirim video. Final Piala Dunia 2006. Spanyol belum berjaya. Prancis masih dipimpin Zinedine Zidane. Italia mengangkat trofi.
"Masa keemasan sepak bola. Bertabur bintang." Tulis Subhan Mappaturung. Keteragan video itu memang hanya satu kalimat. Tetapi cukup membuat grup melompat dua puluh tahun ke belakang.
Petta Prof Cak Bus menyambut umpan lambung Subhan Mappaturung. "Bertabur bintang. Tapi sayang harapan mengubah peta kekuatan sepakbola dunia tidak terjadi." Kalimat Petta Prof juga hanya dua kalimat. Menarik.
Empat semifinalis Piala Dunia 2026 ternyata tetap empat negara lama. Argentina. Prancis. Inggris. Spanyol. "Empat tim yang lolos semuanya pernah juara dunia."
Sepakbola rupanya berubah. Tetapi tidak seluruhnya berubah.
Lalu Petta Prof mengirim satu foto. Lionel Messi. Kylian Mbappe. Harry Kane. Lamine Yamal. Mereka duduk melingkar. Makan bersama. Tidak ada rival. Tidak ada semifinal. Yang ada hanya nasi. Pisang. Dan senyum.
Foto itu seperti ingin berkata, “Persaingan hanya berlangsung sembilan puluh menit.”
Sesudah itu, mereka kembali menjadi manusia biasa.
Namun Rasid Alfarizi justru mengingatkan satu adegan lain. Ia mengirim video final 2006. Zinedine Zidane. Marco Materazzi. Satu sundulan. Satu kartu merah. Satu momen. Satu kepala. Tapi “yang satu” itu mengubah sejarah sepakbola dunia.
Permainan bola di Grup WhatsApp Geng Makassar bukan semata Piala Dunia. Bukan lagi Inggris atau Argentina. Spanyol atawa Prancis. Tokoh utamanya sekarang adalah cara manusia mengambil keputusan.
Najib Latandang mewakili feeling. Farid M Ibrahim mewakili analisis. Husain Abdulah pemain tengah. Subhan Mappaturung menjadi gelandang yang mencairkan suasana. Haris Hody menjadi pendukung yang konsisten. Lalu muncul Petta Prof Cak Bus Abustan yang tiba-tiba membawa generasi emas Inggris.
Belum ada semifinal. Belum ada gol. Belum ada peluit. Tetapi pertandingan baru sudah dimulai di Grup WhatsApp Geng Makassar. Bukan Argentina vs Inggris. Bukan pula Prancis vs Spanyol. Yang bertanding adalah feeling vs data.
Kadang Piala Dunia memang tidak dikenang karena gol. Melainkan karena satu keputusan.
Di sinilah perdebatan tentang feeling kembali menemukan rumahnya.
Farid M Ibrahim percaya data. Najib Latandang percaya pengalaman. Petta Prof percaya sejarah. Haris Hody percaya semangat juang. Subhan Mappaturung percaya humor.
Mereka semua berbeda. Namun anehnya, tidak ada yang benar-benar salah.
Pierre Bourdieu mungkin tersenyum melihat Geng Makassar itu. Tersenyum dan menggumam, “Itulah habitus.”
Tetapi orang-orang di Warkop cukup menyebutnya "Jam terbang."
Sebab orang yang sudah puluhan tahun menonton sepakbola sering melihat sesuatu yang tidak muncul di tabel statistik.
Mereka membaca bahasa tubuh. Mereka membaca keberanian. Mereka membaca rasa takut. Mereka membaca momentum. Yang oleh Najib Latandang cukup disebut satu kata: Feeling.
Tetapi Farid M Ibrahim juga tidak keliru. Data memang tidak pernah berbohong. Hanya saja, sepakbola kadang tidak membaca data. Satu bola membentur tiang. Satu pemain terpeleset. Satu kartu merah. Satu keputusan VAR. Semua angka berubah. Barangkali itulah sebabnya sampai hari ini komputer belum pernah menjadi juara Piala Dunia. Yang menjadi juara tetap manusia.
Farid M Ibrahim mewakili mazhab analisis taktik, data, psikologi pertandingan. Najib Latandang dari mazhab feeling yang lahir dari jam terbang sebagai mantan pemain. Husain Abdullah mazhab penghubung. Menghubungkan sepakbola dengan sejarah, budaya, bahkan geopolitik.
Andi Suruji mazhab rasional. Dia membawa angka dan statistik sebagai penguat argumen.
Lalu muncul lapisan baru. Bang Cikon melempar humor.
Andi Herry Iskandar memunculkan istilah "diskresi FIFA". Husain membalas. Andi Suruji masuk lagi dengan satu istilah yang tiba-tiba membuat diskusi naik kelas. "Herd behavior."
Memasuki babak kedua, Farid M Ibrahim mulai membuka papan taktik. "Prancis akan kalah penguasaan bola. Tapi serangan baliknya akan sangat berbahaya."
Belum sempat Najib Latandang menjawab. Husain Abdullah sudah mengingatkan. "Hati-hati dijawab pakai feeling."
Kalimat itu disambut tawa. Feeling memang tidak perlu penjelasan. Cukup hasil.
Lalu saya masuk ke refleksi. Di sinilah sepak bola menjadi menarik. Data selalu meminta alasan. Feeling tidak pernah meminta izin.
Kemudian muncul percakapan berikutnya. Farid menulis panjang. Husain membalas pendek. Subhan menggoda. Bang Cikon melempar humor. Andi Suruji membawa statistik. Lalu tiba-tiba…
"Herd behavior." Dua kata itu membuat ruang diskusi berubah.
Tempo diskusi belum juga menurun. Justru semakin mendekati semifinal, permainan di Grup Geng Makassar semakin rapi. Seperti tiki-taka. Bola berpindah dari satu pemain ke pemain lain. Pendek. Cepat. Kadang serius. Kadang diselingi tawa.
Subhan Mappaturung kembali membuka ruang nostalgia. Ia menyebut satu demi satu nama yang pernah membuat Inggris ditakuti. Alan Shearer. Paul Gascoigne. Paul McManaman. Les Ferdinand. David Seaman. Gareth Southgate. Ian Walker.
Husain Abdullah menerima umpan itu dengan tenang. Lalu dia berbalik dan mengoper bola dengan senyum, "Luar biasa Pak Andi. Inggris selalu mengoleksi skuad mewah."
Kalimat itu sederhana. Namun menyimpan ironi panjang. Inggris hampir selalu datang ke Piala Dunia dengan pemain-pemain hebat. Tetapi sepak bola berulang kali mengajarkan bahwa mengumpulkan bintang tidak otomatis menghadirkan cahaya.
Di arena yang sama, Farid M Ibrahim memilih masuk melalui pintu berbeda. Ia tidak membuka album kenangan. Ia membuka papan taktik.
"Spanyol akan dominan dalam ball possession. Tapi Prancis dengan ciri serangan cepat akan merepotkan pertahanan lawan."
Farid M Ibrahim tidak sedang memilih tim favorit. Ia sedang membaca cara bermain. Di sinilah kembali terlihat dua cara memandang sepakbola.
Najib Latandang lebih percaya pada feeling. Farid M Ibrahim lebih percaya pada analisis.
Lalu Husain Abdullah kembali menyenggol keduanya. "Hati-hati dijawab pakai feeling. Kalau feeling tidak butuh penjelasan. Langsung hasil."
Grup pun pecah oleh emoji tertawa.
Namun di balik candaan itu, tersimpan pertanyaan yang lebih besar. Mengapa manusia selalu ingin mencari kepastian sebelum pertandingan dimulai?
Hingga mendekati masa hidration break babak kedua itu, Najib Latandang belum masuk lapangan. "Masih pemanasan," ujar Husain Abdullah segera menyambut.
Grup kembali riuh. Humor rupanya menjadi pelumas paling ampuh dalam diskusi yang nyaris berubah menjadi seminar sepakbola.
Tak lama kemudian Farid M Ibrahim mengirim analisis lain, "Untuk semifinal kedua antara Inggris dan Argentina, rasanya semua orang akan lega bila Argentina sebagai public enemy di ajang Piala Dunia 2026 tersingkir."
Husain Abdullah langsung menyambar, "Top ini." "Satu bola dunia memusuhi."
Kalimat itu segera memancing Bang Cikon. "Oppo Argentina," tulisnya, disusul emoji senyum.
Humor kembali bekerja. Ketika suasana mulai memanas, candaan menjadi pendingin ruangan.
Namun Andi Suruji memilih jalan lain. Ia membawa angka masuk ke arena. "Sampai semifinal, Spanyol sudah mencetak sebelas gol. Prancis enam belas gol."
Di tengah pertarungan feeling dan analisis, statistik tetap mendapat tempat.
Tidak lama kemudian diskusi berbelok ke arah yang lebih liar. Ada yang berseloroh Argentina sudah mengantongi "surat diskresi FIFA".
Andi Suruji menanggapinya dengan tawa. "Hahaha... tidak memenuhi syarat utama sehingga perlu diskresi."
Farid M Ibrahim lalu mengembalikan diskusi ke lapangan. "Masalah Argentina, dalam tiga laga terakhir kesan dan realita pemihakan wasit terlihat jelas. Dalam tayangan ulang tampak keputusan-keputusan wasit selalu berpihak kepada Argentina."
Perdebatan kembali melebar. Bukan lagi soal Messi. Bukan lagi soal Kane. Bukan lagi soal Mbappe. Melainkan tentang persepsi. Tentang apakah sebuah keputusan benar-benar memihak, atau sekadar terlihat memihak karena setiap orang sudah lebih dahulu memilih siapa yang ingin dipercayai.
Andi Herry Iskandar ikut menimpali. "DPC mendukung kalau sudah ada diskresi dari FIFA. Feeling juga diabaikan kalau sudah begitu." Bang Cikon hanya membalas dengan gambar kosong yang mengundang tawa.
Lalu Andi Suruji melempar satu istilah yang membuat ruang diskusi sejenak terasa seperti ruang kuliah. Herd behavior. Perilaku kawanan.
Istilah itu mengingatkan bahwa dalam sepakbola, keyakinan sering menyebar lebih cepat daripada fakta.
Ketika satu orang mengatakan wasit memihak, mungkin itu masih pendapat. Ketika sepuluh orang mengulanginya, ia mulai terdengar seperti kebenaran.
Pierre Bourdieu kembali tersenyum. Dalam hati dia menggumam, “Yang kalian maksud itu mungkin doxa.” Sesuatu yang diterima sebagai kenyataan bukan semata-mata karena telah terbukti, melainkan karena terus-menerus diproduksi dan diulang dalam sebuah arena sosial.
Dan Grup WhatsApp Geng Makassar pagi itu menjelma menjadi arena kecil tempat keyakinan, data, pengalaman, humor, dan sejarah saling berebut pengaruh.
Peluit semifinal memang belum ditiup. Tetapi pertandingan gagasan sudah lebih dahulu dimulai.
Bola belum juga jatuh ke kaki Najib Latandang. Justru Husain Abdullah dan Subhan Mappaturung asyik bernostalgia. "Paul McManaman," tulis Husain Abdullah.
Nama itu langsung disambar Subhan. "Liverpool. Salah satu pemain Inggris yang sukses di Real Madrid." Husain mengangguk. "Betul."
Obrolan pun berubah menjadi cerita lama. Subhan mengaku McManaman adalah pemain kesayangannya. Husain punya alasan yang lebih sederhana. "Enak dilihat mainnya dengan jersey ukuran large." Subhan tertawa. "Gombrangki."
Tidak ada statistik. Tidak ada ball possession. Tidak ada expected goals. Yang dibicarakan hanya satu hal. Enak dilihat.
Mungkin memang begitu awal manusia mencintai sepakbola. Bukan karena angka. Tetapi karena rasa.
Andi Suruji lalu mengirim sebuah video berbasis AI. Harry Kane dan Jude Bellingham berdiri di hadapan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher. Teks di layar berbunyi, "Kane and Bellingham take back the Falkland Islands!"
Semua tahu itu bukan rekaman sejarah. Itu video hasil kecerdasan buatan. Tetapi justru di situlah menariknya.
Sepakbola modern kini tidak hanya dimainkan di lapangan. Ia juga dimainkan oleh algoritma. AI mulai memproduksi imajinasi. Membuat adegan yang tidak pernah terjadi, tetapi tampak begitu meyakinkan.
Seolah-olah sejarah baru bisa diciptakan hanya dengan beberapa baris perintah.
Namun Petta Prof kembali mengembalikan semua ke bumi. "Termasuk statistik juga terkadang tidak berarti."
Kalimat itu pendek. Tetapi seperti peluit panjang yang menutup laga diskusi. Sejak pagi mereka memperdebatkan feeling. Lalu data. Kemudian statistik. Berikutnya video AI.
Pada akhirnya, semuanya sampai pada kesimpulan yang sama. Tidak ada satupun yang sanggup menjamin hasil pertandingan. Feeling bisa meleset. Analisis bisa keliru. Statistik bisa dipatahkan. AI pun hanya mampu memperkirakan. Peluit akhir tetap milik lapangan.
Begitulah sepakbola selalu berhasil menolak menjadi ilmu pasti. Ia meminjam data. Menggunakan teknologi. Menghadirkan VAR. Memanfaatkan kecerdasan buatan. Tetapi ketika bola mulai bergulir, semuanya kembali kepada sesuatu yang tidak pernah bisa dihitung sepenuhnya. Momentum. Keberanian. Kesalahan kecil. Dan kadang-kadang nasib.
Pierre Bourdieu terdiam. Dia merenung. “Mungkin yang dimaksud itu arena tempat berbagai modal saling beradu: modal teknik, pengalaman, simbol, hingga pengetahuan.”
Namun bagi anggota Geng Makassar, istilahnya jauh lebih sederhana. "Feeling."
Dan perdebatan pun berlanjut, bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk menikmati satu kenyataan yang selalu membuat sepakbola hidup: bahkan setelah data, statistik, dan AI berbicara, manusia tetap ingin mempertahankan keyakinannya sendiri.
Itulah sebabnya sepakbola tidak pernah benar-benar selesai saat peluit panjang dibunyikan.(*)