SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Asisten Pelatih Kiper Sriwijaya FC musim kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026, Ikhsan Alkarima, akhirnya angkat bicara menyikapi terdegradasinya Laskar Wong Kito ke Liga Nusantara (Liga 3).
Pelatih Palembang United Soccer School itu mengaku prihatin melihat klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan harus mengakhiri musim dengan kenyataan pahit turun kasta.
Menurut Ikhsan, kondisi tersebut menjadi pukulan bagi seluruh elemen yang mencintai Sriwijaya FC. Namun, ia berharap kegagalan musim ini menjadi titik awal pembenahan agar Elang Andalas bisa kembali bangkit.
"Pastinya kita semua turut prihatin," ujar Ikhsan Alkarima kepada Sripoku.com, Selasa (14/7/2026).
Tak hanya menyampaikan rasa prihatin, Ikhsan juga menyoroti pentingnya pembenahan di tubuh manajemen. Ia menilai Sriwijaya FC membutuhkan tata kelola klub yang lebih profesional agar mampu bersaing kembali.
Selain itu, menurutnya, keberhasilan mendapatkan sponsor menjadi faktor penting untuk memastikan persiapan tim berjalan maksimal sejak awal musim.
"Semoga manajemen ke depannya tertata rapi dan serius mencari sponsor sehingga persiapan bisa matang dan mampu bersaing," harapnya.
Degradasi Jadi Titik Terendah Sriwijaya FC
Musim Pegadaian Championship 2025/2026 tercatat sebagai salah satu musim paling kelam dalam sejarah Sriwijaya FC.
Klub yang pernah menjadi raksasa sepak bola Indonesia itu harus rela turun ke Liga Nusantara setelah gagal keluar dari tekanan sepanjang kompetisi.
Hasil buruk yang diraih bukan semata karena performa di lapangan. Sejak awal musim, Sriwijaya FC dibayangi berbagai persoalan internal, terutama krisis finansial yang memengaruhi operasional tim.
Kondisi tersebut membuat persiapan pertandingan tidak berjalan optimal. Beberapa pemain memilih hengkang, sementara tim juga menghadapi keterbatasan anggaran dalam menjalani kompetisi.
Bahkan dalam sejumlah laga tandang, skuad Sriwijaya FC harus menempuh perjalanan darat menggunakan bus. Situasi itu dinilai menguras tenaga pemain dan berdampak terhadap kondisi fisik maupun mental saat bertanding.
Di atas lapangan, Elang Andalas kesulitan menjaga konsistensi permainan. Lini depan kurang produktif, koordinasi pertahanan kerap bermasalah, hingga akhirnya Sriwijaya FC gagal mempertahankan tempatnya di kasta kedua sepak bola Indonesia.
Saatnya Bangun Fondasi Baru
Terdegradasinya Sriwijaya FC ke Liga Nusantara dinilai banyak pihak harus menjadi momentum evaluasi total.
Pembenahan tidak hanya dibutuhkan di sektor teknis, tetapi juga menyangkut restrukturisasi manajemen, penguatan finansial, pembinaan pemain muda, hingga penyusunan tim yang lebih kompetitif.
• Edho Harto Lubay Serukan Putra Daerah Jadi Sponsor, Yakin Sriwijaya FC Bangkit dari Liga 3
Bagi masyarakat Sumatera Selatan, turunnya Sriwijaya FC tentu menjadi pukulan besar. Klub yang pernah menjuarai Liga Indonesia dan Piala Indonesia itu kini harus memulai perjuangan dari kasta ketiga.
Meski demikian, peluang untuk bangkit masih terbuka lebar. Sejarah sepak bola mencatat banyak klub besar mampu kembali berjaya setelah mengalami degradasi.
Karena itu, Sriwijaya FC dituntut memanfaatkan momentum ini sebagai awal kebangkitan dengan membangun fondasi klub yang lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Musim 2025/2026 akan dikenang sebagai titik terendah perjalanan Elang Andalas. Namun, dari fase sulit inilah harapan untuk mengembalikan kejayaan Sriwijaya FC dapat mulai dibangun kembali.