Ketua DPRD Babel Desak Pertamina Bertindak, Antrean BBM Capai 5 Jam
Asmadi Pandapotan Siregar July 14, 2026 04:25 PM

BANGAKAPOS.COM, BANGKA -- Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, mendesak PT Pertamina Patra Niaga wilayah Bangka Belitung segera menyelesaikan persoalan antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pulau Bangka.

Desakan tersebut disampaikan Didit saat menerima Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Bangka Belitung, Satriyo Wibowo Wicaksono, di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2026).

Menurut Didit, kelangkaan BBM yang dirasakan masyarakat telah memicu antrean panjang di berbagai SPBU. Bahkan, sejumlah warga harus mengantre hingga tiga sampai lima jam untuk mendapatkan BBM, baik jenis Pertalite maupun Pertamax.

"Saya sudah mengecek langsung ke lapangan bahkan saya sudah video call dengan GM Pertamina Babel tentang kondisi antrean BBM di Pulau Bangka ini agar cepat diselesaikan," kata Didit.

Politisi PDI Perjuangan itu mengungkapkan banyak keluhan masyarakat yang masuk ke DPRD terkait sulitnya memperoleh BBM dalam beberapa hari terakhir, baik jenis Pertalite maupun Pertamax.

"Aspirasi banyak masuk masyarakat mengeluhkan terkait BBM baik Pertalite dan Pertamax susah didapat," terangnya.

Ia mengatakan, sejumlah SPBU masyarakat harus mengantre selama tiga hingga lima jam. Hanya untuk mendapatkan Pertalite. Sementara Pertamax juga sulit diperoleh.

Tak hanya itu, Didit juga mendapatkan keluhan adanya penjualan BBM di luar SPBU dengan harga yang jauh di atas ketentuan.

"Ada yang menjual BBM di luar dengan harga mencapai Rp 20 ribu per liter. Kondisi seperti ini tentu sangat merugikan masyarakat," katanya.

Didit meminta Pertamina segera mengambil langkah cepat dan melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah pusat agar persoalan tidak berlarut-larut.

"Saya minta pihak Pertamina diselesikan secepat klmungkin dan laporkan ke pusat. Apabila dibiarkan korbannya banyak," katanya.

Menurut Didit, dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan oleh pengendara umum, tetapi juga memukul berbagai sektor.

Dari pengemudi ojek online kesulitan mencari nafkah, masyarakat terlambat bekerja. Hingga pelajar yang terhambat berangkat ke sekolah akibat sulit mendapatkan BBM.

"Artinya dampak antrean BBM ini membuat semua sektor mengalami kerugian yang sama. Ojol terdampak, masyarakat tidak bisa bekerja, bahkan ada yang kesulitan berangkat ke sekolah," ujarnya.

Ia berharap, Pertamina segera mengambil langkah konkret agar distribusi BBM kembali normal.

Didit juga menyebut pihak Pertamina telah berkoordinasi dengan Kapolda Bangka Belitung untuk mencari solusi percepatan penanganan di lapangan.

"Kami berharap persoalan ini bisa segera diselesaikan sehingga distribusi BBM kembali normal dan masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar," tutupnya.

Pertamina Ungkap Penyebab Antrean

Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, Didit Srigusjaya, telah memanggil Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga wilayah Bangka Belitung, Satriyo Wibowo Wicaksono, ke ruang kerjanya pada Selasa (14/7/2026) siang.

Pemanggilan tersebut dilakukan untuk meminta penjelasan terkait kembali terjadinya antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Pangkalpinang maupun beberapa daerah lainnya di Bangka Belitung.

Sales Area Manager Pertamina Patraniaga, Satriyo Wibowo Wicaksono, menjelaskan penyebab antrean yang ramai disejumlah SPBU.

Ia mengatakan, penyebabnya, karena adanya pengisian berulang, penggunaan QR code yang sama, ganda dan plat palsu menyebabkan antrean panjang di SPBU.

"Untuk masyarakat Bangka Belitung, stok BBM di terminal kita itu sebenarnya aman hingga tujuh hari ke depan. Jadi tidak ada masalah dalam penyaluran. Cuman mengimbau ke masyarakat untuk membeli berlebihan, kami monitor di lapangan banyak kendaraan-kendaraan yang berulang, pembeliannya termasuk pengerit dan lain-lain,"kata Sales Area Manager Pertamina Patraniaga, Satriyo Wibowo Wicaksono di kantor DPRD Babel, Selasa (14/7/2026).

Sementara untuk stok BBM, dikatakan Satriyo, dipastikan cukup. Asalkan masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

"Pagi hari ini kami juga sudah berkoordinasi dengan Kapolda untuk membantu pengamanan antrean di lapangan. Supaya masyarakat, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tidak memanfaatkan situasi karena sebenarnya kondisi semua normal," lanjutnya.

Dia mengatakan, penyebab antrean BBM yang panjang di SPBU diduga adanya penimbunan dan faktor lainnya di lapangan, seperti pembelian BBM subsidi dengan menggunakan QR Code yang sama dan penggunaan nomor polisi palsu.

"Itu kami dalami, banyak QR Code sama, dobel-dobel atau menggunakan nomor polisi palsu. Banyak dia muter-muter kita kan sudah moving. Dan QR Code tersebut sudah kami blokir, sudah sekitar hampir 500-an kendaraan kami blokir," terangnya.

Ia memastikan, Pertamina Patraniaga Area Bangka Belitung tidak ada pengurangan pasokan BBM ke SPBU karena supply selalu normal bahkan untuk BBM Subsidi jenis pertalite ada penambahan.

"Banyak kendaraan yang berpindah-pindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk melakukan pengisian berulang. Karena itu kami melakukan pemetaan, dan QR Code yang terindikasi melanggar sudah kami blokir," tegasnya.

Koordinasi ke APH

Lebuh jauh, Satriyo menambahkan Pertamina Patraniaga Area Babel juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

Untuk melakukan pengamanan serta penertiban terhadap kendaraan yang diduga melakukan pengisian berulang di SPBU.

"Kami terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum terkait langkah penindakan pelanggaran ini. Intinya, GM Pertamina telah mengambil langkah yang sangat responsif dalam menangani kondisi ini agar kembali normal," terangnya.

Dia berharap, masyarakat tidak panik dan tidak membeli BBM secara berlebihan.

Karena menurutnya, sebanyak apapun jumlah stok di Pertamina bakal tetap disalurkan ke SPBU dan untuk tujuh hari kedepan jumlah stok tetap aman.

"Situasi seperti saat ini yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang melakukan pengisian berulang di tengah antrean masyarakat. Kami mengajak media dan masyarakat ikut melakukan pengawasan," tutupnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.