Pameran Art in Focus di Yogyakarta Hadirkan Nostalgia Kartu Pos, Dunia Sejenak Melambat
Yoseph Hary W July 14, 2026 07:02 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah kartu pos mungkin tampak sederhana dan hanya menjadi benda usang di masa saat ini.

Namun, di tangan para seniman di Yogyakarta, medium berukuran kecil itu mampu memuat gagasan, emosi, ingatan, hingga cara pandang yang luas tentang dunia. 

Gagasan tersebut dihadirkan dalam pameran Art in Focus yang berlangsung di Kavach Space pada 13 Juli–31 Agustus 2026 sebagai bagian dari momentum Lebaran Seni Yogyakarta.

Nuansa retro terasa ketika memasuki ruang pameran di Kavach Space. 

Ada ratusan lukisan dengan beragam tema menghiasi sebagian ruangan tersebut.

Lukisan di atas kartu pos

Lukisan-lukan itu terlihat unik karena dibuat di atas sebuah kartu pos. 

Salah satu lukisan yang cukup membikin pengunjung bernostalgia adalah visual bagaimana sosok anak kecil terlihat bahagia, di antara mainan robot jadul serta pesawat jadul.

Melalui pameran ini, pengunjung seakan diajak melambat sejenak untuk mengais puing-puing kenangan di masa lampau di tengah dunia yang serba cepat seperti saat ini.

Mengusung tema Sight, Space & Stories, pameran ini mengajak pengunjung memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam melihat dan memaknai dunia. 

Sight merepresentasikan cara individu memandang realitas melalui perspektif masing-masing. 

Space menjadi ruang tempat berbagai perspektif itu hadir, bertemu, dan membangun pengalaman bersama. Sementara Stories merupakan narasi yang lahir dari pengalaman, pengamatan, dan ingatan yang kemudian diwujudkan dalam karya seni.

Berangkat dari gagasan tersebut, Art in Focus diselenggarakan sebagai postcard exhibition yang menghadirkan karya-karya berformat kartu pos. 

Dekat dengan kehidupan sehari-hari

Medium ini dipilih bukan karena keterbatasan ukurannya, melainkan karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari. 

Sejak lama, kartu pos menjadi sarana mengirim kabar, berbagi pengalaman, sekaligus menyimpan kenangan. 

Dalam pameran ini, kartu pos dimaknai kembali sebagai ruang kecil yang mampu membawa gagasan-gagasan besar.

Setiap karya tidak hanya tampil sebagai objek visual, tetapi juga sebagai pesan yang berpindah dari pengalaman seniman kepada pengunjung. 

Melalui skala yang kecil, pengunjung diajak memperlambat langkah, mendekat, dan meluangkan waktu untuk menemukan narasi yang mungkin tersembunyi di balik setiap karya.

Pameran ini menghadirkan sekitar 120 karya dari 70 seniman dari Indonesia maupun luar negeri.

Creative Director Kavach sekaligus Kurator Pameran, Antino Restu, mengatakan pameran ini bagian gerakan yang dibangun Kavach untuk memberi ruang bagi para seniman sekaligus mempertemukan seni dengan gaya hidup.

"Ini sebenarnya proyek dari Kavach. Kami punya movement untuk merepresentasikan teman-teman yang berkarya. Karena itu kami memilih medium postcard agar bisa melibatkan lebih banyak seniman dan menghadirkan pengalaman yang lebih intim di ruang yang menyatu dengan brand kacamata," ujar Antino saat pembukaan pameran, Senin malam (13/7/2026).

Kebebasan merespons ruang

Menurut Antino, tidak ada tema khusus yang dibatasi dalam pameran. Setiap seniman diberi kebebasan merespons ruang melalui karya masing-masing selama tidak mengandung unsur SARA.

Proses kurasi dilakukan melalui mekanisme open call dan undangan kepada sejumlah seniman yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan berbagai brand di bawah Kavach. Antusiasme peserta pun disebut cukup tinggi hingga pendaftaran ditutup masih banyak seniman yang ingin berpartisipasi.

"Kami tidak membatasi tema. Kami ingin memberi ruang kepada seniman untuk menyuarakan apa pun melalui karya mereka. Yang paling menarik justru antusiasmenya sangat besar karena medianya kecil sehingga lebih mudah diikuti banyak seniman," katanya.

Karya yang dipamerkan pun beragam, mulai lukisan, art print, fotografi hingga kolase. Sebagian karya berasal dari seniman luar daerah bahkan luar negeri yang mengirimkan file digital untuk dicetak sesuai spesifikasi yang diminta kurator.

Selain menjadi ruang apresiasi seni, pameran juga menjadi bagian dari identitas Kavach yang selama ini dekat dengan dunia seni rupa melalui brand Vherkudara. "Di toko ini kami ingin ada ruang yang bukan hanya untuk menjual produk, tetapi juga menjadi movement seni. Ke depan sangat mungkin para seniman yang terlibat akan diajak berkolaborasi dalam proyek produk," tambah Antino.

Postcard jadi medium yang kembali diminati

Dosen Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, kurator sekaligus seniman visual, Arsita Pinandita atau Dito menilai pemilihan postcard menjadi sesuatu yang menarik di tengah tren seni anak muda saat ini.

Menurutnya, postcard merupakan medium yang lebih personal dibanding media seni konvensional seperti kanvas atau patung. Di sisi lain, medium tersebut kembali diminati seiring bangkitnya tren budaya analog.

"Postcard itu medium yang sangat intim. Dulu mungkin mulai ditinggalkan, tetapi sekarang ketika tren analog kembali seperti kaset, vinyl, dan kamera analog, postcard juga mulai diangkat lagi oleh anak muda," ujarnya.

Dia menilai karya yang ditampilkan dalam pameran ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga terasa lebih jujur dan mudah dinikmati publik di luar ruang galeri. 

Dito juga melihat kecenderungan seniman muda kini lebih banyak memproduksi karya dalam bentuk art print atau reproduksi berkualitas tinggi dibanding hanya membuat karya tunggal.

"Sekarang yang dibicarakan bukan hanya visualnya, tetapi mediumnya. Art print memungkinkan karya hadir dalam beberapa seri sehingga lebih dekat dengan lifestyle dan lebih mudah dijangkau masyarakat," jelasnya.

Nostalgia masa kecil

Salah satu peserta pameran, Sony Sunday, menghadirkan karya berjudul Need More Sunday yang mengangkat nostalgia masa kecil. 

Dia menggambarkan kehidupan orang dewasa yang terasa membutuhkan lebih banyak hari Minggu dibanding ketika masih kecil, saat akhir pekan hanya diisi menonton kartun tanpa beban.

"Aku merasa sekarang butuh lebih banyak hari Minggu. Waktu kecil rasanya satu hari sudah cukup karena yang dipikirkan cuma kartun dan PR sekolah," katanya.

Karya tersebut menampilkan karakter favorit masa kecil seperti Kamen Rider, Speed Racer hingga Voltes V. 

Awalnya karya dibuat sebagai lukisan minyak berukuran 40 x 60 sentimeter yang telah terjual seharga sekitar Rp12 juta, kemudian direproduksi menjadi postcard melalui digital printing.

Menurut Sony, perkembangan teknologi cetak saat ini membuat reproduksi karya tetap mampu mempertahankan kualitas visual.

"Kalau art print biasanya di kisaran Rp200 ribu sampai Rp500 ribu dan bisa terjual ratusan lembar. Jadi sekarang bukan hanya kolektor besar yang bisa menikmati karya seni," pungkasnya. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.