Halo dan selamat datang di pratinjau Offside untuk semifinal pertama: Prancis melawan Spanyol. Pertandingan ini berlangsung pada hari yang sangat istimewa bagi Prancis, yaitu Hari Bastille.
Hari Bastille dirayakan setiap tanggal 14 Juli untuk memperingati sekelompok warga Paris yang begitu marah karena harus hidup tanpa roti hingga mereka menyerbu penjara Bastille, yang saat itu hanya menampung tujuh tahanan, namun kemudian menjadi simbol utama peradaban Barat.
Setelah itu, rakyat Prancis merayakannya dengan cara khas mereka — anggur, pesta kembang api, dan konvoi di jalanan. Tradisi ini masih bertahan hingga kini, dan terasa sangat tepat bahwa pada hari nasional mereka, Prancis akan menghadapi Spanyol — negara tempat dinasti Bourbon, yang pernah memerintah Prancis, masih bertakhta. Jadi, pada Hari Bastille ini, Prancis akan berhadapan dengan negara yang masih mempertahankan monarki yang dulu mereka gulingkan.
Namun mengalahkan Spanyol mungkin akan lebih sulit dibandingkan menggulingkan para Bourbon.
Waktu Pertandingan
Rabu, 15 Juli, pukul 00.30 WIB
Perjalanan Menuju Semifinal
Prancis tiba di Dallas dengan kepercayaan diri sekelas Napoleon yang menaklukkan Eropa, sangat berbeda dengan performa mereka di Euro 2024 yang sempat goyah. Mereka memenangi semua tiga laga grup dan menyingkirkan setiap lawan di babak gugur dengan dominasi penuh. Swedia (3-0), Paraguay (1-0), dan Maroko (2-0) semuanya tumbang di tangan Les Bleus yang telah mencetak 16 gol dan hanya kebobolan dua kali — tidak satu pun di fase gugur. Mereka mencatat 47 tembakan tepat sasaran, dan satu-satunya keluhan yang mungkin muncul dari pelatih adalah bahwa mereka menciptakan terlalu banyak peluang — seperti Superman yang dianggap punya masalah karena terlalu sering terbang. Hal ini menunjukkan betapa menakutkannya tim Prancis saat ini.
Perjalanan Spanyol lebih tenang. Mereka memulai dengan hasil imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde, lalu menang 4-0 atas Arab Saudi dan 1-0 atas Uruguay. Di babak gugur, mereka menyingkirkan Austria (3-0), Portugal (1-0), dan Belgia (2-1). Total, Spanyol mencetak 11 gol, hanya kebobolan satu, dan membiarkan lawan mencatat tujuh tembakan tepat sasaran dalam enam pertandingan.
Dalam dua kemenangan terakhir mereka, Spanyol banyak bergantung pada performa gemilang melawan Portugal dan Belgia. Prancis tampak seperti kekuatan yang tak terbendung, sementara Spanyol menjadi tembok yang sulit ditembus. Malam ini, salah satunya harus mengalah.
Pantauan Pemain Andalan
Sosok “Sang Diktator” berhadapan dengan “Baby Yoda”. Pemain andalan Prancis ini memperlakukan lawan seperti rezim otoriter memperlakukan pembangkang — dengan penghinaan total. Ia telah mencetak delapan gol dan tiga assist di Piala Dunia ini, dengan total 20 gol sepanjang kariernya di ajang tersebut. Ia kini memburu rekor sepanjang masa milik Messi dan sudah mencetak lebih banyak gol di fase gugur Piala Dunia daripada pemain mana pun.
Meskipun sempat mengalami cedera ringan di pergelangan kaki, kondisinya kini dikabarkan membaik.
Di sisi lain, Yamal baru mencetak satu gol tanpa assist, tetapi sepak bola tidak selalu bisa dijelaskan lewat statistik. Jika hanya melihat angka, mungkin dunia tidak akan tahu betapa istimewanya Paul Scholes dulu. Begitu pula dengan Yamal, yang memberi dampak melalui cara tak terlihat — menarik penjagaan lawan dan membuka ruang bagi rekan setimnya. Ia baru berusia 19 tahun, baru saja merayakan ulang tahunnya pada 13 Juli. Ia menegaskan tidak merasa tertekan, pernyataan khas seorang remaja yang belum mengenal rasa takut.
Perkiraan Susunan Pemain
Prancis: Maignan; Koundé, Upamecano, Saliba, Digne; Tchouaméni, Rabiot; Dembélé, Olise, Doué; Mbappé.
Spanyol: Simón; Porro, Cubarsí, Laporte, Cucurella; Rodri, Fabián, Olmo; Yamal, Oyarzabal, Baena.
Kabar terkini menunjukkan Prancis akan tetap dengan formasi 4-2-3-1, sementara Spanyol bermain dengan pola 4-3-3.
Rencana Pertempuran
Tidak ada tim di dunia yang menguasai bola seperti Spanyol, meski terkadang gaya umpan mereka bisa terlalu idealistis. Rodri sudah kembali ke performa terbaiknya setelah cedera dan akan memimpin lini tengah untuk memastikan Prancis tidak bisa menembus pertahanan Spanyol seperti yang mereka lakukan terhadap tim-tim sebelumnya. Spanyol akan berusaha membuat Mbappé dan Dembélé lebih sering menghadap ke gawang mereka sendiri daripada ke arah gawang Spanyol.
Prancis harus menghindari kesalahan pressing empat pemain seperti yang pernah mereka lakukan saat menghadapi Spanyol sebelumnya, ketika Rabiot dan rekannya di lini tengah kewalahan menghadapi tekanan lawan.
Deschamps tidak akan masalah jika Spanyol mendominasi bola di tengah, tetapi jika Rodri dibiarkan menerima bola tanpa tekanan, pertahanan Prancis akan lebih sibuk daripada di laga mana pun sepanjang turnamen ini. Prancis akan mengandalkan serangan balik cepat karena jika Rodri dan lini belakang Spanyol sempat menata posisi, mereka akan sulit ditembus.
Faktor bangku cadangan juga bisa menjadi penentu laga ini. Spanyol memiliki opsi seperti Merino, Pedri, dan Nico Williams, sementara Prancis punya Rayan Cherki, Barcola, dan Koné.
Satu hal yang sering terlewat adalah bahwa meski serangan Prancis menuai banyak pujian, pertahanan mereka justru semakin solid. Mereka kebobolan dua kali di fase grup, namun tidak sekali pun di babak gugur. Duet Saliba dan Upamecano menjaga ketat di depan Maignan, sementara Koundé dan Digne mampu memilih momen tepat untuk maju. Kembalinya Tchouaméni memberikan perlindungan ekstra terhadap permainan cepat lini tengah Spanyol. Deschamps telah menjadikan Prancis tim yang sulit dikalahkan, dan kini mereka juga punya daya ledak untuk menghancurkan lawan. Spanyol mungkin akan menguasai bola, tetapi mereka masih harus mencari cara untuk menembus pertahanan tangguh ini.
Jejak Sejarah
Spanyol unggul dalam catatan pertemuan dengan 18 kemenangan berbanding 13 milik Prancis, serta tujuh hasil imbang. Namun, Prancis bisa membanggakan diri karena mereka sering menang di momen-momen penting: mengalahkan Spanyol di final Euro 1984, menyingkirkan mereka di Euro 2000, dan menang 3-1 di pertemuan Piala Dunia 2006 ketika banyak yang meragukan Zidane. Spanyol membalas di Euro 2012 sebelum Mbappé memastikan kemenangan Prancis di final Nations League 2021.
Sejak itu, rivalitas kembali berpihak pada Spanyol setelah munculnya bintang muda mereka yang gol indahnya menyingkirkan Prancis di Euro 2024, lalu membantu Spanyol menang 5-4 di semifinal Nations League tahun lalu. Ini adalah musim panas ketiga berturut-turut kedua tim bertemu. Prancis memiliki skuad yang lebih kuat dan sejarah Piala Dunia yang lebih unggul, tetapi Spanyol datang dengan kepercayaan diri karena kemenangan terkini — dan mereka juga punya pemain muda yang tidak mengenal rasa takut.
Fakta dan Statistik
Trivia Non Sepak Bola
Penyerbuan Bastille menandai awal simbolis dari revolusi melawan monarki Bourbon di bawah Louis XVI. Dinasti Bourbon Spanyol berawal dari Raja Felipe V, cucu Louis XIV.
Kedua negara ini menunjukkan dua akhir berbeda dari kisah kerajaan yang sama: Prancis menjadikan kejatuhan kekuasaan Bourbon sebagai hari kebanggaan nasional, sementara Spanyol memulihkan dinasti tersebut dalam bentuk monarki konstitusional.
Obrolan di Meja Makan
Prancis merayakan 14 Juli untuk mengenang kejatuhan Bastille dan tumbangnya kekuasaan Bourbon. Namun, Spanyol yang diperintah Bourbon telah dua kali menyingkirkan mereka di semifinal. Akankah Republik Prancis menuntaskan satu revolusi lagi, atau justru Yamal dan Spanyol yang akan menghentikan Mbappé di gerbang final Piala Dunia?