Pelatih kepala tim nasional Mesir, Hossam Hassan, mengungkapkan pendekatan psikologis unik yang digunakannya saat menghadapi Argentina di Piala Dunia 2026, dengan mengakui bahwa ia sengaja tidak menyebut nama Lionel Messi. Sang pelatih The Pharaohs ingin mencegah para pemainnya merasa terintimidasi oleh aura megabintang yang telah meraih delapan trofi Ballon d'Or tersebut.
Menghindari menyebut nama sang GOAT
Dalam wawasan menarik tentang manajemen tim modern, Hassan menjelaskan bahwa selama persiapan taktis, ia hanya menyebut bintang Inter Miami itu berdasarkan nomor punggungnya. Tujuannya adalah untuk menghilangkan rasa "hormat berlebihan" yang bisa berubah menjadi ketakutan di lapangan saat menghadapi juara dunia bertahan.
“Kata ‘Messi’ bisa menakuti beberapa pesepak bola,” ujar Hassan kepada ONTV dalam sebuah wawancara setelah timnya kembali ke Kairo. “Ketika saya memberikan contoh taktis dalam pembicaraan, jika Messi melakukan sebuah pergerakan, saya sendiri menghindari menyebut namanya. Saya lebih suka mengatakan ‘pemain nomor 10’ atau ‘nomor sekian’, agar rasa hormat atau takut yang berlebihan itu hilang dari pikiran mereka.”
Identitas di atas individu
Hassan menekankan bahwa tujuan utamanya adalah memastikan Mesir tetap mempertahankan identitas taktis mereka sendiri, bukan terobsesi menghentikan satu pemain lawan saja. Dengan meniadakan personalisasi terhadap ancaman terbesar lawan, ia berharap dapat menumbuhkan keyakinan kolektif bahwa The Pharaohs mampu bersaing setara di Atlanta.
Sang pelatih menjelaskan: “Saya berusaha memastikan para pemain memiliki identitas teknis dan taktis yang jelas, agar mereka tidak bergantung pada satu pemain saja. Selain itu, dari sisi psikologis, saya tidak ingin mereka terlalu memperhatikan nama tim lawan atau nama-nama pemainnya. Saya ingin mereka bermain tanpa melihat warna seragam, supaya tidak timbul rasa inferior.”
Kehancuran di menit-menit akhir
Strategi tersebut tampak berjalan sempurna selama lebih dari satu jam, saat Mesir secara mengejutkan unggul 2-0 melalui gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico. Namun, benteng psikologis itu akhirnya runtuh di sepuluh menit terakhir ketika Argentina melakukan kebangkitan khasnya dan menang 3-2, hasil yang membuat kubu Mesir merasa kecewa dan menuding ada faktor ketidakadilan dari kepemimpinan wasit.
Meski menang, malam itu juga menyisakan perasaan campur aduk bagi kapten Argentina. Sebelum kebangkitan terjadi, kiper Mesir Mostafa Shobeir menjadi sorotan setelah berhasil menepis tendangan penalti Messi, yang sejenak membungkam sorakan para pendukung Albiceleste. Namun, “nomor 10” itu akhirnya menemukan ritmenya dan berperan dalam kebangkitan di menit-menit akhir yang memupus harapan Mesir.
Keluhan atas keberpihakan wasit
Hassan tetap bangga atas performa timnya, tetapi ia tidak segan mengkritik kinerja perangkat pertandingan. Pelatih Mesir tersebut menyiratkan bahwa tekanan besar dan reputasi lawan telah memengaruhi keputusan-keputusan yang merugikan timnya, termasuk dianulirnya satu gol dan ditolaknya permintaan penalti.
Beberapa pengamat menilai bahwa kemampuan Argentina untuk bangkit dari situasi sulit adalah ciri khas juara sejati. Namun, Hassan merasa faktor eksternal terlalu dominan untuk diatasi, dengan menyatakan bahwa sang wasit “menimbulkan ketegangan” dan mengganggu fokus para pemainnya dalam laga gugur penuh tekanan tersebut.