TRIBUN-TIMUR.COM - Senyap. Alam Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, perlahan kembali hening.
Para muadzin baru saja menuntaskan doa setelah adzan Subuh. Seruan yang pertama kali menggema melalui mimpi Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khattan kemudian dikokohkan Rasulullah SAW hampir lima belas abad silam kembali membelah pagi Sulawesi. Iqamah segera menyusul.
Pada saat yang hampir bersamaan, 15 ribu lebih kilometer dari Makassar, peluit panjang berbunyi di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat. Di Texas Amerika Serikat masih sore hari.
Kekalahan Pransic 0-2 dari Spanyol diiringi Iqamat Shalat Subuh, Rabu, 15 Juli 2026, di Sulawesi dan Kalimantan.
Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, dan kawan-kawan berjalan meninggalkan lapangan dengan kepala tertunduk.
"Prancis terkunci."
"Strategi Spanyol brilian."
"Pemain-pemain mudanya jenius."
"Pertahanan terbaik turnamen."
"Spanyol mencetak sejarah. Final Piala Dunia kedua setelah 2010."
Begitulah komentator TVRI menutup siaran semifinal pertama Piala Dunia 2026.
Baca juga: Sebelum Kick Off Semifinal Piala Dunia 2026: Feeling, Data, dan Opini Masih Berebut Kebenaran
Baca juga: Geng Makassar Mencari Juara Piala Dunia 2026: Ketika Feeling Menantang Analisis
Di Amerika, pertandingan telah usai. Di Indonesia, hari baru justru dimulai. Namun, seperti biasa, ada satu tempat yang tidak pernah mengenal peluit akhir.
Belum sempat jamaah meninggalkan masjid, telepon genggam mulai berbunyi. Satu demi satu notifikasi masuk. Pertandingan di Arlington telah selesai. Tetapi pertandingan pendapat baru saja dimulai.
Geng Makassar mulai mengulas permainan itu di Grup WhatsApp pada pukul 03.14 wita, sebelum pertandingan benar-benar menemukan ritmenya, Husain Abdullah sudah menulis singkat. "Spanyol." Lalu disusul analisis. "Sarang laba-laba." "Lawan kecepatan Prancis."
Tulisan pendek Husain Abdullah itu laksana tendangan lambung di Grup Geng Makassar.
Tiga kalimat pendek itu sesungguhnya sudah menggambarkan rencana permainan Spanyol. Bukan menyerang membabi buta. Melainkan menebar jaring. Memaksa Prancis bermain sesuai keinginan mereka.
Farid M Ibrahim kemudian menyambung, "Sesuai prediksi ketua. Tiki-taka menguasai ball possession. Tapi Prancis dengan serangan cepatnya mengancam Spanyol."
Namun Husain Abdullah cepat menyela, "Bukan feeling."
Kalimat itu penting. Karena sejak awal diskusi, feeling dan analisis terus dipertentangkan di Geng Makassar.
Pahir Halim menghindari spekulasi. Dia hanya menuls lirih, "Kalah segala-galanya."
Tetapi, di Stadiun AT&T Texas, keduanya mulai bertemu. Feeling yang dimaksud bukan lagi sekadar firasat. Ia lahir setelah mata membaca pergerakan pemain, pola umpan, dan cara kedua tim menguasai ruang.
Beberapa menit kemudian Husain kembali menulis. "Prancis dipaksa mengandalkan serangan balik."
Lalu disusul kalimat yang terdengar seperti vonis. "Mau dikasi pulang ini Prancis."
Farid M Ibrahim tetap bersikukuh, "Nda berlaku mi feeling di tahap ini."
Tetapi sepakbola memang lucu. Semakin pertandingan berjalan, semakin feeling berubah menjadi analisis.
Ketika Spanyol unggul, Aidir Amin Daud mulai menghitung peluang, "Kalau ke final Spanyol, bisa jadi juara dunia."
Anno Suparno bahkan sudah membayangkan partai puncak. "Spanyol-Inggris."
Husain Abdullah mengangguk: "Ideal ini."
Di sela-sela diskusi serius itu, humor tetap hidup. Farid M Ibrahim menggambarkan rangkaian umpan pendek Spanyol dengan bahasa sederhana. "Baku over terus sampai depan kiper."
Husain Abdullah hanya menjawab satu kata. "Rumit."
Sementara Subhan Mappaturung menyahut dengan bahasa Makassar yang mengundang tawa. "Ballasaki pasewa pantara ka gegara feeling."
Begitulah Geng Makassar menikmati sepak bola. Taktik dibahas. Statistik diperdebatkan. Feeling diuji. Tetapi canda tidak pernah hilang.
Karena bagi mereka, sepakbola bukan sekadar sembilan puluh menit mengejar gol. Ia juga ruang persahabatan. Arena bertukar ingatan. Tempat teori dan kelakar duduk semeja hingga azan Subuh memanggil mereka meninggalkan layar televisi menuju masjid.
Pertandingan sepakbola tak pantas dibaca melalui skor semata, tetapi melalui pertarungan cara memandang sepakbola.
Yang sesungguhnya dipertandingkan di Geng Makassar bukan hanya Prancis melawan Spanyol. Yang saling berhadapan justru dua cara membaca sepakbola. Di satu sisi berdiri statistik. Di sisi lain berdiri mata.
Statistik mencatat Prancis melepaskan 14 tembakan, empat mengarah ke gawang, memperoleh tujuh tendangan sudut, bahkan hanya kalah tipis penguasaan bola, 49 berbanding 51 persen. Angka-angka itu seolah mengatakan pertandingan berlangsung seimbang.
Tetapi mata para penikmat bola berkata lain.
"Baru terlihat kekuatan riil Spanyol dan Prancis sebagai satu tim," tulis Husain Abdullah beberapa menit setelah peluit panjang berbunyi.
Ia tidak sedang membaca angka. Ia membaca ruang. Ia membaca posisi. Ia membaca bagaimana setiap pemain Spanyol bergerak tanpa bola, membuka jalur umpan, menutup ruang, lalu memaksa Prancis kehilangan identitas permainannya.
Farid M Ibrahim menyebutnya kemenangan analisis atas feeling.
Noor Korompot melihatnya sebagai ketidakberdayaan Prancis menghadapi pola permainan Spanyol.
Sementara Onasis cukup merangkum semuanya dalam dua kata. "Strategi." "Pelatih."
Percakapan kemudian bergeser. Bukan lagi membahas siapa mencetak gol. Melainkan mengapa gol itu lahir.
Mengapa Mbappe nyaris tak berdaya. Mengapa Ousmane Dembele kehilangan ruang. Mengapa lini tengah Prancis selalu terlambat satu langkah.
Di tengah percakapan itu, Husain Abdullah melontarkan kritik yang menarik kepada dunia penyiaran sepakbola.
Menurutnya, komentator masa kini terlalu bergantung pada statistik yang ditampilkan layar televisi. Jumlah tembakan. Jumlah operan. Persentase penguasaan bola. Jumlah tendangan sudut. Padahal, sepakbola tidak selalu hidup di dalam angka.
"Komentator seperti tidak punya kedalaman melihat sepak bola sebagai sajian pertarungan taktik dan strategi permainan," tulis Husain Abdullah.
Kritik itu segera disambut Andi Suruji. Ia terkenang gaya Edy Sofyan pada masa lalu. Bukan sekadar mengabarkan apa yang terlihat. Tetapi bercerita. Membangun emosi.
Melahirkan istilah-istilah yang kemudian hidup puluhan tahun dalam ingatan penonton: total football, tiki-taka, jogo bonito, hingga hit and rush.
Di situlah sesungguhnya pertandingan kedua berlangsung. Bukan di rumput Stadion AT&T.
Melainkan di ruang percakapan, ketika para penonton berusaha menemukan makna di balik setiap sentuhan bola.
Sebab, bagi penikmat sepak bola, skor 0-2 hanyalah hasil akhir.
Sedangkan yang terus dikenang adalah bagaimana sebuah kemenangan dibangun, bagaimana sebuah kekalahan diciptakan, dan bagaimana sebuah permainan melahirkan cara baru manusia memandang dunia.
Sebenarnya, tanda-tanda pertandingan itu sudah dibaca lebih awal. Penikmat sepak bola, Dr Willy Kumurur, bahkan telah memprediksinya sehari sebelumnya.
Dalam tulisannya di Tribun Timur edisi Selasa, 14 Juli 2026, dokter penggila sepakbola itu menggambarkan semifinal pertama ini sebagai benturan dua peradaban. Di satu sisi, Prancis dengan kekuatan fisik, organisasi pertahanan, dan serangan balik yang mematikan. Di sisi lain, Spanyol dengan penguasaan bola, kreativitas, dan kesabaran membangun serangan.
"Dini hari nanti... akan menjadi panggung pertempuran taktis yang amat sengit," tulis Willy Kumurur. Pilihan katanya menarik. Ia tidak menyebut pertandingan. Ia menyebut pertempuran taktis.
Dan ternyata, yang terjadi di Arlington bukan sekadar adu cepat atau adu kuat. Yang menang adalah tim yang lebih sabar menguasai ruang.
Spanyol tidak hanya menguasai bola. Mereka menguasai ritme pertandingan. Prancis dipaksa berlari mengikuti irama lawan.
Ketika peluit panjang berbunyi, skor 2-0 seakan menjadi penegasan bahwa penguasaan ruang sering kali lebih menentukan daripada ledakan individual.
Diskusi mengalir ke mana-mana. Ada yang membahas tiki-taka. Ada yang menghitung penguasaan bola. Ada yang menyoroti Mbappe yang kehilangan ruang. Ada pula yang mengkritik komentator televisi yang terlalu sibuk membaca statistik.
Di tengah percakapan yang riuh itu, Petta Prof Abustan Cak Bus justru paling hemat kata. "La Roja."
Hanya dua suku kata. Tidak ada penjelasan. Tidak ada statistik. Tidak ada teori.
Tetapi, semua anggota grup paham. Julukan Timnas Spanyol itu sudah cukup mewakili kesimpulannya. Malam itu, La Roja memang lebih matang. Lebih sabar. Lebih rapi. Dan akhirnya lebih pantas melangkah ke final.
Petta Prof Abustan Cak Bus hanya melempar dua kata mengiringi segala analisis pertandigan semifinal pertama Piala Dunia 2026 itu:"La Roja. Cukup.
Kadang-kadang, orang yang paling banyak menonton sepak bola memang tidak perlu banyak bicara. Satu julukan sudah menjadi kesimpulan.(*)