TRIBUNNEWSMAKER.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah konflik di kawasan Timur Tengah memanas dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.
Situasi yang melibatkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tersebut membuat pasar internasional bereaksi keras karena kawasan itu menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dunia.
Meningkatnya ancaman gangguan terhadap aktivitas kapal tanker membuat investor mulai khawatir akan terganggunya pasokan energi, terutama jika konflik terus meluas.
Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas, dengan harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 17 persen dalam waktu singkat dan mencapai level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa eskalasi konflik AS-Iran dapat menghambat distribusi energi dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara.
Selat Hormuz yang berada di antara Iran dan Oman selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak global, sehingga setiap ancaman keamanan di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasar dunia.
Para pelaku ekonomi kini mulai memperhitungkan risiko meningkatnya biaya energi yang dapat memicu kenaikan harga bahan bakar, inflasi, hingga tekanan terhadap perekonomian berbagai negara.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih terlibat dalam perang klaim terkait keamanan kawasan, dengan masing-masing pihak mempertahankan posisi dan kepentingannya.
Ketidakpastian geopolitik ini membuat pasar global berada dalam kondisi waspada, sementara negara-negara pengimpor energi mulai memantau perkembangan konflik secara ketat.
Jika ketegangan terus meningkat dan mengganggu arus minyak melalui Selat Hormuz, dunia berpotensi menghadapi ancaman krisis energi baru yang dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat global.
Baca juga: Donald Trump Umumkan AS Jadi Penjaga Selat Hormuz, Sebut Semua Kargo Bakal Dipungut Tarif 20 Persen
Seperti diketahui, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di kawasan Selat Hormuz.
Meningkatnya ketegangan selama tiga hari berturut-turut membuat pasar mulai khawatir terhadap stabilitas pasokan energi global dan masa depan jalur pelayaran minyak paling penting di dunia tersebut.
Minyak mentah Brent yang menjadi acuan utama perdagangan internasional tercatat naik sekitar 2 persen pada perdagangan Selasa, (14/7/2026).
Kenaikan itu melanjutkan lonjakan sebesar 9,6 persen yang terjadi sehari sebelumnya seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di level 84,91 dolar Amerika Serikat per barel pada pukul 03.30 GMT atau menjadi posisi tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.
Secara keseluruhan, harga Brent kini telah meningkat sekitar 17 persen dibandingkan sebelum pecahnya konflik pada akhir Februari.
Kenaikan tersebut sekaligus menghapus penurunan harga yang sempat terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman perdamaian beberapa waktu lalu.
Harapan pasar terhadap stabilitas kawasan kini kembali memudar setelah operasi militer kedua negara kembali meningkat.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Sahide, menilai konflik di Selat Hormuz memiliki dampak global karena jalur tersebut menjadi lintasan bagi lebih dari 20 persen perdagangan minyak dunia.
Menurutnya, Iran kini memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai instrumen geopolitik untuk menghadapi tekanan politik dan ekonomi dari Amerika Serikat.
"Tidak heran ketika perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat memicu penutupan Selat Hormuz, harga minyak dunia langsung melonjak karena keseimbangan antara pasokan dan permintaan terganggu. Dampaknya dirasakan masyarakat global, termasuk Indonesia, melalui meningkatnya tekanan inflasi," kata Ahmad Sahide kepada Tribunnews.com dari Kantor Tribunnews Solo di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk Persia.
Mengutip Reuters, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa operasi militer terhadap Iran telah memasuki hari ketiga secara berturut-turut.
Washington menyebut serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran internasional dan menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak berukuran besar di kawasan tersebut serta meluncurkan serangan rudal dan pesawat tanpa awak terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi berpotensi meluas ke seluruh kawasan Teluk Persia yang menjadi pusat produksi energi dunia.
Kekhawatiran pasar bukan tanpa alasan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak global serta sebagian besar pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Timur Tengah menuju pasar internasional.
Negara-negara pengimpor energi terbesar seperti China, Jepang, India, Korea Selatan hingga negara-negara Eropa sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi melalui jalur tersebut.
Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan Teluk hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya tekanan inflasi di berbagai negara.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik lebih tinggi apabila konflik terus berlanjut dan mengganggu pasokan fisik minyak dunia.
Menurutnya, harga minyak mentah bahkan dapat menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel apabila pasar menilai risiko kekurangan pasokan semakin besar.
"Skenario harga minyak mencapai 100 dolar per barel sangat mungkin terjadi apabila ancaman terhadap pasokan global semakin nyata," ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berusaha meyakinkan pasar bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk pelayaran internasional.
Departemen Energi AS menyatakan sekitar 8,5 juta barel minyak masih berhasil melewati jalur tersebut setiap hari dengan dukungan pengamanan militer Amerika Serikat.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar mengingat Iran sebelumnya sempat menyatakan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dibatasi sementara hingga situasi keamanan membaik.
Kini dunia internasional menunggu apakah Washington dan Teheran akan kembali memilih jalur diplomasi atau justru melanjutkan eskalasi konflik yang berpotensi memicu krisis energi global baru.
(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com/Namira)