TRIBUNBEKASI.COM- Di tengah harga rumah yang terus naik, biaya hidup semakin mahal, dan masa depan yang sulit diprediksi, muncul fenomena yang banyak dialami generasi muda, yakni doom spending.
Doom spending merupakan kebiasaan membelanjakan uang untuk memperoleh kesenangan sesaat sebagai respons terhadap kecemasan, stres, atau pesimisme terhadap kondisi finansial di masa depan.
Secara sederhana, doom spending adalah perilaku mengeluarkan uang secara impulsif karena merasa target keuangan jangka panjang, seperti membeli rumah atau mencapai kebebasan finansial, semakin sulit diwujudkan.
Akibatnya, sebagian orang memilih menikmati apa yang bisa mereka dapatkan saat ini, mulai dari membeli kopi, makan di restoran, menonton konser, hingga berbelanja secara daring demi mendapatkan rasa bahagia sesaat.
Fenomena ini banyak dirasakan pekerja muda yang menghadapi tekanan ekonomi sekaligus beban pekerjaan.
Sejumlah anak muda mengaku lebih memilih menghabiskan uang untuk pengalaman seperti konser, staycation, atau belanja online karena merasa impian memiliki rumah maupun kondisi finansial yang mapan semakin sulit dicapai. Bagi mereka, pengeluaran tersebut menjadi bentuk self-reward sekaligus pelarian dari stres dikutip dari kompas.com
Perencana keuangan Rista Zwestika menilai doom spending bukan hanya persoalan perilaku boros, melainkan respons emosional terhadap kecemasan akibat tingginya biaya hidup dan ketidakpastian masa depan.
Menurutnya, kebiasaan tersebut memang bisa memberikan kepuasan sesaat, tetapi jika dilakukan terus-menerus berisiko mengganggu kondisi keuangan, termasuk menghambat pembentukan dana darurat dan investasi.
Rista menyarankan masyarakat tetap menyediakan anggaran untuk hiburan sekitar 5 hingga 10 persen dari penghasilan, disertai kebiasaan menunda pembelian impulsif minimal 24 jam agar keputusan belanja lebih terencana.