Mbappe Tak Berkutik, Serangan Prancis Lumpuh, Spanyol ke Final dengan Pertahanan Nyaris Sempurna
Garudea Prabawati July 15, 2026 07:57 AM

TRIBUNNEWS.COM - Spanyol menunjukkan kelasnya sebagai tim  pertahanan terbaik saat menaklukkan Prancis yang menyandang status tim dengan serangan terbaik pada semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Rabu (15/7/2026).

Skor 2-0 yang dicetak oleh penalti Oyarzabal (22') dan Pedro Porro (58') memastikan kemenangan Spanyol atas Prancis untuk tiket final Piala Dunia 2026.

Para pemain Spanyol sukses meredam lini depan Prancis yang bertabur bintang itu sepanjang pertandingan. Mbappe dan kolega tidak dibiarkan oleh Rodri untuk memasuki sepertiga akhir lapangan.

Kapten Prancis itu memiliki ruang yang terbatas, dia tidak melepaskan tembakan tepat sasaran dan peluang di laga ini. 

Sementara Spanyol tampak menjalani pertandingan biasa tanpa tekanan, tim asuhan Luis de la Fuente solid dalam penguasaan bola, umpan antarpemain, hingga peluang gol yang lebih banyak dibandingkan Prancis.

Sebelum pertandingan, dua negara ini menyandang status yang berbeda, Spanyol dengan predikat pertahanan terbaik, dan Prancis dengan tim paling ofensif.

Prancis telah melepaskan 47 tembakan tepat sasaran, terbanyak yang pernah mereka raih di Piala Dunia sejak tahun 1998.

Rata-rata tembakan tepat sasaran 7,8 per pertandingan yang mereka hasilkan adalah yang tertinggi dalam catatan mereka sejak 1966, menurut Opta.

Tim asuhan Didier Deschamps adalah tim yang mencatatkan harapan gol (xG) tertinggi disbanding tim lain di Piala Dunia 2026.

Statistik gila lini depan Prancis memang mengungguli Spanyol, tapi mereka kalah kuat dari tim Matador dalam hal pertahanan.

"Spanyol, apakah mereka masih mengandalkan tiki-taka? Jawabannya iya, tetapi mereka saat ini juga tidak segan untuk bermain lebih vertikal, lebih direct ke depan ketika ada ruang," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

"Hal itu yang berubah dari mereka setelah hancur total di Piala Dunia 2014," sambungnya.

Spanyol hanya menerima xG 0,31 per pertandingan. Itu adalah catatan yang terendah dengan tim Piala Dunia sejak 1966.

Pada pertandingan di Dallas tadi malam, semuanya terbukti. Seperti kata pepatah, tim dengan pertahanan terbaik dapat memenangkan gelar.

Kini, bagi Analyst Opta, tidak ada keraguan untuk memberikan peluang yang lebih besar kepada Spanyol.

Hal itu berdasarkan hasil melawan Prancis. Di babak pertama saja, Spanyol hanya memberikan dua kesempatan menembak bagi Mbappe dan kolega dan hanya menghasilkan 0,04 xG.

Michael Olise yang selama ini berperan sebagai creator serangan Prancis kesulitan menghadapi Rodri di lini tengah.

Olise tidak banyak memberikan dampak di laga ini, kreativitasnya  terjegal dengan solidnya pertahanan Spanyol.

Begitu juga dengan Mbappe yang gagal melakukan satu pun umpan di babak pertama.

Sementara Ousmane Dembele, pemain yang telah menjadi mitra terbaik Mbappe di turnamen ini, juga tidak bisa berbuat banyak.

Dembele tidak berhasil melepaskan satu pun tembakan hingga Waktu tambahan babak kedua pertandingan.

Penampilan Prancis sejatinya meningkat di babak kedua, frekuensi tembakan mereka naik, namun angkanya secara keseluruhan masih rendah daripada yang mereka hasilkan di pertandingan seblumnya.

Prancis tidak hanya minim menciptakan peluang, tetapi juga gagal bersaing dalam hal fisik dan pertarungan-pertarungan kunci, bahkan dalam hal psikologis yang memengaruhi penguasaan dan control bola.

Spanyol melakukan 22 tekel berbanding 14 tekel yang dilakukan Prancis, dan memenangkan 14 tekel berbanding delapan tekel yang dimenangkan Les Bleus.

Spanyol memenangkan 55,9 persen duel dalam laga tersebut, sementara tingkat keberhasilan Prancis sebesar 44,1 persen merupakan yang terendah dalam pertandingan Piala Dunia mereka sejak 1978.

Prancis hanya memenangkan 32 persen dari duel Udara melawan Spanyol, jumlah terendah mereka dalam pertandingan Piala Dunia selama 40 tahun terakhir.

Dalam hal penguasaan bola, kedua tim hamper berimbang, Spanyol memegang 50,9 persen, dan sisanya miliki Prancis.

Angka itu adalah yang terendah bagi Spanyol sejak Piala Dunia 2002 dalam pertandingan Piala Dunia.

Tapi, dalam konteks ini, Spanyol telah menambahkan menu lain dalam permainan mereka, yaitu kekuatan tanpa bola, kekompakan tim secara keseluruhan, dan efisiensi saat memiliki peluang.

Spanyol terpusat di lini tengah, Langkah yang pada akhirnya membuat Prancis kesulitan menembus pertahanan mereka.

Apa yang dilakukan anak asuh Luis de La Fuente saat mengalahkan Prancis adalah penampilan yang mengesankan, cara mereka menetralisir lini depan Prancis yang begitu ofensif sehingga tidak berdaya telah memukau panggung dunia.

Spanyol menang mungkin tidak seperti dulu dengan ciri khas 'tiki taka', sekarang lebih dari itu. Menu tambahan yang dimasukkan Luis de la Fuente ke dalam permainan Spanyol telah menyempurnakan segalanya. Kini tinggal satu Langkah menuju gelar juara.

Perjalanan ini seperti tahun 2010 lalu saat mengangkat trofi emas Piala Dunia, Spanyol adalah tim paling kukuh dalam hal pertahanan, mereka hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen, pencapaian yang sama dengan saat ini.

"Secara taktik, Spanyol benar-benar menguasai dan mencegah Prancis menguasai bola," komentar mantan gelandang Prancis, Patrick Vieira di ITV.

"Spanyol mendominasi permainan dalam setiap aspek," sambungnya.

Mantan pemain Man United, Roy Keane juga memuji penampilan Spanyol yang begitu atraktif saat mengalahkan Prancis.

"Sangat menyenangkan untuk melihat tim-tim bagus bermain. Mereka (Spanyol) bermain dalam kelompok, ada intensitas, ada tujuan dalam permainan, dan itu kebalikan dari Prancis," kata Roy Keane membandingkan dengan Prancis yang lebih dengan sekelompok individu ketika bertahan.
 
Spanyol telah menunjukkan jati diri mereka dengan komitmen kolektif dan konsistensi dari seluruh pemain, pertandingan final melawan pemenang antara Inggris atau Argentina akan sangat menarik dinantikan.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.