Sedekah Laut Roban Lestari di Tengah Modernisasi, Tradisi Nelayan Batang Dirawat lewat Kolaborasi
M Syofri Kurniawan July 15, 2026 08:55 AM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Di tengah pesatnya pembangunan kawasan pesisir dan modernisasi sektor kelautan, masyarakat nelayan Roban Barat, Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, tetap mempertahankan Tradisi Sedekah Laut sebagai warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.

Tradisi tahunan yang kembali digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Roban Barat, menjadi pengingat bahwa identitas masyarakat pesisir tidak hanya dibangun dari aktivitas melaut, tetapi juga dari nilai -nilai kebersamaan dan rasa syukur yang terus dijaga.

Setiap tahun, tradisi yang dilaksanakan pada bulan Legeno dalam penanggalan Jawa tersebut menjadi momen berkumpulnya para nelayan, tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga berbagai pihak yang selama ini mendampingi masyarakat pesisir. 

Baca juga: Pantai Sigandu hingga Curug Ginting, Enam Destinasi Ini Jadi Prioritas Wisata Batang

Prosesi larung sesaji ke laut menjadi simbol doa agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan saat melaut serta hasil tangkapan yang melimpah.

Rangkaian acara diawali dengan pagelaran wayang kulit pada siang hari, dilanjutkan selamatan sedekah bumi, kemudian prosesi larung sesaji. 

Kegiatan ditutup dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan dalang Ki Aditya Sabdo Anindhito dari Kabupaten Pekalongan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang, Teguh Tarmudjo, mengatakan Sedekah Laut bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi memiliki makna spiritual sekaligus menjadi perekat hubungan sosial masyarakat nelayan.

"Hari ini kita melaksanakan Sedekah Laut sebagai bentuk rasa syukur atas aktivitas melaut selama satu tahun terakhir. Harapannya para nelayan selalu diberikan keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah," kata Teguh kepada Tribunjateng, Rabu (15/7/2026). 

Menurutnya, keberlangsungan tradisi seperti ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar tidak tergerus perubahan zaman. 

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga tradisi tetap hidup.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Kedungsegog, Rusbad. 

Dia menilai Sedekah Laut telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu mempererat solidaritas antarwarga.

"Setiap tahun, kegiatan ini selalu mendapat antusiasme masyarakat. Tradisi ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga," kata Rusbad. 

Di sisi lain, penyelenggaraan Sedekah Laut tahun ini juga mendapat dukungan dari PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). 

Dukungan tersebut diberikan untuk membantu pelaksanaan kegiatan budaya yang dinilai memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar.

General Manager Stakeholder Relations PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, mengatakan pelestarian budaya lokal merupakan bagian dari pembangunan sosial yang berjalan berdampingan dengan pengembangan kawasan.

"Tradisi Sedekah Laut mengandung nilai gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan yang perlu terus dijaga. Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat pesisir," ucap Aryamir

Bagi masyarakat Roban Barat, Sedekah Laut bukan hanya agenda tahunan. 

Tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ikatan sosial, menjaga identitas budaya, sekaligus mewariskan nilai-nilai lokal kepada generasi muda agar tetap mengenal akar kehidupan masyarakat nelayan di pesisir Batang. (ito) 

Baca juga: Bupati Batang Sebut Konten Kreator Bukan Cita-cita Rendahan, Ajak Gen Z Jadi Ahli di Bidangnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.