TRIBUNSUMSEL.COM – Setiap tanggal 20 Juli, dunia memperingati Hari Bulan Internasional (International Moon Day).
Peringatan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini wujud mengenang keberhasilan manusia mendarat di Bulan untuk pertama kalinya.
Selain itu, momen yang diperingati Senin 20 Juli 2026 ini juga menjadi simbol kerja sama internasional dalam eksplorasi ruang angkasa yang damai dan berkelanjutan.
Di era modern, ketika berbagai negara kembali berlomba mengirim wahana dan astronot ke Bulan, Hari Bulan Internasional menjadi pengingat bahwa satelit alami Bumi bukan hanya objek penelitian ilmiah, melainkan juga batu loncatan menuju eksplorasi Mars dan wilayah lain di tata surya.
Pada peringatan 20 Juli 2026 ini, penyelenggara global International Moon Day yang berkolaborasi dengan komunitas eksplorasi Bulan mengusung tema "One Moon, One Vision, One Future".
Tema tersebut menekankan pentingnya satu visi bersama dalam menjadikan eksplorasi Bulan sebagai sarana memperkuat kerja sama internasional, inovasi ilmiah, dan masa depan eksplorasi ruang angkasa yang berkelanjutan.
Dikutip dari laman un.org, Hari Bulan Internasional (International Moon Day) diperingati setiap 20 Juli untuk mengenang keberhasilan misi Apollo 11.
Apollo 11 membawa astronaut Neil Armstrong dan Buzz Aldrin mendarat di permukaan Bulan pada 20 Juli 1969, sementara Michael Collins tetap mengorbit Bulan di modul komando.
Momen tersebut menjadi kali pertama manusia menginjakkan kaki di benda langit selain Bumi dan dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sains dan teknologi.
Majelis Umum PBB kemudian menetapkan Hari Bulan Internasional melalui Resolusi 76/76 tentang International Cooperation in the Peaceful Uses of Outer Space pada tahun 2021. Peringatan ini mulai dirayakan setiap tahun sebagai hari internasional resmi PBB.
Selama ribuan tahun, Bulan telah menjadi objek pengamatan manusia. Berbagai peradaban kuno menjadikannya penanda waktu, inspirasi budaya, hingga objek penelitian astronomi.
Perkembangan teleskop pada abad ke-17 membuka pemahaman baru mengenai permukaan Bulan. Kemudian memasuki Era Antariksa pada abad ke-20, berbagai negara mulai mengirimkan wahana tak berawak untuk mempelajari satelit alami Bumi tersebut.
Puncaknya terjadi pada 20 Juli 1969, ketika misi Apollo 11 berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan. Peristiwa bersejarah itu kemudian menjadi dasar dipilihnya tanggal 20 Juli sebagai Hari Bulan Internasional.
Pada tahun 2021, PBB secara resmi mengesahkan peringatan tersebut sebagai momentum untuk mengenang pencapaian masa lalu sekaligus mendorong eksplorasi Bulan secara damai, inklusif, dan berkelanjutan.
Menurut PBB, Hari Bulan Internasional memiliki beberapa tujuan utama, yaitu: mengenang pendaratan pertama manusia di Bulan; mengapresiasi kontribusi seluruh negara dalam eksplorasi Bulan.
Selain itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ilmu pengetahuan antariksa; mendorong pemanfaatan Bulan secara damai dan berkelanjutan serta memperkuat kerja sama internasional dalam eksplorasi ruang angkasa.
Hari Bulan Internasional memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengenang misi Apollo 11.
Peringatan ini menjadi simbol bahwa pencapaian besar umat manusia dapat diwujudkan melalui kolaborasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kerja sama lintas negara.
Bulan juga dipandang sebagai "laboratorium alami" untuk mempelajari asal-usul tata surya, sejarah Bumi, serta teknologi yang kelak dibutuhkan manusia untuk menjelajahi Mars dan planet lainnya.
Selain itu, Hari Bulan Internasional mengingatkan bahwa eksplorasi ruang angkasa harus dilakukan demi kepentingan seluruh umat manusia, bukan untuk konflik maupun perebutan wilayah.
Sejak awal Era Antariksa, PBB telah berupaya memastikan bahwa ruang angkasa dimanfaatkan secara damai.
Pada tahun 1967 mulai berlaku Outer Space Treaty atau Perjanjian Luar Angkasa, yang menjadi dasar hukum internasional bagi eksplorasi ruang angkasa, termasuk Bulan dan benda langit lainnya.
Saat ini, United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) bertugas mempromosikan kerja sama internasional dalam pemanfaatan ruang angkasa untuk kepentingan damai, sekaligus mendukung negara-negara dalam pengembangan teknologi antariksa dan penerapan hukum ruang angkasa internasional.
Eksplorasi Bulan belum berakhir. Justru, banyak badan antariksa dunia menjadikan Bulan sebagai titik awal menuju misi yang lebih besar.
Beberapa rencana yang tengah dikembangkan antara lain:
1. Membangun pangkalan permanen di Bulan
NASA bersama mitra internasional melalui Program Artemis menargetkan pembangunan infrastruktur yang memungkinkan manusia tinggal lebih lama di Bulan untuk melakukan penelitian ilmiah.
2. Eksplorasi kutub selatan Bulan
Wilayah kutub selatan diyakini menyimpan cadangan es air di kawah-kawah yang selalu gelap. Air tersebut berpotensi diolah menjadi air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket.
3. Stasiun luar angkasa di orbit Bulan
Melalui proyek Lunar Gateway, berbagai negara berencana membangun stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan sebagai pusat penelitian dan titik transit menuju misi yang lebih jauh.
4. Misi manusia ke Mars
Salah satu tujuan terbesar eksplorasi antariksa abad ke-21 adalah mengirim manusia ke Mars. Pengalaman hidup dan bekerja di Bulan akan menjadi bekal penting sebelum melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang ke Planet Merah.
5. Penelitian sumber daya luar angkasa
Para ilmuwan juga mempelajari kemungkinan pemanfaatan sumber daya Bulan, seperti regolit (tanah Bulan), logam tertentu, dan es air, untuk mendukung eksplorasi jangka panjang dengan tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan dan hukum internasional.
6. Menjelajahi dunia lain di tata surya
Selain Bulan dan Mars, berbagai misi juga diarahkan ke asteroid, planet kerdil, hingga satelit alami seperti Europa (bulan Jupiter) dan Enceladus (bulan Saturnus), yang diduga memiliki lautan bawah permukaan dan berpotensi menyimpan petunjuk mengenai kehidupan di luar Bumi.
Artemis II Membuka Babak Baru
Salah satu tonggak penting dalam eksplorasi modern adalah keberhasilan Artemis II. Pada April 2026, empat astronaut berhasil menyelesaikan penerbangan berawak mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat. Misi ini menjadi penerbangan manusia terjauh dalam sejarah dan menjadi langkah penting menuju pendaratan manusia berikutnya di permukaan Bulan.
Pada akhirnya, Hari Bulan Internasional bukan hanya mengenang jejak kaki pertama manusia di Bulan pada tahun 1969. Peringatan ini juga menjadi simbol semangat kolaborasi global dalam memanfaatkan ruang angkasa untuk tujuan damai, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan umat manusia.
Dengan tema "One Moon, One Vision, One Future", peringatan tahun 2026 mengajak dunia untuk memandang Bulan bukan sebagai garis akhir perjalanan antariksa, melainkan sebagai gerbang menuju era baru eksplorasi—mulai dari pembangunan pangkalan di Bulan, perjalanan manusia ke Mars, hingga penelitian lebih jauh tentang asal-usul tata surya dan kemungkinan kehidupan di luar Bumi.
Demikian Hari Bulan Internasional Setiap 20 Juli, Misi dan Mengenang Sejarah Orang Pertama Mendarat di Bulan. Semoga bermanfaat. (*)
Baca juga: Sejarah Hari Ular Sedunia 16 Juli, Mengapa Harus Dilestarikan Meski Kadang Mengancam Manusia
Baca juga: 2 Doa Memasuki Bulan Safar, Dibaca Lepas Maghrib Hari Ini dan 18 Amalan yang Baik untuk Dilaksanakan
Baca juga: Sejarah Hari Keterampilan Pemuda Sedunia Diperingati 15 Juli, Pentingnya Skill untuk Masa Depan
Baca juga: Paradoks Ekonomi Indonesia 2026: Ketika Pertumbuhan Tinggi Belum Mampu Menumbuhkan Kepercayaan