Zinedine Zidane Menuju Timnas Prancis, Bisakah Kesuksesannya di Real Madrid Terulang? 
Joko Widiyarso July 15, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Era Didier Deschamps bersama Timnas Prancis resmi berakhir. 

Kekalahan 0-2 dari Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026 memastikan laga perebutan tempat ketiga menjadi pertandingan terakhirnya setelah 14 tahun memimpin Les Bleus.

Penggantinya pun sudah bukan sekadar spekulasi liar. 

Zinedine Zidane dilaporkan telah mencapai kesepakatan verbal dengan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) untuk mengambil alih kursi kepelatihan Les Bleus, menurut laporan sejumlah media besar seperti ESPN dan L'Équipe.

Namun, muncul satu pertanyaan menarik.

Bisakah Zidane mengulang kesuksesannya bersama Les Bleus? 

Rekam jejaknya di Madrid menunjukkan bahwa kekuatan terbesarnya mungkin bukan terletak pada taktik yang rumit, melainkan pada kemampuannya mengelola pemain-pemain bintang.

Lebih Dikenal sebagai Manajer Pemain

Berbeda dengan pelatih seperti Pep Guardiola atau Marcelo Bielsa yang identik dengan filosofi permainan tertentu, Zidane lebih sering dikenal sebagai man manager, pelatih yang piawai menjaga hubungan dengan para pemain.

Pembahasan mengenai dirinya jarang berfokus pada pola build up atau inovasi taktik, melainkan pada kemampuannya menciptakan ruang ganti yang harmonis dan membuat pemain tampil dalam performa terbaik.

Hal itu pernah diungkapkan langsung oleh Gareth Bale.

Menurut mantan pemain Real Madrid tersebut, sesi pembahasan taktik Zidane sebelum pertandingan besar terkadang hanya berlangsung sekitar 15 menit.

Bale menyebut Zidane lebih banyak membangun kepercayaan diri pemain daripada membebani mereka dengan instruksi yang terlalu rumit. 

Baginya, mengelola klub sebesar Real Madrid bukan hanya soal taktik, tetapi juga soal menjaga suasana tim tetap sehat.

Memaksimalkan Skuad yang Sudah Ada

Fakta menarik lainnya, Zidane sebenarnya tidak membangun Real Madrid dari nol. 

Ia mewarisi skuad bertabur bintang yang sebelumnya telah dibentuk oleh Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, hingga Rafael Benitez.

Alih-alih melakukan revolusi besar, Zidane memilih memaksimalkan kualitas pemain yang sudah dimilikinya.

Salah satu contoh paling terkenal adalah cara ia mengelola Cristiano Ronaldo. 

Zidane kerap mengistirahatkan Ronaldo saat menghadapi lawan yang relatif lebih lemah di La Liga agar kondisi fisiknya tetap prima untuk pertandingan Liga Champions.

Strategi rotasi tersebut terbukti efektif dan menjadi salah satu faktor penting di balik keberhasilan Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions secara beruntun pada 2016, 2017, dan 2018, sebuah pencapaian yang belum pernah diulang pelatih lain di era modern.

Belajar dari Banyak Pelatih Sebelum Menangani Madrid

Meski kemudian dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan yang sederhana, Zidane mempersiapkan diri cukup serius sebelum menangani tim utama Real Madrid.

Ia sempat mengunjungi sesi latihan Bayern Munich ketika masih ditangani Pep Guardiola. 

Zidane juga menemui Marcelo Bielsa saat pelatih asal Argentina itu menangani Marseille untuk mempelajari pendekatan kepelatihan yang berbeda.

Selain itu, ia lebih dulu mengasah kemampuannya bersama Real Madrid Castilla, tim lapis kedua Los Blancos. 

Di sana, Zidane banyak berfokus mengembangkan teknik individu sekaligus membangun mentalitas juara pada para pemain muda.

Diakui Langsung oleh Para Pemain

Pendekatan Zidane mendapat banyak pengakuan dari para pemain yang pernah bekerja bersamanya.

Cristiano Ronaldo pernah menyebut Zidane sangat cerdas dalam mengelola skuad, terutama ketika harus menghadapi situasi di mana banyak pemain menginginkan menit bermain yang sama.

Sergio Ramos juga beberapa kali mengatakan bahwa status Zidane sebagai legenda sepak bola membuat para pemain lebih mudah memberikan rasa hormat dan kepercayaan kepadanya.

Tantangan yang Sangat Berbeda di Timnas Prancis

Jika sukses di level klub, tantangan yang menanti Zidane bersama Timnas Prancis akan jauh berbeda.

Saat melatih Real Madrid, ia memiliki waktu hampir setiap hari untuk berlatih bersama pemain, memperbaiki kekurangan, sekaligus membangun hubungan secara bertahap.

Di tim nasional, waktu tersebut jauh lebih terbatas. 

Para pemain biasanya hanya berkumpul beberapa hari sebelum pertandingan internasional berlangsung.

Meski begitu, kemampuan Zidane mengelola pemain bintang justru dinilai sangat relevan dengan kondisi skuad Prancis saat ini yang dihuni nama-nama seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga Michael Olise.

Sama seperti ketika menangani Real Madrid, tantangan terbesarnya kemungkinan bukan sekadar menyusun strategi permainan, melainkan menjaga keharmonisan ruang ganti yang dipenuhi pemain-pemain dengan status dan ambisi besar.

Pekerjaan rumah lain yang menantinya adalah membangun identitas permainan Timnas Prancis dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding saat melatih klub, karena di level internasional ia tidak memiliki keleluasaan untuk merekrut pemain sesuai kebutuhannya.

Mampukah Zidane Mengulang Kesuksesan?

Pengalaman Zidane di Real Madrid menunjukkan bahwa kesuksesannya tidak hanya lahir dari strategi di atas lapangan, tetapi juga dari kemampuannya membangun kepercayaan pemain dan menciptakan suasana tim yang solid.

Kini, tantangan berikutnya adalah membuktikan apakah pendekatan yang sama mampu membawa Timnas Prancis kembali menjadi kekuatan utama sepak bola dunia.

Dengan generasi pemain yang masih dipenuhi talenta kelas dunia, Zidane memiliki modal yang sangat besar. 

Tinggal menunggu apakah sentuhan yang pernah mengantarkannya mendominasi Eropa juga mampu mengantar Les Bleus kembali berjaya di panggung internasional.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.