TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - INACRAFT resmi membuka festival di luar Jakarta dengan memilih Yogyakarta sebagai tuan rumah.
Mengusung tema 'Hamemayu Hayuning Bawana: Kerajinan Budaya untuk Harmoni Dunia', festival yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) pada 15 hingga 19 Juli 2026 ini tidak hanya menjadi etalase produk kerajinan, tetapi juga ruang pertemuan budaya, bisnis, dan kolaborasi internasional.
Pembukaan festival dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X bersama delegasi dari berbagai negara, pelaku industri kreatif, perajin, hingga pelaku UMKM.
Kehadiran tamu mancanegara menjadi penanda bahwa kerajinan Indonesia semakin mendapat perhatian di tingkat global.
Sri Sultan HB X mengatakan kehadiran delegasi luar negeri menunjukkan bahwa kerajinan tidak sekadar memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menjadi bahasa universal yang menghubungkan berbagai bangsa dan budaya.
"Kehadiran delegasi dari luar negeri pada pagi hari ini adalah bukti nyata bahwa kerajinan bukan sekadar produk ekonomi, melainkan bahasa universal yang mampu menembus batas negara dan budaya," ujar Sultan.
Menurutnya, tema 'Hamemayu Hayuning Bawana' dipilih bukan tanpa alasan.
Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya menjaga dan memperindah keharmonisan dunia, nilai yang dinilai sejalan dengan proses lahirnya sebuah karya kerajinan yang dibangun melalui ketelitian, kesabaran, serta penghormatan terhadap material dan tradisi.
Dalam skala yang lebih luas, nilai itu diyakini dapat menjadi fondasi terciptanya hubungan yang harmonis antarbangsa melalui perdagangan sekaligus pertukaran budaya.
Sri Sultan HB Xjuga mengapresiasi konsistensi Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) yang telah menyelenggarakan INACRAFT selama 25 tahun.
Menurutnya, Yogyakarta bangga menjadi bagian dari perjalanan tersebut sekaligus berkomitmen memperkuat posisinya sebagai pusat kerajinan, budaya, dan pariwisata bertaraf internasional.
Ia menilai penyelenggaraan festival sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Beragam produk khas Yogyakarta, mulai dari batik, gerabah, ukiran, hingga kerajinan perak, dinilai memiliki peluang besar untuk semakin dikenal di pasar internasional melalui ajang seperti INACRAFT.
"Kepada seluruh delegasi mancanegara, saya ucapkan selamat datang di Yogyakarta. Semoga kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang transaksi dagang, namun juga pengalaman budaya yang bermakna," katanya.
Baca juga: APGI Jateng Dihubungi Pendaki Gunung Merapi, Tegaskan Ikuti Rekomendasi TNGM dan PVMBG
Sementara itu, Ketua Umum ASEPHI Muchsin Ridjan mengatakan penyelenggaraan INACRAFT Festival menjadi bentuk komitmen organisasi dalam memperkuat daya saing industri kerajinan Indonesia di tengah persaingan global.
"INACRAFT Festival merupakan wujud komitmen ASEPHI dalam mendukung perkembangan industri kerajinan Indonesia agar semakin berdaya saing, inovatif, dan mampu menembus pasar nasional maupun internasional," ujarnya.
Menurut Muchsin, penyelenggaraan tahun ini dirancang lebih kolaboratif dan inklusif dengan melibatkan lebih banyak perajin, UMKM, desainer, komunitas kreatif, hingga buyer dari berbagai negara.
Ia berharap INACRAFT tidak lagi dipandang hanya sebagai ajang pameran, tetapi berkembang menjadi platform bisnis, ruang kolaborasi, sekaligus media promosi budaya Indonesia melalui karya para perajin.
"Tahun ini kami menghadirkan penyelenggaraan yang lebih kolaboratif, lebih inklusif, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi para pelaku UMKM, pengrajin, desainer, komunitas kreatif, hingga buyer dari berbagai negara," katanya.
Selama lima hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati berbagai program, mulai dari pameran ratusan produk kerajinan, workshop bersama para maestro, demonstrasi pembuatan produk tradisional, talkshow industri kreatif, fashion show yang memadukan unsur tradisional dan modern, hingga sesi business networking yang mempertemukan pengrajin dengan calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.
INACRAFT Festival 2026 menghadirkan ratusan peserta hasil kurasi dari berbagai provinsi di Indonesia, dengan produk yang mencakup dekorasi rumah, fesyen, aksesori, tekstil, perhiasan, furnitur, suvenir, hingga berbagai produk kreatif berbasis bahan alami.
Festival ini juga diikuti peserta dari sepuluh negara, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Kamboja, India, Oman, Uzbekistan, Jepang, Inggris, dan Australia.
Kehadiran mereka didukung organisasi kerajinan internasional AHPADA, APCA, dan AGCF yang selama ini menjadi mitra ASEPHI dalam memperluas promosi kerajinan Indonesia ke pasar dunia.
Melalui penyelenggaraan perdana di Yogyakarta, INACRAFT tidak hanya membawa harapan lahirnya transaksi bisnis baru, tetapi juga memperkuat posisi kerajinan sebagai wajah budaya Indonesia yang mampu membangun hubungan lintas negara melalui karya tangan para perajinnya. (*)