TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL – Berprestasi hingga dipercaya membawa nama Indonesia di ajang internasional ternyata belum tentu mempermudah langkah seorang atlet untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri.
Kondisi itulah yang dialami Bunga Sekar Anjani, atlet sepak bola putri asal Kota Tangerang Selatan, Banten.
Remaja berusia 15 tahun itu saat ini tengah berlaga bersama Putri Tangsel City pada turnamen sepak bola putri internasional di Swedia sebagai wakil Indonesia.
Namun, di balik perjuangannya di lapangan hijau, ia harus menerima kenyataan pahit. Namanya dinyatakan tidak lolos dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Negeri Provinsi Banten Tahun 2026.
Wakil Ketua PSSI Kota Tangerang Selatan, Muhamad Iyon, mengungkapkan pihaknya telah berupaya mengawal proses pendaftaran Bunga melalui jalur prestasi ke dua SMA Negeri yang ada di Kota Tangerang Selatan.
Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil, lantaran pihak sekolah menganggap sertifikat prestasi yang dimiliki Bunga tidak tercantum dalam sistem sertifikasi yang dijadikan acuan.
Baca juga: Daftar 5 Pejabat Terkaya 2026 di Pemprov Banten, ASN Paling Tajir yang Lagi Viral Saat Ini
Padahal, kata Iyon, pihaknya telah membawa seluruh dokumen pendukung mulai dari sertifikat prestasi Bunga di tingkat nasional hingga internasional, surat rekomendasi dari KONI, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), serta PSSI Provinsi Banten.
Menurutnya, berkas tersebut semestinya cukup untuk membuktikan status Bunga sebagai atlet berprestasi.
"Sudah bolak-balik kami urus. Semua persyaratan administrasi sudah kami lengkapi, mulai dari surat pengantar KONI, Dispora, hingga rekomendasi dari PSSI Provinsi Banten. Tapi tidak ada respons," kata Iyon kepada TribunBanten.com, Rabu (15/7/2026).
"Saya juga sudah jelaskan bahwa ini atlet binaan PSSI, tapi jawabannya dari pihak sekolah tetap sama, sertifikatnya tidak terdaftar," ujarnya.
Lebih lanjut, Iyon menegaskan bahwa Bunga bukan atlet biasa. Selain mengoleksi berbagai prestasi di tingkat nasional, saat proses SPMB berlangsung ia juga sedang mengikuti turnamen sepak bola putri di Swedia bersama Putri Tangsel City sebagai wakil Indonesia.
"Bahkan kami membawa surat dari penyelenggara yang menerangkan bahwa Bunga berangkat sebagai wakil Indonesia. Sekarang dia masih bertanding di Swedia," katanya.
Adapun demi memastikan pendidikan Bunga tetap berjalan, kata Iyon, keluarga bersama PSSI Kota Tangerang Selatan akhirnya mendaftarkan Bunga ke salah satu SMA swasta.
Meski peluangnya dinilai kecil, PSSI Tangsel masih berharap prestasi yang telah diraih Bunga dapat menjadi bahan pertimbangan sehingga ia dapat melanjutkan pendidikan di SMA negeri.
Baca juga: Festival Cisadane 2026 Digelar 22-26 Juli, Hadirkan Atraksi Budaya, UMKM hingga Musisi Ternama
Hal itu dilakukan agar Bunga tetap bisa fokus bertanding di Swedia, dan membawa hasil terbaik saat pulang ke tanah air.
"Anaknya belum tahu karena masih di Swedia. Kami masih tutup-tutupi. Nanti setelah pulang baru akan kami sampaikan kalau memang belum ada perkembangan," kata Iyon.
"Sebenarnya sih saya miris ya, karena atlet sudah membawa nama baik Indonesia, tetapi untuk masuk sekolah negeri saja sulit. Berarti kita yang di sini yang gagal," ucapnya dengan nada kecewa.
Iyon juga bilang, PSSI Kota Tangerang Selatan berencana mengevaluasi persoalan tersebut secara organisasi dan mengajukan audiensi dengan DPRD Provinsi Banten.
Ia berharap, ke depan tersedia mekanisme yang lebih jelas bagi atlet-atlet berprestasi yang telah mengharumkan nama daerah maupun Indonesia di tingkat nasional dan internasional.
"Jangan ada pembiaran, sekolah-sekolah negeri di Banten ini jangan hanya 'panen tahunan', tapi harus juga melirik atlet," tegasnya.
"Jangan sampai ada kuota (untuk jalur prestasi), tapi isinya tidak jelas. Apalagi ini prestasinya sampai tingkat internasional," pungkasnya.
Namun hingga pukul 14.40 WIB, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.