Fam Trip Pesona Budaya Jerieng: Dari Harumnya Durian Pelangas hingga Debur Ombak Parai
Garudea Prabawati July 15, 2026 04:37 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Tidak semua perjalanan wisata dimulai dari pantai.

Di Bangka Barat, perjalanan justru diawali oleh aroma durian yang menguar dari halaman rumah-rumah warga.

Harum buah yang baru dipetik itu seolah menjadi penunjuk jalan menuju sebuah pengalaman yang tidak dijual di brosur perjalanan. Selama dua hari, 9 hingga 12 Juli 2026, dihadiri oleh biro perjalanan wisata, influencer, dan media.

Biro perjalanan wisata berasal dari Jakarta, Tangerang-Banten, Batam, Palembang diajak mengikuti Fam Trip Pesona Budaya Jerieng.

Bukan sekadar melihat daya tarik wisata. Mereka diajak hidup bersama masyarakat, mencicipi tradisi, merasakan budaya, hingga memahami mengapa Bangka layak dikunjungi lebih dari sekali.

Pelaksanaan kegiatan Familiarization Trip (Famtrip): Explore Bangka Authenticity biro perjalanan wisata, media dan influencer/selebgram tanggal 09 hingga 12 Juli 2026 guna mendukung Pesona Budaya Jerieng 2026 (Taber Laot, Festival Duren dan Sedekah Bumi) yang berlokasi di Desa Rambat, Desa Pelangas dan Desa Air Limau, Kabupaten Bangka Barat.

Kegiatan ini bertujuan untuk memerkenalkan secara langsung daya tarik wisata, budaya lokal, serta produk unggulan daerah, sehingga dapat menjadi bahan pengembangan paket wisata Kepulauan Bangka Belitung yang menarik dan berkelanjutan. 

Agenda hari pertama tanggal 9 Juli, pelaksanaan kegiatan Familiarization Trip (Famtrip): Explore Bangka Authenticity berupa hotel inspection yang bertujuan untuk memerkenalkan fasilitas dan layanan hotel kepada travel agent, mendorong potensi kerja sama paket wisata (penyusunan paket MICE dan menginap) dan meningkatkan peluang promosi dan penjualan produk akomodasi daerah.

Kemudian agenda dilanjutkan Networking Dinner dengan asosiasi pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung, berupa GIPI (Gabungan Industri Pariwisata Indonesia), ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies), ASTINDO (Asosiasi Travel Agent Indonesia), ASATI (Asosiasi Sales Travel Indonesia), IINTOA (Indonesia INBOUND Tour Operators Association).

Kegiatan ini dirancang sebagai wadah strategis untuk membangun jejaring, mendorong peluang kerja sama paket wisata, memerkenalkan destinasi dan produk wisata Kepulauan Bangka Belitung serta membuka peluang transaksi dan business matching kepariwisataan.

Harum Durian Menjadi Salam Pertama dari Pelangas

FAM TRIP EXPLORE - Peserta Fam Trip saat di Desa pelangas, nganggung duren. Bangka Barat membuktikan wisata tak selalu dimulai dari pantai. Lewat Fam Trip Explore Bangka Authenticity, agen perjalanan, media, dan influencer diajak menyelami tradisi Nganggung Durian, berburu cacing wakwak, hingga mengenal budaya Jerieng dan masyarakat adat Mapur sebagai pengalaman wisata autentik yang siap menjadi daya tarik baru Bangka Belitung. (Istimewa) (Tribunnews.com/(Istimewa))

Matahari belum terlalu tinggi ketika iring-iringan kendaraan memasuki Desa Pelangas, Kecamatan Simpangteritip, Bangka Barat.

Di pinggir jalan, masyarakat telah berbaris membawa pikulan bambu. Puluhan bahkan ratusan buah durian bergelantungan di kiri-kanannya.

Sesekali terdengar sapaan hangat kepada tamu yang baru datang.

Durian tidak dibawa menuju pasar.

Hari itu buah-buah terbaik hasil kebun masyarakat justru dibawa menuju balai desa untuk sebuah tradisi yang hanya bisa dijumpai saat musim panen yakni Nganggung Durian.

Pemandangan itu begitu memikat.

Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua.

Para pemuda memikul durian sambil tersenyum. Wisatawan tak berhenti mengangkat kamera, mengabadikan iring-iringan masyarakat yang menjadikan durian sebagai simbol syukur kepada Tuhan.

Begitu sampai di lokasi, suasana berubah menjadi pesta rakyat. Durian dibelah satu per satu. Warna kuning pekat memenuhi setiap ruang buah. Aromanya memenuhi udara.

Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Semua duduk lesehan. Semua menikmati durian dari dulang yang sama. 

Di tengah gelak tawa, percakapan mengalir mengenai nama-nama durian lokal Bangka yang kini mulai dikenal karena rasa legit, tekstur lembut, hingga karakter pahit-manis yang sulit ditemukan di daerah lain.

Acara Nganggung Durian yang dilaksanakan di Masjid Miftahul Jannah Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat, Jumat (10/7/2026) menjadi daya tarik dari banyak pihak.

Tak hanya dari masyarakat sekitar, semarak acara Nganggung itu bahkan mampu menjadi magnet bagi wisatawan dari luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Jika masyarakat Indonesia mengenal budaya ngopi, maka di Pelangas keduanya dipadukan. Namanya Ngupi Duren.

Segelas kopi robusta Bangka disandingkan dengan seulas durian matang. Perpaduan pahit kopi dan manis legit durian ternyata menghadirkan sensasi rasa yang unik.

Di bawah tenda sederhana, agen perjalanan dari Jakarta, Palembang hingga Batam saling berbincang dengan petani durian.

Bukan sekadar mencicipi, mereka mendengar langsung bagaimana masyarakat menjaga pohon durian yang sebagian telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Diskusi berkembang menjadi ide paket wisata. Mulai dari wisata panen durian, edukasi varietas lokal, hingga pengalaman tinggal di desa selama musim durian.

Seperti yang diungkapkan oleh Enka, Wisatawan sekaligus pengelola agen Tour & Travel dari Tangerang yang datang langsung menikmati durian dan berbaur bersama masyarakat setempat.

Meski datang dari jauh, menurutnya, semuanya terbayar dengan sangat memuaskan.

Dirinya sangat mengapresiasi kegiatan Nganggung Durian yang sudah dilestarikan bertahun-tahun tersebut.

“Tujuannya juga baik dan dimeriahkan oleh semua warga yang ada di desa,” ucap Enka.

Apalagi kata dia, durian-durian lokal yang disajikan semua mempunyai rasa yang enak. “Rasanya manis, legit, sangat bagus untuk dikonsumsi, dijual,” tuturnya.

Bahkan menurutnya, durian-durian lokal Bangka Belitung tersebut tidak kalah dengan durian-durian premium dan dapat jadi rekomendasi kepada pecinta durian.

“Enak-enak banget, lewat itu durian montong. Akan kita infokan ke teman-teman yang akan melakukan perjalanan ke Bangka dan harus menikmati durian-durian lokal Pulau Bangka,” ungkapnya.

Senada, rasa kagum dan kesan menyenangkan dari acaranya Nganggung Durian tersebut juga disampaikan oleh Koko Bangka Ngin, influencer ternama Bangka Belitung.

“Jujur ini baru pertama kali saya merasakan, amazing, menakjubkan dan sangat-sangat luar biasa acaranya,” kata dia.

Dirinya memuji koloborasi dan kekompakan dari masyarakat dan pemerintah setempat yang mengembangkan wisata durian ini.

“Karena salah satu penghasil durian terbaik itu di daerah Desa Pelangas ini,” ujarnya.

Potensi durian lokal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung jadi keunggulan tersendiri bagi Bumi Serumpun Sebalai, terkhususnya bagi sektor pariwisata.

Pasalnya, kehadiran varietas durian lokal tersebut dianggap dapat menjadi ajang promosi wisata, khususnya dalam hal agrowisata.

Demikian yang disampaikan oleh Wydia Kemala Sari, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat acara Kontes Durian 2026 tingkat Provinsi Babel di Lapangan Bola Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat, Kamis (9/7/2026).

Dia menyebut, selain acara Kontes Durian ini, akan dilaksanakan juga acara kebudayaan bertajuk Nganggung Durian di Masjid Desa Pelangas pada Jumat (10/7/2026) besok yang terbuka untuk umum. “Jadi kita harapan ini menjadi event pariwisata juga,” kata Wydia saat diwawancarai awak media. 

Dirinya ingin durian dari Bangka Belitung terkenal layaknya durian-durian lain seperti Musang King dari Malaysia sehingga mampu mendatang wisatawan.

“Kita lihat bagaimana terkenalnya durian Musang King dari Malaysia. Orang datang ke Malaysia hanya untuk makan durian Musang King. Kita berharap juga para wisatawan datang ke Provinsi Babel untuk makan durian,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya menargetkan supaya durian Bangka Belitung ini dapat menjadi magnet atau daya tarik untuk mendatangkan wisatawan.

Menurut Wydia, secara pribadi dia menilai bahwa durian Bangka Belitung merupakan yang terbaik.

FAM TRIP EXPLORE - Bangka Barat membuktikan wisata tak selalu dimulai dari pantai. Lewat Fam Trip Explore Bangka Authenticity, agen perjalanan, media, dan influencer diajak menyelami tradisi Nganggung Durian, berburu cacing wakwak, hingga mengenal budaya Jerieng dan masyarakat adat Mapur sebagai pengalaman wisata autentik yang siap menjadi daya tarik baru Bangka Belitung. (Istimewa)
FAM TRIP EXPLORE - Peserta Fam Trip saat di Rumah adat mapur, air abik. Bangka Barat membuktikan wisata tak selalu dimulai dari pantai. Lewat Fam Trip Explore Bangka Authenticity, agen perjalanan, media, dan influencer diajak menyelami tradisi Nganggung Durian, berburu cacing wakwak, hingga mengenal budaya Jerieng dan masyarakat adat Mapur sebagai pengalaman wisata autentik yang siap menjadi daya tarik baru Bangka Belitung. (Istimewa) (Tribunnews.com/(Istimewa))

“Kalau saya pribadi, durian kita (Babel-red) is the best, durian terenak sedunia,” ucapnya.

Dalam agenda ini juga, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bahkan tengah menyiapkan lima pemenang Kontes Durian Babel 2026 untuk diusulkan menjadi varietas unggul nasional.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjadikan durian sebagai identitas baru pariwisata Bangka Belitung.

Total ada sebanyak 52 peserta kontes durian yang dilaksanakan di Lapangan Bola Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat, Kamis (9/7/2026). 

“Nanti ada lima besar (pemenang kontes-red) itu akan kami daftarkan ke Kementan melalui Dirjen Holtikultura untuk kita daftarkan agar ini bisa terdata secara nasional agar kita kembangkan,” kata Kurniawan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Babel sekaligus ketua panitia kontes durian.

Setelah didaftarkan sebagai varietas unggul nasional, pohon indukan dari durian-durian pemenang kontes tersebut akan disurvei untuk menjadi buah indukan.

“Akan kita kembangkan juga pohon indukan itu untuk bisa disebarkan oleh masyarakat yang ingin menanam durian dari pemenang atau nominasi dari kontes durian ini,” jelasnya.

Menyusuri Pantai Mencari Cacing Wakwak

Menjelang sore perjalanan berlanjut menuju pesisir Desa Rambat. Air laut sedang surut. Hamparan pasir berlumpur terbentang luas.

Di kejauhan tampak beberapa ibu membawa ember dan tongkat bambu kecil. Mereka bukan sedang mencari kerang.

Melainkan cacing wakwak, umpan alami yang sangat dikenal para nelayan. Para peserta diajak turun langsung ke lumpur.

Awalnya banyak yang ragu. Namun perlahan rasa penasaran mengalahkan semuanya. Seorang nenek dengan topi caping menunjukkan cara menusukkan lidi kecil ke lubang-lubang mungil di pasir. Tak lama kemudian seekor cacing panjang berwarna kecokelatan berhasil keluar. Sorak kecil terdengar. Satu demi satu peserta mencoba sendiri.

Beberapa kali gagal. Beberapa lainnya justru tertawa karena lumpur memenuhi kaki hingga lutut.

Rombongan pun mencoba langsung cacing wakwak yang telah dimasak, ada yang digoreng kering dan ada pula cacing wakwak yang dijemur terlebih dahulu dan kemudian digoreng sehingga menyerupai tekstur keripik.

FAM TRIP EXPLORE - Bangka Barat membuktikan wisata tak selalu dimulai dari pantai. Lewat Fam Trip Explore Bangka Authenticity, agen perjalanan, media, dan influencer diajak menyelami tradisi Nganggung Durian, berburu cacing wakwak, hingga mengenal budaya Jerieng dan masyarakat adat Mapur sebagai pengalaman wisata autentik yang siap menjadi daya tarik baru Bangka Belitung. (Istimewa)
FAM TRIP EXPLORE - Mencari cacing wak wak di pantai Desa Rambat. Bangka Barat membuktikan wisata tak selalu dimulai dari pantai. Lewat Fam Trip Explore Bangka Authenticity, agen perjalanan, media, dan influencer diajak menyelami tradisi Nganggung Durian, berburu cacing wakwak, hingga mengenal budaya Jerieng dan masyarakat adat Mapur sebagai pengalaman wisata autentik yang siap menjadi daya tarik baru Bangka Belitung. (Istimewa) (Tribunnews.com/(Istimewa))

“Enak ini rasanya, kalau yang kering kayak rasa keripik, udah ada rasa asinnya juga, padahal enggak pakai garam. Kalau yang digoreng basah itu mirip kayak cumi “ kata Enka, seorang agen tour & travel.

Sementara itu, Wendi, Ketua Pokdarwis Jerieng Pesisir Desa Rambat menyebut bahwa cacing wakwak menjadi salah satu panganan khas dari Desa Rambat. “Biasanya masyarakat di sini nyari cacing wakwak ini ketika air laut surut,” jelas Wendi.

Tak hanya untuk konsumsi sendiri, cacing wakwak tersebut juga dijual oleh masyarakat setempat dengan harga sekitar Rp1.000-1.500 per ekor. “Di sini dijualnya enggak per kilo, tapi per ekor. Kalau ada yang mau pesen, biasanya bisa bilang ke kita Pokdarwis dan nanti kita carikan ke masyarakat,” ujarnya.

Hari pertama ditutup di salah satu ikon Bangka Barat. Mercusuar Tanjung Kalian berdiri tegak setinggi puluhan meter menghadap Selat Bangka.

Bangunan putih dengan kepala merah itu telah menjadi saksi lalu lintas kapal selama lebih dari seabad. Langit perlahan berubah jingga.

Angin laut berembus lembut. Beberapa peserta membentangkan spanduk Fam Trip di depan mercusuar. Yang lain memilih duduk menikmati debur ombak.

Dari Wisma Ranggam ke Gebong Memarong

Sabtu pagi dimulai dari Kota Muntok. Bangunan kolonial bercat putih dengan jendela-jendela besar berdiri anggun di tengah kota. Itulah Wisma Ranggam.

Rumah bersejarah yang pernah menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika agresi militer Belanda.

Di halaman depan, peserta mengabadikan foto bersama. Sementara di dalam bangunan, mereka mendengar kisah bagaimana Bangka pernah menjadi bagian penting perjalanan bangsa Indonesia.

Dari sini peserta menyadari bahwa Bangka bukan hanya tentang timah dan pantai. Pulau ini juga menyimpan lembaran sejarah nasional.

Perjalanan berlanjut menuju Desa Wisata Air Limau. Suasana desa sudah ramai.

Warga berkumpul membawa hasil bumi. Ada durian, manggis, rambutan, pisang, umbi-umbian. Semuanya tersusun rapi dalam Festival Nambul Hasil Bumi Jerieng.

Tidak jauh dari panggung utama, ibu-ibu sibuk menyiapkan Bubur Sure, makanan tradisional yang selalu hadir dalam berbagai perayaan masyarakat Jerieng.

Aroma santan dan rempah memenuhi udara. Para tamu diajak mencicipi satu per satu hidangan.

Kepala Desa Air Limau, Mexsi Diansah mengatakan kegiatan ini terselenggara dari kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat dan Dinas Pariwisata Provinsi Bangka Belitung.

“Ini pertama kali kita laksanakan untuk meningkatkan wisatawan bukan hanya dari lokal tetapi juga wisatawan luar Pulau Bangka, tadi  ada yang hadir dari Batam, Jawa, Jakarta, Tanggerang hingga Palembang,” kata Mexsi.

Dirinya berharap, adanya Festival Nambul ini merupakan rasa syukur atas panen hasil bumi yang ada dan ajakg bergotong-royong bersama masyarakat.

Dari Bangka Barat, peserta tour melanjutkan perjalanan kemudian menuju Desa Air Abik, di Utara Bangka.

Di tengah hutan berdiri beberapa rumah panggung beratap rumbia. Inilah Rumah Adat Gebong Memarong, rumah tradisional masyarakat adat Mapur.

Suasananya terasa tenang. Angin berembus pelan di sela-sela dinding bambu.

Seorang perempuan mencoba menampi padi menggunakan tampah anyaman bambu. Butiran padi beterbangan diterpa angin, sementara warga adat tersenyum melihat para tamu belajar melakukan pekerjaan yang telah diwariskan turun-temurun.

Di dalam rumah, tersimpan berbagai perlengkapan hidup masyarakat Mapur. Mulai dari alat berburu, peralatan dapur, hingga perlengkapan ritual adat.

Tak ada kesan dibuat-buat. Berbagai aktivitas budaya juga diperagakan secara langsung. Peserta berkesempatan mencoba menumbuk padi menggunakan alat tradisional hingga menghasilkan beras merah, serta membuat gelang khas sebagai salah satu kerajinan yang menjadi identitas masyarakat adat Mapur.

Perwakilan Kencana Wisata Batam, Putri, mengaku terkesan dengan pengalaman yang diperolehnya selama mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, wisata budaya yang ditawarkan Dusun Aik Abik menghadirkan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di daerah lain.

Ia menilai perpaduan antara tradisi, kuliner, dan aktivitas budaya memiliki daya tarik yang besar untuk dipasarkan kepada wisatawan, khususnya mereka yang ingin menikmati pengalaman wisata berbasis budaya.

"Pengalaman yang kami rasakan sangat berkesan. Wisatawan tidak hanya melihat budaya, tetapi juga bisa ikut merasakan dan mempraktikkannya secara langsung. Ini menjadi nilai tambah yang sangat menarik," ujarnya.

Menutup Perjalanan di Pantai Parai

Sore mulai turun ketika rombongan tiba di Parai Beach Resort & Spa, Sungailiat. Setelah dua hari menjelajah budaya, sejarah, desa wisata, hingga pesisir Bangka Barat, hamparan pasir putih Parai menjadi penutup yang sempurna.

Air laut berwarna biru kehijauan tampak tenang. Batu-batu granit raksasa berdiri kokoh di sepanjang pantai, membentuk lanskap yang selama puluhan tahun menjadi ikon wisata Bangka.

Beberapa peserta memilih berjalan tanpa alas kaki di bibir pantai. Sebagian duduk di atas batu granit menikmati semilir angin.

Yang lain sibuk mengabadikan matahari yang perlahan turun ke ufuk barat.

Sales Marketing Manager Hotel Parai Beach Resort Bangka, Henny mengatakan,menilai pariwisata Bangka Belitung terus menunjukkan perkembangan positif. Dukungan teknologi dan media sosial membuat berbagai destinasi wisata semakin mudah dikenal masyarakat luas.

Menurutnya, kekuatan utama pariwisata Bangka Belitung terletak pada pantai berpasir putih yang halus serta keindahan batu granit alami yang menjadi ciri khas.

Untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, Henny berharap akses transportasi menuju Bangka Belitung semakin mudah dan terjangkau sehingga dapat menarik lebih banyak wisatawan dari luar daerah.

Ia juga mengapresiasi upaya Dinas Pariwisata dalam mempromosikan potensi wisata daerah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha pariwisata, hotel, dan masyarakat perlu terus diperkuat melalui berbagai kegiatan dan event yang melibatkan seluruh stakeholder.

"Kolaborasi yang baik antara Dinas Pariwisata dan pelaku usaha akan memberikan dampak positif bagi kemajuan pariwisata Bangka Belitung. Dengan promosi dan kegiatan yang berkelanjutan, kami optimistis kunjungan wisatawan akan terus meningkat," kata Henny.

Selama ini Bangka Belitung dikenal karena pantainya yang memesona. Namun perjalanan dua hari itu memperlihatkan sisi lain yang tak kalah menarik.

Ada masyarakat yang menjaga tradisi nganggung. Ada petani yang merawat durian warisan leluhur.

Ada nelayan yang mengubah aktivitas mencari cacing wakwak menjadi pengalaman wisata. Ada masyarakat Jerieng yang merawat budaya melalui Festival Nambul.

Ada komunitas adat Mapur yang tetap mempertahankan rumah tradisional mereka di tengah perubahan zaman. Dan pada akhirnya, ada pantai-pantai indah yang menjadi penutup sempurna setiap perjalanan.

Dari harum durian di Pelangas, lumpur pesisir Desa Rambat, sejarah Wisma Ranggam, kearifan masyarakat Mapur, hingga debur ombak Parai, Bangka menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

(tim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.