TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Jumlah pendaftar di sekolah negeri jenjang SMA dan SMK di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.
Di SMKN 2 Kendari, misalnya, dari kuota 720 siswa, jumlah pendaftar hingga penutupan pada 1 Juli 2026 hanya sekitar 298 orang.
Artinya, masih terdapat 422 kuota yang belum terisi.
Kondisi serupa terjadi di SMAN 12 Kendari. Dari kuota 216 siswa, pendaftar baru mencapai 144 orang sehingga masih tersedia 72 kursi.
Sekolah tersebut bahkan masih membuka pendaftaran hingga saat ini.
Baca juga: SMAN 12 Kendari Sulawesi Tenggara Masih Buka Pendaftaran SPMB 2026 Offline, Tersedia 72 Kuota
Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Pendidikan di Kendari, Dr Syahbudin, menilai perkembangan teknologi melalui gawai dan lesunya kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor yang memengaruhi menurunnya partisipasi siswa dalam SPMB.
Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan angka anak yang menunda bahkan putus sekolah.
Kata dia, penggunaan gawai yang tidak terkendali membuat sebagian remaja lebih tertarik pada hal-hal yang serba instan dibanding melanjutkan pendidikan.
“Di era modernisasi sekarang, anak-anak tidak mau bergelut dalam dunia pendidikan karena terjebak hal-hal yang super instan. Sepinya kuota di satuan pendidikan akan berimbas pada perguruan tinggi di masa mendatang,” jelasnya, Rabu (15/7/2026).
Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari ini menyampaikan, sebagian siswa juga memilih menunda sekolah setelah tidak diterima di sekolah favorit.
Baca juga: Cara Melaporkan Kecurangan SPMB 2026 di Ombudsman Sulawesi Tenggara, Terima Satu Aduan
Menurutnya, persaingan dalam SPMB memunculkan tekanan psikologis bagi sebagian calon siswa.
Sehingga, pemerintah daerah perlu mengevaluasi manajemen pendidikan sekaligus melakukan pemerataan mutu sekolah agar anggapan tentang sekolah favorit tidak semakin kuat.
“Anak-anak memiliki obsesi masuk sekolah favorit. Ketika tidak lolos, mereka merasa kecewa dan ada yang memilih menunda sekolah. Padahal semua sekolah memiliki kuota untuk menghindari penumpukan siswa,” tuturnya.
Kemudian, lesunya perekonomian juga berdampak pada kemampuan orang tua membiayai pendidikan anak.
Selain biaya perlengkapan sekolah dan seragam, keluarga juga harus menanggung kebutuhan harian.
Baca juga: Cek Sekolah Masih Buka Kuota SPMB Mulai 9 Juli, Pendaftar SMA dan SMK di Sulawesi Tenggara Kurang
“Kita tidak bisa menyalahkan keadaan orang tua calon siswa. Kehidupan sedang sulit sehingga ada anak yang harus menunda sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Prof Aris Badara, menyebut hasil monitoring dan evaluasi di 17 kabupaten dan kota menunjukkan jumlah penduduk usia 13 hingga 15 tahun mengalami penurunan.
Kondisi itu berdampak pada berkurangnya jumlah pendaftar di sejumlah sekolah, meski sekolah-sekolah favorit tetap mampu memenuhi kuota.
Menurut Aris, penurunan peminat di SMK juga terjadi pada program keahlian bidang keteknikan yang selama ini didominasi siswa laki-laki.
Berdasarkan data kependudukan, jumlah penduduk perempuan pada kelompok usia tersebut lebih besar.
Baca juga: Jadwal & Syarat Daftar Ulang Calon Siswa SMA-SMK di Sulawesi Tenggara Usai Dinyatakan Lulus SPMB
Selain itu, persebaran sekolah yang belum merata turut memengaruhi jumlah pendaftar.
Di beberapa wilayah terdapat sekolah yang lokasinya berdekatan sehingga distribusi calon siswa tidak seimbang.
“Ke depan ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami untuk memetakan kembali posisi sekolah agar distribusi siswa lebih merata,” ujarnya.
Selain itu, sekolah di bawah kementerian lain, seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN), kini juga semakin diminati karena terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Kondisi tersebut ikut memengaruhi jumlah pendaftar di sekolah negeri di bawah naungan Dikbud Sultra.
Baca juga: Cek Pengumuman Hasil SPMB SMA-SMK 2026 di Sulawesi Tenggara, Pendaftar 34.404, 30.434 Kuota Lowong
“Ke depan kami juga akan terus meningkatkan mutu sekolah agar mampu memberikan layanan pendidikan yang lebih baik kepada masyarakat,” jelasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)