TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Deretan foto tentang luka bentang alam menyambut pengunjung begitu memasuki Alternative Coffee & Space, Jalan Mapala Raya, Kecamatan Rappocini, Makassar, Rabu (15/7/2026)
Bingkai-bingkai itu memperlihatkan hutan yang berganti menjadi lubang tambang, kepulan asap dari kawasan industri nikel, pesisir yang berubah warna, hingga wajah-wajah warga yang hidup di tengah kepungan aktivitas pertambangan.
Puluhan karya fotografi dipasang di hampir seluruh sisi ruangan.
Dinding kafe berubah menjadi galeri yang menyimpan kisah tentang kerusakan lingkungan.
Di salah satu sisi, foto kawasan tambang memperlihatkan bukit yang dikeruk hingga menyisakan hamparan tanah merah.
Truk-truk pengangkut ore nikel tampak hilir mudik di antara debu yang mengepul.
Tak jauh dari foto itu, terpajang gambar kepulan asap dari kawasan smelter.
Asap membubung tinggi di belakang rumah-rumah warga, memperlihatkan kontras antara aktivitas industri dan permukiman.
Baca juga: Cerita Eks Buruh Perempuan PT Huadi Bantaeng: Tak Ada Cuti, Kerja Paksa hingga Keguguran
Foto lainnya memperlihatkan kawasan yang sebagian hutannya telah beruba menjadi area tambang.
Warna hijau pepohonan berganti cokelat kemerahan akibat bukaan lahan.
Ada pula potret sungai yang keruh, saluran air yang diduga tercemar, hingga aksi warga yang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas tambang.
Pengunjung tampak berjalan perlahan dari satu karya ke karya lainnya mengamati setiap detail gambar.
Sore itu, obrolan para pengunjung lebih banyak membahas isi foto dibanding menu yang tersaji di meja.
Sesekali terdengar diskusi kecil antarpengunjung.
Mereka saling bertukar pandangan mengenai perubahan bentang alam yang terekam dalam karya-karya tersebut.
Pameran bertajuk "Dari Bahasa Langit ke Luka di Tapak: Melihat Jejak Ekstraksi pada Tanah, Air, dan Tubuh Warga" itu digelar Balang Institute bersama LBH Makassar.
Baca juga: Perda Masyarakat Hukum Adat Mandek, Tanah Leluhur To Cerekang Diserobot Tambang
Dokumentasi yang dipamerkan berasal dari Bantaeng, Sorowako di Luwu Timur, Morowali, Morowali Utara, Wawonii, Torobulu, dan Pulau Obi.
Bagi penyelenggara, pameran tersebut bukan sekadar memamerkan karya fotografi.
Setiap foto dihadirkan sebagai kesaksian visual mengenai perubahan ruang hidup masyarakat di sekitar kawasan pertambangan nikel.
Pegiat Balang Institute, Adam Kurniawan, mengatakan narasi besar mengenai hilirisasi sering kali berbeda dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
"Program andalan pemerintah itu kan hilirisasi nikel. Ada yang menyebutnya transisi energi, ada dekarbonisasi dan berbagai istilah lainnya," kata Adam ditemui di lokasi.
Menurutnya, istilah-istilah tersebut terdengar megah di tingkat kebijakan.
Namun bagi warga yang tinggal di sekitar tambang, persoalan yang dihadapi jauh lebih nyata.
"Itu yang kemudian saya sebut bahasa dari langit. Karena istilah-istilah itu tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari warga," ujarnya
Adam menilai istilah tersebut menutupi berbagai ersoalan yang muncul di lapangan.
Ia menyebut perubahan hutan menjadi tambang, hilangnya lahan pertanian, hingga rusaknya sumber air merupakan realitas yang setiap hari dihadapi masyarakat.
"Kalau di tapak, mau itu namanya hilirisasi, mau percepatan transisi energi, wajahnya adalah perampasan lahan. Itulah yang kemudian bahasa dari langit berubah menjadi luka di tapak," tegasnya.
Ia mengatakan foto-foto yang dipamerkan berusaha memperlihatkan sisi yang jarang muncul dalam pembahasan mengenai investasi maupun industri nikel.
Menurut Adam, publik lebih sering mendengar manfaat ekonomi, sementara dampak terhadap lingkungan dan masyarakat tidak banyak mendapat ruang.
Ali Kamri, petani asal Rante Angin, Luwu Timur membagikan pengalaman hidup masyarakat yang selama puluhan tahun berdampingan dengan industri tambang.
Ia mengatakan keresahan terbesar warga adalah masa depan ruang hidup mereka.
"Tambang ini tidak akan pernah menjawab persoalan masa depan anak cucu," kata Ali.
Menurutnya, masyarakat selama ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Namun perlahan ruang untuk bertani semakin menyempit seiring berkembangnya aktivitas perusahaan.
Ali mengisahkan, orang tuanya dahulu menanam padi di sawah.
Setelah bendungan dibangun pada masa PT Inco, sawah-sawah tersebut tenggelam sehingga warga kehilangan lahan pertanian.
"Setelah dam dibangun, tenggelamlah sawah orang tua kami. Akhirnya mereka masuk ke hutan mencari damar, rotan, dan hasil hutan lainnya untuk bertahan hidup," ujarnya.
Ia mengatakan warga kemudian mencoba bertahan dengan menanam lada.
Namun upaya itu juga tidak berlangsung lama.
Menurut Ali, hujan buatan yang dilakukan perusahaan saat itu berdampak terhadap tanaman lada milik warga.
"PT Inco melakukan hujan buatan. Efeknya lada kami serentak mati. Kami kembali kesulitan mencari makan," katanya.
Selain kehilangan sumber penghidupan, Ali mengaku masyarakat juga dihantui kekhawatiran akan bencana alam akibat perubahan bentang alam yang terus terjadi.
Ia berharap ruang hidup masyarakat tetap dipertahankan agar generasi berikutnya masih memiliki lahan untuk bertani.
Sementara itu, fotografer Iqbal Lubis menjelaskan pameran tersebut merupakan hasil kerja bersama sejumlah fotografer, aktivis lingkungan, dan organisasi advokasi.
Menurutnya, seluruh karya dikumpulkan sebagai kampanye visual mengenai dampak pertambangan.
"Ini motivasi kolektif dari teman-teman aktivis lingkungan dan beberapa lembaga advokasi lingkungan," kata Iqbal.
Ia mengatakan foto-foto tersebut ingin membawa suara masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tambang ke ruang publik.
Menurutnya, dokumentasi visual mampu memperlihatkan situasi yang tidak selalu tergambar dalam angka maupun laporan.
"Kami ingin menggambarkan kondisi riil di tapak. Tapak itu adalah suara masyarakat, suara keanekaragaman hayati, dan suara alam yang dirusak oleh hilirisasi," ujarnya.
Iqbal menjelaskan sebagian besar foto diambil langsung di kawasan konsesi tambang.
Ia mengakui proses pengambilan gambar tidak mudah karena harus memasuki wilayah yang telah dibuka alat berat dan membangun kepercayaan dengan warga setempat.
"Tantangannya bagaimana memasuki wilayah konsesi yang sudah di land clearing oleh alat berat. Tantangan lainnya adalah ketika melihat langsung kondisi di lapangan, kami benar-benar sadar apa yang sedang terjadi," katanya.
Menjelang malam, pengunjung masih memenuhi area pameran.
Sebagian tetap berdiri di depan karya yang menarik perhatian mereka.
Sebagian lain mengikuti diskusi sambil menikmati secangkir kopi. (*)