Untuk Seluruh Pendaki, Mohon Tahan Diri Mendaki Gunung Merapi
Joko Widiyarso July 16, 2026 06:14 AM

BOYOLALI, TRIBUN – Aktivitas pendakian Gunung Merapi masih terjadi meski status Siaga (Level III). Pendakian dilakukan hingga Pasar Bubrah memakai jasa pemandu warga setempat. Namun di media sosial, berseliweran foto aktivitas pendaki yang ternyata hingga puncak Merapi. Padahal, pendakian ditutup sejak Mei 2018 hingga kini.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Heri Wibowo, menyayangkan masih banyak masyarakat yang mengabaikan berbagai imbauan dari pemerintah. Menurutnya, larangan mendekati puncak Merapi telah berkali-kali disampaikan oleh berbagai pihak, mulai dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Raja Yogyakarta, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Ini memang yang kami khawatirkan. Saat ini semakin banyak pendaki ilegal di TNGM yang kategori level 3 siaga, yang membahayakan. Imbauan TN, BPPTKG, Sultan, Kepala BNPB tidak dihiraukan," kata Heri, Rabu (15/7).

Ia mengatakan, BTNGM memilih mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat dibandingkan melakukan tindakan represif. Selama ini, petugas taman nasional telah melakukan komunikasi secara tertutup dengan warga yang berada di sekitar jalur pendakian.

"Pendekatan dengan warga secara tertutup dilakukan kawan-kawan TN," ujarnya.

Minggu ini, pihaknya telah menjadwalkan pembahasan khusus dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali. Pertemuan tersebut ditujukan untuk membahas isu pembukaan jalur pendakian via Selo yang dibuka secara sepihak.

Menurut dia, pertemuan akan mengundang kelompok yang mengajukan permohonan pembukaan jalur, pemerintah desa setempat, pemerintah kecamatan, dan pihak terkait lainnya. "Agenda pertemuan besok (Kamis) jadinya di Kantor Bupati Boyolali. Kami sudah (dapat waktunya)," kata dia.

Heri mengungkapkan, secara kewenangan BTNGM sebenarnya dapat meminta bantuan aparat kepolisian maupun TNI untuk melakukan penjagaan ketat di jalur pendakian.Namun, langkah tersebut dinilai hanya menjadi solusi jangka pendek.

"Kami sebenarnya bisa minta TN, Polisi dan TNI untuk berjaga, tapi itu jangka pendek dan berisiko adanya bentrok atau benturan horizontal, pasti viral lagi," ungkapnya.

Karena itu, BTNGM untuk sementara memilih menahan diri sembari terus melakukan pendekatan kepada masyarakat. Petugas Resor Taman Nasional di Selo juga tetap disiagakan untuk memantau situasi di lapangan.

"Kami sementara menahan diri walaupun teman-teman Resor tetap stay di kantor Resor Selo sambil pendekatan ke warga," jelas Heri.

Di sisi lain, Heri menilai fenomena pendakian Merapi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh masyarakat sekitar, tetapi juga karakter sebagian pendaki yang dinilai mengabaikan risiko keselamatan.

"Ternyata karakter pendaki kita juga enggak rasional, jadi sulit juga untuk melarang naik (mendaki Gunung Merapi)," katanya.

BTNGM kembali mengingatkan masyarakat agar mematuhi rekomendasi otoritas kebencanaan dan tidak melakukan pendakian selama status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) demi menghindari risiko yang dapat membahayakan keselamatan.

Heri menjelaskan jalur pendakian melalui New Selo menuju puncak melewati sejumlah titik yang masuk kawasan rawan bencana, mulai dari Pintu Gerbang, Pos I, Pos II hingga Pasar Bubrah.

Karena itu, aktivitas pendakian dinilai sangat berisiko terhadap keselamatan jiwa. "Penutupan ini dilakukan semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang demi menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," tegasnya.

Dalam melakukan pengawasan, TNGM menghadapi tantangan ganda. Selain harus memantau aktivitas pendakian ilegal, petugas juga masih harus mengawasi praktik pertambangan ilegal di kawasan Taman Nasional.

"Kami itu ada fokus yang terbelah. Yang awalnya terkait pertambangan ilegal, sekarang tambah pendakian ilegal. Kalau untuk patroli, jumlah personel masih sama. Kami harus sangat berhati-hati mempertimbangkan potensi bentrok antara polisi hutan dengan warga lokal. Ini menjadi tantangan tersendiri," ujarnya.

Beri ruang
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, secara langsung meminta para pencinta alam maupun masyarakat yang memiliki hasrat untuk mendaki Gunung Merapi agar menahan ego masing-masing.

Ia pun mengajak publik mengedepankan sikap tepa selira atau tenggang rasa dan saling menghormati, terhadap dinamika alam Merapi yang kini sedang berproses. "Imbauan dari kami, para pendaki, calon pendaki, yang ingin mendaki ke Merapi untuk saat ini, mohon menahan diri dulu, karena Merapi ini sedang erupsi," ujarnya, Rabu (15/7).

Agus mengungkapkan, aktivitas erupsi yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan cara alami bagi Merapi untuk memperbarui sumber daya alamnya. Material vulkanik yang dikeluarkan gunung setinggi 2.910 MDPL tersebut, kelak akan membawa berkah dan manfaat ekonomi bagi warga masyarakat di sekitarnya.

Sehingga, sudah sepatutnya manusia memberi ruang dan waktu bagi Merapi, untuk menyelesaikan proses alamiah tanpa harus diganggu oleh aktivitas pendakian yang berbahaya. "Maka, kita harus tepa selira dengan Merapi. Nanti kalau waktunya sudah aman, kita masuk lagi. Kalau tandanya bahaya, ya kita menahan diri. Itu kan esensi dari hidup harmonis bersama Merapi," urainya.

Secara teknis dan visual, Agus mengingatkan bahwa jalur pendakian menuju puncak Merapi saat ini masuk dalam zona bahaya yang tergolong sangat tinggi. Ancaman yang mengintai para pendaki bukan hanya berwujud guguran awan panas atau wedhus gembel yang mendominasi arah barat daya, melainkan juga potensi letusan eksplosif secara tiba-tiba.

"Selain daerah bahaya awan panas yang ke arah sungai-sungai terutama di barat daya, itu kan juga ada bahaya lontaran akibat letusan eksplosif. Nah, letusan eksplosif itu lontarannya bisa mencapai radius tiga kilometer," tegasnya.

Dengan radius bahaya tersebut, area puncak sudah dipastikan menjadi kawasan yang sangat berisiko fatal jika terdapat aktivitas manusia di sana.

Terkait status penutupan jalur pendakian, ia menegaskan bahwa otoritas penuh terkait regulasi dan pelarangan berada di tangan pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Saat ini, pihak TNGM pun masih terus menggodok solusi terbaik dan memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk pendakian, seperti jalur Selo di Boyolali yang kerap dimanfaatkan oknum pendaki ilegal.

Agus pun berharap para pendaki bisa belajar dari berbagai insiden kecelakaan dan kebencanaan yang terjadi di gunung-gunung api lainnya di wilayah Indonesia.

"Khawatirnya nanti terjadi apa-apa, masyarakat sendiri yang rugi. Sudah banyak contohnya, di gunung-gunung yang lain. Ketidaksabaran itu menimbulkan bencana. Sangat tidak berarti kemanfaatan yang kita kejar, jika dibandingkan dengan risiko bencana yang mengintai," katanya.

Memprihatinkan
Akademisi di bidang pariwisata petualangan, Cahyo Alkantana mengaku prihatin masih adanya pendaki yang nekat mendaki Gunung Merapi hingga puncak. Menurut dia, seorang petualang yang baik adalah mereka yang mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi, bukan emosi atau keinginan semata.

"Fenomena masih adanya pendaki yang nekat mendaki Gunung Merapi hingga ke puncak saat statusnya masih Siaga merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Dalam dunia petualangan, keberanian tidak boleh disamakan dengan mengabaikan risiko," katanya, Rabu (15/7).

Sebagai seorang petualang, ia menekankan jika keselamatan adalah fondasi utama dalam seluruh aktivitas wisata petualangan. Apalagi status Siaga yang ditetapkan oleh otoritas vulkanologi merupakan hasil pemantauan ilmiah terhadap aktivitas gunung api.

Potensi letusan, guguran lava, awan panas, maupun pelepasan gas vulkanik dapat terjadi tanpa memberikan waktu yang cukup untuk evakuasi.

"Oleh karena itu, rekomendasi untuk tidak melakukan pendakian ke zona berbahaya harus dihormati. Prinsip yang kami pegang adalah Safety First, No Compromise. Tidak ada puncak, foto, ataupun konten media sosial yang sebanding dengan keselamatan jiwa," tandasnya.

Ia pun berharap masyarakat memahami dan menaati peraturan terkait aktivitas pendakian Gunung Merapi. Pendaki yang nekat mendaki Gunung Merapi tidak hanya membahayakan diri sendiri, namun juga petugas penyelamat apabila terjadi keadaan darurat. Risiko tersebut akhirnya menjadi beban bersama.

"Saya berharap masyarakat semakin memahami bahwa menaati rekomendasi dari PVMBG, Balai Taman Nasional, maupun instansi terkait bukan berarti mengurangi semangat berpetualang, melainkan menunjukkan kedewasaan dalam berpetualang. Gunung akan tetap ada dan dapat didaki ketika kondisinya sudah dinyatakan aman. Namun, kesempatan kedua bagi sebuah nyawa belum tentu ada," katanya.

Ikuti rekomendasi
Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Jawa Tengah mengakui ada beberapa pendaki yang menghubungi untuk mendampingi mendaki ke Gunung Merapi. Hal itu diungkapkan oleh Dewan Pengawas APGI Jawa Tengah, Dasirun, Rabu (15/7).

Meski begitu, APGI Jateng tetap menyarankan untuk mengikuti rekomendasi dari Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). "Memang ada beberapa pendaki menghubungi kami, tapi kami sarankan untuk mengikuti rekomendasi dari TN Gunung Merapi dan PVMBG," katanya, Rabu (15/7).

Melihat banyaknya fenomena aktivitas pendakian ke Merapi akhir-akhir ini, pihaknya pun mengimbau seluruh anggota APGI Jateng untuk mengedepankan profesionalisme, keselamatan, dan tanggung jawab dalam setiap kegiatan kepemanduan.

Ia menyebut, keselamatan adalah prioritas utama. Setiap pendakian wajib mempertimbangkan kondisi gunung, potensi risiko, dan keamanan seluruh pihak yang terlibat. Para pemandu gunung pun wajib menaati aturan yang berlaku.

"Seluruh kegiatan harus mengikuti regulasi dan ketentuan dari pihak berwenang serta menghormati tata kelola kawasan. Anggota APGI wajib menjaga profesionalisme, integritas dan tanggung jawab sesuai kode etik pemandu gunung," terangnya.

Pihaknya juga mengimbau anggota APGI untuk bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. "Mari bersama menjaga kondusivitas, menghindari perdebatan yang tidak produktif, serta mengedepankan komunikasi yang baik dalam menyikapi perkembangan situasi," imbuhnya. (maw/rif/aka/tribun solo) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.