BANJARMASINPOST.CO.ID - Amblesnya Jalan Veteran di Kelurahan Sungai Lulut, Banjarmasin, tidak hanya mengganggu arus lalu lintas. Peristiwa jtu juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian pedagang di sekitar lokasi.
Sebagaimana Sabriansyah, yang sehari-hari menjadi penjahit masih bingung mencari tempat mengungsi, imbas terdampak jalan ambles.
Toko yang disewanya persis berada di depan jalan yang retak terbelah. Ia pun bergegas mengamankan barang dagangan sebelum jalan ambles semakin parah seperti hari ini, Rabu (15/7).
Sabriansyah menceritakan awal mula keretakan jalan sudah terjadi sejak Senin (13/7) dini hari. Kemudian semakin parah hingga ambles pada Selasa siang.
Ia dan warga sekitar pun panik saat kejadian, dan berhasil menyelamatkan diri. Meski demikian, Sabriansyah masih bingung mencari tempat baru untuk dagangannya.
“Barang-barang, alat jahit menjahit sudah diamankan. Sementara diungsikan di rumah tetangga di seberang,” ujarnya.
Ia pun masih tampak bingung mencari toko baru untuk melanjutkan usahanya, sembari menunggu perbaikan jalan yang ambles.
Sabriansyah sesekali menelepon rekan maupun kerabat untuk mencari kios baru. Meski tempat mencari nafkahnya terganggu, untuk tempat tinggal terbilang aman karena tidak berada di kawasan Sungailulut, tepatnya di Jalan Kelayan B. “Masih belum tahu kemana pindahnya sepertinya masih di area Sungailulut,” ujarnya.
Baca juga: Jadwal Final Spanyol vs Argentina, Jam Tayang Piala Dunia 2026 Siaran TVRI dan Daftar Nobar Kalsel
Ia berharap pemerintah bisa secepatnya membenahi jalan secara lebih baik, agar kejadian demikian tidak terulang kembali.
Asmun, pedagang kelapa parut terpaksa tidak membuka lapaknya karena khawatir kondisi jalan semakin membahayakan. Padahal, seluruh bahan dagangan sudah dipersiapkan sejak pagi untuk berjualan.
“Rencana mau berjualan, cuma ada bencana seperti ini, terpaksa tidak jadi,” ujarnya.
Asmun mengaku sehari sebelumnya ia masih sempat berjualan karena kondisi jalan hanya mengalami retakan dan belum terlalu parah.
“Kalau kemarin masih berjualan. Kondisi jalannya retak, cuma tidak terlalu besar. Baru sekitar jam dua malam tadi retaknya jadi besar,” katanya.
Ia mengaku belum menghitung kerugian akibat tidak bisa berjualan. Beruntung, bahan dagangan yang telah disiapkan masih bisa dijual pada hari berikutnya.
Namun, Asmun mengatakan lapak yang ditempatinya bukan milik pribadi, melainkan disewa dengan biaya sekitar Rp 1,2 juta per bulan.
Bahkan sehari sebelum jalan ambles, ia baru melunasi biaya sewa untuk tiga bulan ke depan. “Semalam sudah bayar tiga bulan, sampai September,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Asmun mulai mempertimbangkan mencari lokasi lain untuk berjualan apabila proses penanganan jalan berlangsung lama.
Ia juga mengungkapkan bahwa tanda-tanda amblesnya jalan sebenarnya sudah terasa sejak dini hari. Sekitar pukul 02.00 Wita, ia merasakan getaran dari badan jalan sebelum akhirnya aspal ambruk. “Sebelum ambruk itu memang ada seperti guncangan,” tuturnya. (banjarmasinpost.co.id/mariana)