BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - ARUS lalu lintas jalan utama yang menghubungkan kawasan Sungailulut menuju Sungaitabuk terjadi hambatan, setelah mengalami ambles. Arus lalu lintas bagi kendaraan roda empat dan selebihnya terputus total.
Berkaitan hal tersebut, Kasat Lantas Polresta Banjarmasin, AKP Embang Pramono mengimbau agar para pengguna jalan dapat mencari jalur alternatif. “Guna mencegah terjadinya penumpukan kendaraan, kami imbau agar pengguna jalan dapat menempuh jalur alternatif,” katanya, Rabu (15/7).
Pantauan di lapangan, petugas menerapkan sistem satu arah secara terbatas di lokasi jalan.
Sebab jalur tersebut hanya bisa dilewati oleh kendaraan dari arah dalam Sungailulut, menuju ke arah dalam Banjarmasin.
“Akses ini pun hanya diperuntukkan secara khusus bagi kendaraan roda dua,” jelas Embang.
Sementara itu, bagi kendaraan roda empat atau lebih yang datang dari arah Jalan Veteran menuju Sungaigardu dipastikan tidak dapat melintas.
Baca juga: Isi Keluhan Pengguna Jalan yang Menghirup Kabut Asap di Wilayah Tanahlaut Kalsel
Jalur alternatif yang banyak digunakan warga adalah Jalan Rahayu. Namun jalur di kompleks perumahan tersebut relatif sempit. Atau bagi yang tinggal di Sungaitabuk bisa juga melewati Jalan Manarap Km 8 tembus ke Gudang Hirang Dalam.
Sementara Dinas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Selatan mempertimbangkan menutup sementara ruas jalan tersebut, untuk mempercepat penanganan badan jalan yang ambles.
Kepala Dinas PUPR Kalsel, M Yasin Toyib mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan Forum Lalu Lintas sebelum memutuskan penutupan akses tersebut. “Kami lagi berkoordinasi dengan teman-teman di Forum Lalu Lintas. Kalau bisa, selama penanganan jalan itu ditutup dulu sementara supaya kami bisa bekerja secara komprehensif dan penuh, tidak terganggu lalu lintas, sekaligus mengurangi risiko kecelakaan,” katanya.
Yasin menjelaskan, penanganan darurat telah dimulai sejak Selasa (14/7) dengan memasang rambu peringatan dan perangkat pengaman di sekitar lokasi. Selain itu, tim dari Bidang Bina Marga bersama konsultan teknis juga telah diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan lapangan.
Hasil pengamatan sementara menunjukkan penurunan badan jalan dipicu gerusan pada sisi sungai yang mengurangi daya dukung tanah di bawah konstruksi jalan.
Untuk penanganan awal, PUPR akan membongkar bagian jalan yang rusak, kemudian memasang cerucuk galam sebagai penguat tanah, dilanjutkan pemasangan geotekstil sebelum badan jalan diuruk kembali secara bertahap.
Pengaspalan baru akan dilakukan setelah kondisi tanah dinyatakan stabil. “Kami tidak bisa langsung mengaspal. Timbunan dipasang bertahap agar penurunannya bisa dipantau. Setelah benar-benar stabil baru dilakukan pengaspalan,” jelasnya.
Menurut Yasin, agar jalan kembali dapat difungsikan untuk lalu lintas, proses pekerjaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga satu bulan.
Untuk jangka panjang, menurutnya, perbaikan permanen tidak cukup hanya memperbaiki badan jalan. Pemerintah juga harus melakukan pembebasan lahan di sisi sungai agar tersedia ruang membangun struktur pengaman.
Menurut Yasin, opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pembangunan dinding penahan tanah (DPT) atau konstruksi pile slab, sehingga badan jalan tidak lagi bergantung pada tanah tepi sungai yang rentan tergerus. “Kalau mau jangka panjang yang bagus memang harus ada pembebasan lahan. Setelah itu baru bisa dibangun siring atau pile slab. Kejadian seperti ini sudah berulang beberapa kali,” katanya. (banjarmasinpost.co.id/muhammad syaiful riki/muhammad rahmadi)