BANJARMASINPOST.CO.ID - TIAP Senin dan Rabu siang, sebuah sepeda motor sederhana memasuki gerbang Rutan Kelas IIB Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan. Di balik helm yang dikenakannya, tersimpan semangat seorang pendidik yang tak pernah padam. Ia adalah KH Nor Muin, pensiunan kepala madrasah di Tala.
Sejak 2023 lelaki low profile ini dipercaya menjadi pengajar dalam Pembinaan Kepribadian TPA Khusus Istiqomah Rutan Kelas IIB Pelaihari.
Peserta program tersebut adalah para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) rutan setempat, yang muslim. Jumlahnya cukup banyak, lebih seratus orang.
Di tempat inilah, ia menjalankan dakwah yang berbeda. Bukan di masjid-masjid besar atau majelis taklim yang dipenuhi masyarakat umum, tapi di balik tembok tinggi rumah tahanan, mendampingi warga binaan yang ingin memperbaiki diri melalui Al-Qur’an.
Dalam program TPA Khusus Istiqomah, KH Nor Muin menjadi pengajar yang memiliki peran paling dominan.
Bersama dua pengajar lainnya, ia bergantian membimbing sekitar 130 warga binaan yang mengikuti pembinaan keagamaan.
Karena jumlah peserta cukup banyak, pembelajaran dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap pertemuan diikuti sekitar 30 warga binaan.
Baca juga: Terdampak Amblesnya Jalan di Sungai Lulut Banjarmasin, Sabriansyah Sementara Mengungsi
Berbeda dengan dua pengajar lainnya yang khusus mengajarkan pembacaan Al-Qur’an, Muin mendapat amanah menangani peserta dari tingkat paling dasar yakni Iqra sekaligus baca tulis Al-Qur’an.
Justru di sinilah tantangan terberat berada. Apalagi masih ada yang sama sekali tidak mengenal huruf hijaiyah. “Kalau membaca huruf latin bisa, tetapi huruf Arab benar-benar belum mengenal,” tuturnya saat diwawancarai, Selasa (14/7).
Pembelajaran berlangsung di Masjid Istiqomah yang berada di lingkungan Rutan Kelas IIB Pelaihari. Satu demi satu huruf hijaiyah diajarkan. Ada yang masih mengeja. Ada yang masih keliru membedakan bentuk huruf. Bahkan ada yang benar-benar memulai dari nol. Namun bagi Muin, tidak ada kata terlambat untuk belajar Al-Qur’an.
Dengan penuh kesabaran, ia mengulang pelajaran hingga murid-muridnya perlahan mampu mengenali huruf, menyambung bacaan, hingga akhirnya membaca Al-Qur’an meski belum sepenuhnya lancar.
Momen yang paling mengharukan baginya adalah ketika melihat seorang warga binaan yang sebelumnya buta huruf hijaiyah akhirnya mampu membaca Al-Qur’an. Meski bacaannya masih terbata-bata, air mata haru dan rasa syukur tak mampu disembunyikan.
Ucapan terima kasih dari para warga binaan menjadi hadiah terbesar bagi dirinya. Usai pembelajaran membaca Al-Qur’an selesai, kegiatan tidak langsung berakhir. Sekitar 10 menit berikutnya diisi dengan kultum dan siraman rohani.
Selama lebih dari tiga tahun mengajar, Muin mengaku menemukan banyak pelajaran hidup.
Sebagian besar muridnya merupakan warga binaan kasus narkotika. Namun di balik status hukum itu, ia melihat pribadi-pribadi yang memiliki keinginan kuat untuk berubah.
“Mereka sangat antusias belajar. Ada yang meminta minyak wangi yang saya pakai, ada yang meminta sarung, bahkan baju koko yang saya kenakan,” paparnya.
Permintaan itu bukan karena nilai bendanya, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan kepada guru yang mereka anggap telah membimbing mereka menemukan kembali jalan menuju Allah SWT.
Muin pun ikhlas memberikannya. Sejauh ini setidaknya tiga lembar sarung dan empat baju kokomya yang ia berikan kepada warga binaan yang menjadi muridnya.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika beberapa warga binaan menyampaikan tekad mereka setelah bebas nanti.
Mereka ingin kembali belajar agama. Mereka ingin terus mengaji. Mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak lagi mengulangi kesalahan yang pernah membawa mereka ke balik jeruji.
(banjarmasinpost.co.id/bl roynalendra nareswara)