Laporan Wartawan Serambi Indonesia | Muhammad Nazar I Pidie
SERAMBINEWS.COM,SIGLI - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan atau Dispersip Kabupaten Pidie, menggandeng MIN 7 Pidie menggelar kegiatan workshop menulis buku, di Aula MIN 7 di Mali, Kecamatan Sakti, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut bagi guru dan murid, yang dikemas dengan inovasi Gerakan Literasi Siswa dan Guru atau GEULIS tahun 2026, yang dibuka Kepala Dispersip Pidie, Turno Junaidi SKM MKM.
Peserta berjumlah 80 orang dari murid kelas IV hingga VI, yang dimulai pukul 08.30 WIB hingga 13.00 WIB.
Dalam sambutannya Kepala MIN 7 Pidie, Ruhamah S.Pd mengatakan bahwa " Kegiatan itu digelar untuk mengajak guru dan murid," kata Kepala MIN 7 Pidie, Ruhamah SPd, antara lain dalam sambutannya, Rabu (15/7/2026).
Menurutnya, pentingnya menulis, karena untuk menumbuhkan budaya menulis di kalangan guru dan pelajar. Sebab, menulis itu untuk keabadian dan meninggalkan rekam jejak.
Ia menjelaskan, kegiatan itu dengan sasaran meningkatkan budaya membaca dan menulis, sekaligus memperkuat literasi dari kalangan madrasah di tengah derasnya arus informasi pada era digital.
" Anak-anak kami memiliki kemampuan untuk menulis apa saja yang mereka bisa lahirkan melalui workdhop ini," kata Ruhamah.
Kepala Dispersip Pidie, Turno Junaidi, menyebutkan, apresiasi kepada MIN 7 Pidie, terhadap tergeraknya dalam program literasi untuk murid.
Sehingga nantinya akan menghasilkan tulisan antologi dari murid dan guru MIN 7 Pidie.
Workshop itu diharapkan menjadi langkah awal lahirnya karya-karya baru dari MIN 7 Pidie dari guru dan murid.
" Semoga akan menyusul dari madrasah dan sekolah lainnya di Kabupaten Pidie," ujarnya.
Dibiasakan Sejak Dini
Mursyidah, SPd MPd, seorang narasumber utama, sekaligus penulis dan pegiat literasi di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, mengungkapkan, membaca dan menulis merupakan dasar keterampilan literasi yang harus dibiasakan sejak dini.
Menurutnya trik menulis, mulai dari membangun niat, percaya diri, ikhlas, hingga konsistensi.
" Tulisan adalah rekam jejak. Bahkan, ketika kita tiada, karya tulis akan tetap abadi. Untuk itu, biasakan membaca, menulis, dan jangan pernah berhenti berkarya,” paparnya.
Untuk diketahui, dalam workshop gerakan literasi ini, murid sepakat menulis cerpen, puisi maupun pantun.
Hasil karya itu akan dibukukan menjadi buku antologi bersama buku ber-ISBN. Antusiasme Guru dan murid tampak begitu tinggi.
Sebagian peserta justru berkesempatan membacakan hasil karyanya secara langsung. Sehingga mendapat apresiasi dari pemateri dan kepala madrasah. (*)