SERAMBINEWS.COM - Harapan untuk melihat Timur Tengah yang lebih tenang tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja disepakati pada 17 Juni 2026 lalu, kini resmi runtuh.
Eskalasi konflik kembali meledak setelah Washington mengumumkan serangkaian serangan udara intensif yang menghantam sejumlah target militer strategis Iran pada Selasa (14/7/2026) dan Rabu (15/7/2026). Serangan ini berpusat di wilayah pesisir dekat Selat Hormuz dan Pulau Tunb Raya.
Dampak dari gempuran ini tidak main-main. Pihak militer Iran mengonfirmasi bahwa salah satu serangan AS menghantam barak militer di Bampour, wilayah tenggara Iran. Insiden ini menewaskan tujuh personel dari Brigade ke-388 dan melukai beberapa prajurit lainnya. Teheran pun langsung merespons dengan janji akan memberikan "tanggapan yang tegas pada waktu yang tepat".
Sempat beredar laporan dari media lokal Iran bahwa serangan tersebut juga menyasar fasilitas penyimpanan gandum di Provinsi Khuzestan bagian barat, namun klaim ini dibantah keras oleh militer AS. Negosiator utama Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya kini memiliki "kebebasan bertindak sepenuhnya" untuk membalas agresi musuh tersebut.
Baca juga: Kode Redeem FF Hari Ini 16 Juli 2026 Terbaru, Buruan Klaim Skin, Bundle hingga Voucher Gratis
Di tengah ketegangan yang memuncak, Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras pada hari Selasa. Ia mengancam bahwa serangan AS akan melipatgandakan kepakan sayapnya bahkan menargetkan infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan jika para pemimpin Iran menolak kembali ke meja perundingan.
Uniknya, Trump enggan memberikan batas waktu yang pasti untuk ultimatumnya tersebut.
“Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka cukup tahu; mereka tahu ceritanya mereka sebaiknya bersikap baik," ujarnya, Rabu, dikutip dari Al Jazeera.
Menanggapi ancaman dari Gedung Putih, Mohammed Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Iran berada di posisi waspada tinggi sembari tetap menyeimbangkan diplomasi dengan aksi militer demi mengejar kepentingan nasionalnya.
"Meskipun Iran tidak pernah menyambut perang, kita harus selalu siap berperang dan berdiri teguh untuk melindungi keamanan dan kepentingan nasional kita,” kata Ghalibaf.
“Kita juga harus menggunakan perangkat diplomasi dan negosiasi untuk mencapai dan memperkuat kepentingan nasional kita," sambungnya.
Baca juga: Satu Unit Mobil Daihatsu Feroza Terbakar, Ini Dugaan Penyebabnya
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis detail operasi militer yang mereka gelar sejak Senin (13/7/2026) malam. Fokus utama serangan ini adalah melumpuhkan lokasi-lokasi militer di sepanjang garis pesisir selatan Iran dalam upaya untuk lebih melemahkan kemampuan negara itu dalam menyerang pelayaran komersial.
"Komando Pusat AS (CENTCOM) menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran pada pukul 22:15 ET pada tanggal 13 Juli," demikian pernyataan resmi CENTCOM, Selasa (14/7/2026), dilansir Anadolu Agency.
Dalam misi yang berlangsung selama lima jam tersebut, pasukan AS menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menghancurkan sistem pertahanan pantai, titik peluncuran rudal dan drone, serta fasilitas maritim Iran. Titik-titik vital di seluruh Iran yang berhasil digempur mencakup wilayah Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
"Lebih dari 50.000 anggota militer AS saat ini ditempatkan di seluruh Timur Tengah. Pasukan Amerika tetap waspada, mematikan, dan siap," lanjut pernyataan tersebut.
Situasi di lapangan kian rumit ketika Trump memutuskan untuk "memperbarui" blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz pada Selasa (14/7/2026) pagi, yang melanggar kesepakatan damai pertengahan April lalu di mana selat tersebut seharusnya dibuka kembali sepenuhnya.
Lebih kontroversial lagi, Trump secara terpisah mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat akan mulai mengenakan biaya bagi kapal-kapal asing untuk jalur aman sebuah langkah yang membalikkan kebijakan AS selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.
Berbicara kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt pada Senin (13/7/2026), Trump menyebut kesepakatan yang dicapai bulan lalu sebenarnya dirancang untuk menguji Iran.
“Kami memberlakukan kembali blokade Iran,” kata Trump di media sosial.
“Semua negara lain akan memiliki hak penggunaan Selat yang adil dan terbuka," jelasnya.
Tak tinggal diam, Iran membalas blokade ini dengan serangan yang menargetkan Bahrain serta dua kapal tanker terkait Uni Emirat Arab yang melintasi Selat Hormuz. Insiden berdarah di jalur laut ini menewaskan satu pelaut dan melukai delapan orang lainnya.
Perebutan kendali atas Selat Hormuz, yang pada masa damai menjadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia, langsung mengguncang pasar global. Akibat ketegangan ini, harga minyak mentah acuan Brent langsung melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan, menembus angka $84 per barel pada perdagangan Selasa pagi.
Kendati angka tersebut masih jauh di bawah rekor hampir $120 yang dicapai pada puncak perang, kenaikan ini tetap mengancam akan membuat biaya kebutuhan di mana-mana menjadi lebih tinggi.
Situasi kian diperparah karena upaya militer Amerika dan Organisasi Maritim Internasional PBB untuk membangun jalur aman melalui selat di sepanjang pantai Oman yang berada di luar kendali Iran terus mengalami kegagalan. Iran tak henti-hentinya menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut dengan alasan bahwa AS telah melanggar kesepakatan perdamaian sementara, yang kemudian dibalas kembali oleh AS dan memicu serangan lanjutan Iran terhadap negara-negara Arab sekutu Washington.
(Serambinews.com/Tribunnews.com)