Bangun 9,6 Kilometer Jalan dan 16 Jembatan, DPUPR Batang Prioritaskan Akses Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi
TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) terus mempercepat pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan pada tahun 2026.
Sebanyak 22 paket pembangunan jalan sepanjang 9.597,83 meter atau sekitar 9,6 kilometer dan 16 unit jembatan menjadi fokus utama untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah sekaligus memperlancar akses masyarakat menuju pusat pendidikan, layanan kesehatan, hingga sentra perekonomian.
Kepala DPUPR Kabupaten Batang, Endro Suryono, mengatakan pembangunan infrastruktur tahun ini tidak hanya berorientasi pada penambahan panjang jalan atau jumlah jembatan yang dibangun, tetapi juga diarahkan pada lokasi-lokasi yang memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
"Kalau bidang jalan, pasti. Berapa jembatan yang akan kita bangun tahun ini dan berapa panjang jalan yang akan kita bangun. Yang jelas kita pastikan banyak yang mendukung akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Itu yang kita utamakan," kata Endro kepada Tribunjateng, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan di Kabupaten Batang.
Jalan yang baik akan memangkas waktu tempuh masyarakat, mempermudah distribusi hasil pertanian maupun usaha kecil, sekaligus meningkatkan akses terhadap berbagai layanan publik.
Karena itu, penentuan lokasi pembangunan dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan manfaat yang dihasilkan, bukan sekadar memperbaiki ruas jalan yang mengalami kerusakan.
Selain membuka akses ekonomi, pembangunan jalan dan jembatan juga diharapkan memberikan kemudahan bagi pelajar menuju sekolah, masyarakat menuju fasilitas kesehatan, hingga mempercepat mobilitas warga di kawasan pedesaan.
Data Rekap Pekerjaan Fisik DPUPR Kabupaten Batang Tahun 2026 menunjukkan, bidang Prasarana Jalan dan Jembatan melaksanakan 22 paket pembangunan jalan dengan total panjang mencapai 9.597,83 meter.
Selain itu, pemerintah juga membangun 16 unit jembatan sebagai penghubung antarwilayah yang selama ini menjadi jalur mobilitas masyarakat.
Tak hanya jalan dan jembatan, DPUPR juga mengerjakan sembilan paket pembangunan drainase sepanjang 2.825,80 meter, lima paket talud dengan panjang 590,50 meter, serta delapan paket trotoar sepanjang 2.150 meter.
Seluruh pekerjaan tersebut menjadi satu kesatuan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dasar di Kabupaten Batang.
Endro menegaskan, peningkatan kualitas pembangunan juga menjadi perhatian utama DPUPR.
Mulai tahun 2026, seluruh proyek konstruksi menggunakan pasir beton atau pasir Muntilan sebagai standar material agar mutu bangunan lebih baik dan memiliki usia layanan lebih panjang.
"Kita sudah sepakat bersama PA dan KPA, semua pekerjaan konstruksi menggunakan pasir Muntilan. Harapan kami ketika membangun di satu titik, umur rencananya bisa mencapai 10 sampai 15 tahun sehingga tidak perlu terus-menerus menganggarkan perbaikan di lokasi yang sama," ujarnya.
Menurutnya, penggunaan material berkualitas merupakan bagian dari strategi efisiensi anggaran jangka panjang.
Infrastruktur yang lebih awet akan mengurangi biaya pemeliharaan sehingga pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk membuka akses pembangunan di wilayah lain yang masih membutuhkan.
Selain meningkatkan kualitas pekerjaan, DPUPR juga melakukan percepatan pelaksanaan proyek agar manfaat pembangunan dapat segera dirasakan masyarakat.
Untuk tahun anggaran 2027, dinas tersebut bahkan menargetkan sekitar 70 persen paket pekerjaan sudah memasuki proses lelang pada Desember 2026 sehingga konstruksi dapat dimulai sejak Januari.
Strategi lelang dini tersebut diharapkan mampu mengurangi keterlambatan proyek sekaligus mempercepat penyerapan anggaran dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sejak awal tahun.
Pembangunan jalan dan jembatan yang dilakukan DPUPR juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan Kabupaten Batang 2025–2029, khususnya misi meningkatkan pemerataan dan interkoneksi infrastruktur hingga ke pelosok desa.
Dengan konektivitas yang semakin baik, pemerintah berharap aktivitas ekonomi masyarakat semakin berkembang, distribusi hasil pertanian lebih lancar, serta akses terhadap pendidikan dan pelayanan kesehatan menjadi semakin mudah.
Endro optimistis pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, jalan dan jembatan bukan sekadar proyek fisik, tetapi menjadi sarana penggerak ekonomi, peningkatan pelayanan publik, sekaligus membuka peluang pembangunan di berbagai wilayah Kabupaten Batang.
"Tujuan akhirnya bukan hanya membangun jalan atau jembatan, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan manfaatnya. Ketika akses pendidikan lebih mudah, pelayanan kesehatan lebih cepat, dan distribusi ekonomi semakin lancar, maka pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat," tutupnya. (Ito)