Inggris tidak memiliki catatan terbaik di Piala Dunia ketika nama Simeone muncul, sehingga kehadiran Giuliano Simeone dalam susunan pemain utama Lionel Scaloni untuk semifinal Piala Dunia hari ini mungkin membuat beberapa pendukung Inggris merasa waswas.
Pada Piala Dunia 1998, Diego Simeone bermain untuk Argentina dalam pertandingan babak kedua melawan Inggris di Saint-Etienne. Inggris kalah lewat adu penalti meskipun saat itu mereka diperkuat oleh salah satu tim terbaik yang pernah mereka miliki dalam beberapa tahun terakhir.
Titik balik menurut banyak penggemar terjadi ketika gelandang Inggris, David Beckham, diusir dari lapangan setelah menendang Simeone. Kejadian itu terjadi empat tahun sebelum Beckham membalas dendam dengan mencetak gol kemenangan melawan Argentina di babak grup Piala Dunia berikutnya.
Beckham dihujat selama berbulan-bulan setelah kartu merah tersebut, yang oleh sebagian besar komentator dinilai sebagai kesalahan dari gelandang muda itu, tetapi juga hasil dari kelihaian dan pengalaman seorang legenda Argentina.
Sifat sinis yang penuh perhitungan itu terbawa hingga ke karier kepelatihan Simeone. Pria berusia 56 tahun itu sempat menangani beberapa klub di Argentina dan menjalani masa singkat sebagai pelatih kepala klub Italia, Catania, sebelum akhirnya memimpin Atletico Madrid sejak tahun 2011 dengan tingkat keberhasilan yang luar biasa.
Winger Argentina, Giuliano Simeone, sebelumnya hanya bermain selama 71 menit di Piala Dunia, yakni dalam pertandingan terakhir fase grup yang sudah tidak menentukan melawan Yordania. Namun, kali ini ia dipercaya untuk tampil sebagai starter di Atlanta.
Pemain berusia 23 tahun itu diharapkan dapat bekerja sama dengan Lionel Messi serta membantu dalam tugas-tugas fisik yang mungkin tidak lagi bisa dilakukan oleh kapten veteran mereka. Namun, bagi para penggemar Inggris yang paling paranoid, pemilihannya bisa saja dianggap sebagai bentuk perang psikologis yang halus.
Giuliano bermain di bawah asuhan Diego di Atletico Madrid, dan meskipun di ruang ganti ia mungkin tidak memanggilnya 'Papa', kenyataannya Diego memang ayah kandungnya.
Diego memiliki tiga putra yang semuanya terjun ke dunia sepak bola, dan Giuliano adalah yang termuda. Giovanni, 31 tahun, bermain untuk Napoli dan sebelumnya membela Fiorentina serta Cagliari, selain juga pernah memperkuat River Plate di mana ia memulai kariernya. Sementara Gianluca, 27 tahun, telah pensiun tahun lalu.
Giuliano, si bungsu dari tiga bersaudara pesepak bola, adalah satu-satunya yang tidak tercatat sebagai pemain senior River Plate. Ia meniti karier dari akademi muda Atletico Madrid setelah meninggalkan klub besar Buenos Aires tersebut.
Giuliano telah tampil sebanyak 65 kali untuk Atletico Madrid di La Liga, semuanya di bawah asuhan pelatih kepala yang sudah lama menjabat, dan yang juga berperan besar dalam perjalanan hidupnya sejak lahir.
Saat Argentina bersiap menghadapi Inggris di Georgia, para pendukung Albiceleste tentu berharap Junior dapat memberikan dampak sebesar yang pernah dilakukan ayahnya 28 tahun lalu.
Namun, Inggris tentu memiliki rencana lain.